by

Oh Petani Kapan Berdaulat, Harga Jagung Sering “Cekik” Lehermu

WartaSulsel Net TAKALAR – Salah satu cita-cita luhur negara kita tercinta Indonesia adalah petani berdaulat atau dengan kata lain hidup di atas kaki sendiri.

Cita-cita mulia ini, boleh jadi hanya sekedar slogan, kalau tak ingin mengatakan sekedar mimpi.Sebab fakta hari ini harga jagung di tingkat petani rasanya “mencekik” kehidupan petani.

Cerita pilu sering menimpa para petani di Replik ini, kala tiba musim panen. Permasalahan yang selalu melilit para petani seakan jadi ritual tahunan bagi para petani.

Mulai dari sering kali kita membaca dan mendengar berita bahwa terjadi kelangkaan pupuk. Padahal pemerintah sudah terlibat dalam pengaturan harga pupuk yakni melalui mekanisme subsidi. Begitu juga soal distribusi pupuk mulai dari pabrik, agen hingga kelompok tani.

Namun semua kebijakan pemerintah ini belum mampu mengurangi atau menekan derita yang bakal muncul saat tiba musim panen.
Seperti kisah sedih para petani jagung di Kec Mapsu, Marbo dan Sandibone Kab.Takalar Sulawesi Selatan(Sulsel)

Hal ini disampaikan salah seorang tokoh masyarakat yang selalu dekat dan peduli dengan kehidupan para petani yakni Haji Bahar Bani(HBB) kepada sejumlah awak media di desa Paddinging Sandrobone Takalar Minggu(20/11/2020).

HBB, yang saat ini sebagai anggota DPRD Takalar Komisi I dari Partai Hanura dan bergabung dengan Fraksi Keadilan Sejatara itu, mengklaim dirinya sebagai sahabat petani.

Menurut lelaki berbadan subur ini, Sahabat HBB, mulai dari Bone, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa hingga Tanah Luwu.

Lanjut HBB, “Persoalan petani hari ini, terlebih petani jagung adalah tidak adanya kepastian harga. Disinilah seharusnya pemerintah hadir untuk kemudian memastikan harga bagi para petani.”

“Saat ini petani dibiarkan bertarung bebas di pasar, padahal semua pihak tahu persis bahwa petani kita selalu berada pada posisi lemah.,” tutur HBB.

Lebih lanjut HBB menegaskan, “Contoh paling kongkrit adalah harga eceran jagung di petani pada musim lalu per-Kg harganya Rp3.900, sekarang anjlok jadi Rp2.600,-

“Perlu diketahui beban produksi pabrik pakan ternak 60% berasal dari jagung, namun harga pakan tidak pernah turun, justru jagung yang harganya anjlok,” tegas HBB.

“Melihat kondisi ini maka sangat nyata bahwa nasib para petani jagung di bawah kendali pabrik pakan ternak. Petani tidak bisa atau belum berdaulat,” tutup HBB.

Terpisah, kelompok tani ‘Paddinging Jaya’ Nurddin Dg Opa kepada awak media di kebunnya Minggu(20/11/2022), mengatakan, “Kami para petani sering dilanda keraguan alias was-was bila tiba musim panen. Karena tidak ada kepastian soal harga.

Dengan demikian, maka kami para para petani berada pada posisi sangat lemah, pungkas Nurddin opa

Sementara itu seorang ibu yang tak ingin namanya disebutkan di desa Paddinging, dengan bahasa Makassar, Minggu(20/11/2022) mengatakan, “Tena mentong kebajikan talasana petania(red.Susah sekali kebaikan hidup petani).

*Petani pasti juja, punna battu bosi lompo’ panra biraleia, siagang battu garina biraleia. Mana Baji biralea, punna hargana naung susah tongi, Kira-kira siapana Pi Baji talasana petaniya,’ ujar ibu yang terlihat lugu itu. (Red, Petani pasti susah bila hujan besar karena pasti rusak jagung begitu juga bila jagung diterpa penyakit. Biar juga hasil panen jagung bagus akan tetapi, tetap ada keraguan siapa tau harganya turun . Jadi kapan baru petani itu bagus hidupnya).

(RUD/M.S)

Comment

Leave a Reply