by

Miris, 23 Tahun Ngos-Ngosan Antara 2 Bibir

Wartasulsel.net || Takalar- Senja di Kota Pariri’si Takalar, Jumat 04 Nopember 2022, jalan-jalan utama kota, terlihat sepi. Mungkin karena rinai hujan baru saja berlalu atau hari sore waktu kepulangan pelajar, Mahasiswa, karyawan, pegawai menghentikan segala aktivitas guna menjemput malam untuk istirahat.

Saya melangkah masuk di sebuah warkop di sudut kota. Nampak dua orang lelaki paruhbaya yang menyeruput kopi seraya berbincang-bincang kecil. Entah apa yang mereka perbincangkan, hanya mereka berdua yang tahu.

Dibagian lain ada dua orang laki-laki dihadapan mereka duduk seorang perempuan yang lagi sibuk mengetik, dan sesekali berhenti untuk kemudian mendengar pembicaraan dua laki-laki dihadapannya.

Setelah mengambil posisi duduk sebelah selatan tidak jauh dari kedua lelaki paru baya itu. Saya pun memesan segelas kopi hitam tanpa gula. Saat menunggu datangnya pesanan kopi hitam dan ubi goreng pun, menulis, bila urusan telah selesai tolong jemput di Warkop. Demikian isi pesan saya ke seorang sahabat yang kurang lebih dua bulan terakhir ini, kami seiring sejalan, bolak balik Makassar- Takalar.

Belum sempat menikmati ubi goreng, bahkan baru seteguk kopi, ada pesan masuk dari seorang teman.

Dia mengawali pesan yang cukup panjang itu dengan frasa, “Belajar pada Senja.”

“Kedatangan senja yang menenggelamkan matahari mengajarkan pada kita, bahwa segala sesuatu tak ada yang abadi. Cobalah jadi malam agar kau tahu rasanya rindu, dan jadilah senja sesekali agar kau tahu artinya menanti. Senja mengajarkan pada kita, bahwa kehidupan tak selalu berjalan dengan cemerlang dan bersinar senja mengajarkan kita bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagian besar hanya bersifat sementara.”

Pesan itu begitu mengintimidasi. Rasa ini semakin terintimidasi, ketika pemilik warkop memutar sebuah tembang milik Ungu. “Andai ku tahu Kapan tiba ajalku.

Ku akan memohon Tuhan, tolong panjangkan umurku Andai ku tahu Kapan tiba masaku, Ku akan memohon Tuhan, jangan Kau ambil nyawaku Aku takut Akan semua dosa-dosaku Aku takut
Dosa yang terus membayangiku …..”

Pertemuan Tak Terduga

Dalam hati bertanya sejak kapan teman yang saya kenal tingkat kesabarannya minus itu mendadak jadi bijak. Dan dari mana Dia belajar bijak. Pertanyaan -pertanyaan itu harusnya tidak muncul dibenaku. Karena kekinian semua orang dengan mudah belajar atau bertanya ke DR Google. Termasuk bagaimana cara mendapatkan uang melalui DR google.

Lamunanku terhenti saat merasakan sentuhan di bahu kanan, seiring dengan itu ada ucapan Assalamualaikum.

Saat saya membalas salam, lelaki berkemeja putih mengulurkan tangan seraya mengatakan “Rupanya pak wartawan sudah lupa pertemuan kita di kepulauan Tanakeke, tepatnya desa Rewataya kurang lebih enam tahun yang lalu.”

Saya jadi ingat perjalanan dua hari dari rencana satu Minggu. Ketika itu saya menemani seorang teman yang ingin menulis tentang Kepulauan Tanakeke dengan segala potensinya.

Sayangnya hingga saat ini saya loskontek dengan teman tersebut, sehingga tidak tau apakah kembali lagi Tanakeke dalam rangka penyelesaian bukunya atau tidak.

Menutupi keraguan,
Saya iseng bertanya, apa masih tugas di pulau? Dalam rangka apa ke darat dan di mana bermalam?

Dengan sedikit tersenyum Husain menjawab, “Rumah ada di sini, kalau di pulau tempat pengabdian sebagai seorang guru(ASN). Kedatangan di darat karena mengikuti kegiatan Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar.

Sebelum kami berbicara lebih jauh, Husain mengajak teman ngobrolnya untuk pindah meja, agar ngobrol bersama, akan tetapi temanya lebih memilih tetap di tempat.

Ada masalah apa yang melilit guru Husain,S.Pd sang kepala SDN 28 Kalukuang yang saya kenal kala itu begitu enerjik.

Kenapa Husain yang karib disapa Daeng Rewa penampakannya begitu kusut. Ada semacam beban pikiran yang Dia pendam. Kalau boleh meminjam penggalan lirik lagu “Titip Rindu Buat Ayah” (Ebiet G Ade)
“Di matamu, masih tersimpan
Selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat Di keningmu
Kau nampak tua dan lelah.”

Daeng Rewa mengisahkan perjalanan panjang pengabdiannya di Kepulauan Tanakeke daerah terluar Takalar. Diapit bibir Laut Flores dan selat Makassar selama 23 tahun.

Husain mulai ditempatkan di Kepulauan Tanakeke pada bulan Nopember 1999 sebagai guru biasa di SDN 28. Tahun 2006 diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah hingga 2018 di SDN 28.

Pindah ke SDN 34 Saranga 2018-2019. Kemudian pindah ke SDN 27 Tompotana sampai sekarang.

Saat ditanya apakah ada tambahan honor atau intensif yang diterima dari Pemkab Takalar.
Pasalnya, tidak semua ASN mau meninggalkan keluarga dan tinggal di pulau. Kalau untuk jangka waktu beberapa bulan atau tahun dapat dipahami, akan tetapi bila berpuluh-puluh tahun. Selain itu bagaimana susahnya isteri Daeng Rewa mengatur gaji, mengingat dua dapur.

Dengan suara datar Rewa mengatakan, Tidak ada intensif. Otomatis hidup dengan gaji. Soal bagaimana bisa menutupi dapur isteri dan anak di darat, sekaligus cukup untuk kebutuhan di pulau. Jawabannya isteri lebih mengetahui, apalagi kondisi sekarang ini, dimana semua harga barang merangkak naik, pasti ekonomi keluarga ngos-ngosan alias terseok-seok.

“Satu hal yang bisa dipastikan adalah isteri saya sangat sabar dan tetap mensuport tugas saya dalam berbagai kondisi,” ucap Rewa.

Saat disinggung sekian lama bertahan tugas di pulau, apakah pernah mengajukan permohonan pindah ke darat. Atau memang tidak pernah memohon pindah atau digeser ke darat

Suami dari Nurhayati yang memiliki empat putra-putri ini, mengatakan, “Sebagai PNS tidak boleh memilih tempat tugas, harus siap ditempatkan di mana saja. Sekalipun demikian sebagai suami dan sebagai seorang bapak tentu berkeinginan agar tiap saat dekat dengan keluarga. Soal permohonan untuk pindah, tugas ke darat, saya tidak ingat lagi sudah berapa banyak ajukan permohonan

Rewa yang pernah menjabat ketua K3S(Kelompok Kerja Kepala Sekolah) selama dua periode berturut-turut itu, menambahkan, Andai saja perjalanan waktu 23 tahun sudah bisa jadi salah satu ukuran pengabdian maka, kalau boleh berharap sebelum masuk usia pensiun digeser tugas di darat. Oleh para pemangku kepentingan.

“Jujur saja kalau berbicara kejenuhan maka pasti setiap orang normal pasti mengalami kejenuhan. Sehingga saya berharap untuk digeser ke darat,” tutup Rewa.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) GTK Guru dan Tenaga Kependidikan(GTK) Dinas Pendidikan Takalar, Sarianto Romo, melalui telpon Minggu(6/11/2022) mengaku selama menjadi Kabid GTK tidak pernah menerima permohonan pindah dari kepulauan Tanakeke.

Sarianto yang karib disapa Romo itu, balik bertanya. Siapa nama guru tersebut, dan apakah Dia berasal dari pulau?
Setelah saya sebutkan nama dan bukan berasal dari pulau.

Sebelum mengakhiri pembicaraan Romo mengatakan, “Saya sudah kenal guru tersebut, dan tolong sampaikan kepada yang bersangkutan agar menghadap ke bidang GTK.

(RUD/M.S)