by

Gallarrang Tonasa: Takalar dan Masa Depannya

Wartasulsel.net,_|| Takalar, 7/11/2022, Momentum hari pahlawan tahun ini, ada baiknya barangkali kita mengkaji protret Takalar dalam satu dekade, sekaligus merelaksasi imajinasi kita, sudah sejauhmanakah pembangunan di Takalar,melangkah bersama kabupaten lainnya ditengah perkembangan peradaban saat ini, dengan jumlah penduduk 302.695 jiwa.

Pada kesempatan ini, akan dicoba diketengahkan beberapa hal yang menjadi keprihatinan kita, misalnya saja dalam kurung waktu sepuluh tahun terakhir , telah terjadi penurunan populasi kapal nelayan, dapat kita lihat pada tahun 2008 berjumlah 5.934 buah (Data BPS Takalar), namun pada tahun ke 2018 hanya berjumlah 2.988 buah atau terjadi angka penurunan sebesar 2.945 buah atau prosentasenya sebesar 49,6% .

Jika kita mencoba mengkalkulasi dari angka perahu yang tidak beroperasi sebanyak 2.945 buah, dengan estimasi tangkapan sebanyak 5 Ton/tahun perperahu atau 28 Kg/hari dengan masa tangkapan 15 hari kerja saja, maka harga ikan diperkirakan Rp.20.000/kg saja, maka kerugian nelayan kita dalam setahun saja telah mencapai angka Rp.294.500.000.000,- (294,5M).

Tentu saja atas kondisi ini adalah sesuai yang sangat serius, karena selain dampak yang telah ditimbulknya, didikuatirkan akan terus mengerus populasi keberadan perahu nelayan kita, sehingga sangat perlu penanganan yang massif dan integral terutama dari pemerintah daerah Takalar, karena kondisi ini tentu saja akan mempengaruhi beragam aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir, termasuk potensi kerugian bagi PAD Takalar.

Namun hal yang sedikit menggembirakan dengan peningkatan sektor Pendapat Asli Daerah (PAD) Takalar, dari tahun ketahun, karena jika kita lihat projeksi waktu sepuluh terakhir, maka pada tahun 2008 hanya memperoleh 13.213.551.000, sementara pada tahun 2021 sudah berada diangka 195.857.287.800 atau 14,8 kali lipat dengan rata-rata kenaikan sebesar 7,7% pertahun.

Namun jika PAD 2021 misalnya diproyeksikan pada APBD tahun 2021 yang sebesar Rp. 1.170.400.499.716,-, maka prosentasi PADnya hanya sebesar ; 16,73% dari kebutuhan anggaran belanja pemda Takalar. Capaian PAD sebesar 195,8M ini tentu saja masih jauh dari kebutuhan belanja daerah yang membutuhkan anggaran 1,17T pertahun, dan terserap untuk belanja pegawai sebesar 594.740.320.281,- atau 50,8%, sehingga prosentase anggaran untuk belanja Modal hanya diangka 147.238.279.635,- atau hanya sebesar 12,58%.

Oleh karena itu , maka kondisi seperti ini, tentu dibutuhkan kerja ektra yang cukup tinggi bagi pemerintah daerah takalar dalam mengenjot PAD, karena pengaruhnya tentu saja sangat signifikan bagi pembangunan di Takalar saat ini maupun dimasa mendatang.

Faktor lainya yang tentu saja sangat terpengaruh dari konsidi pembangunan ekonomi adalah masalah tingkat kemiskinan di Takalar, berdasarkan pada data BPS Takalar pada tahun 2018 berada pada angka 26,99 atau berada pada peringkat 14 dari 24 Kab/Kota di Sulawesi Selatan.

Meskipun berada di papan tengah posisi takalar di Sulawesi Selatan, namun masih cukup memprihatinkan karena kondisi ini akan diperparah kemarin dengan pandemi covig yang mempengaruh struktur ekonomi global dan resesi energy dunia saat ini, belum lagi saat ini kondisi kelangkaan pupuk urea, kenaikan harga bibit ,kondisi iklim, yang diperparah oleh harga komodi jagung yang cenderung stagnan dikisan 2900/kg, dalam kurung waktu sepuluh tahun cenderung berada dilevel ini, termasuk harga cabai yang sangat fluktuatif , menambah beban ekonomi saat ini, sementara posisi Takalar sebagai daerah penyangga belum mempelihatkan kontribusi yang signifikan.

Olehnya itu, maka berdasarkan pada realitas sebagaimana diuraikan di atas, maka diperlukan pemikiran kreatif inovatif yang terukur, yang diharapkan dapat membawa solusi cerdas dalam menjawab tantangan yang ada, dimana diperlukan figur yang piawai dalam mengelola SDA dan SDM Takalar, yang paham betul tentang tantanan peradaban Takalar, mau dan mampu membangun dan mendukung cultur dan budaya setempat, yang tidak hanya dijadikan jargon-jargon dalam agenda penghelatan kenegaraan, tapi culltur budaya dan tradisi yang telah ada ditengah-tengah masyarakat, telah menjadi alat perjuangan dimasa lalu, baik pra dan pasce kemerdakaan.

Hari ini budaya di Takalar ini dapat dikatakan belum mendapatkan dukungan yang optimal dari pemerintah daerah, baik sifatnya pelibatan dalam kegiatan pemda maupun dukungan fasilitasi kegiatan yang notabene kegiatan budaya dan tradisi itu sendiri memiliki berbagai potensi baik inflisit dan ekplisit dalam membangun karakter dan jati diri bangsa.

Bahwa hari ini kita berada berada dalam tahun-tahun politik yang puncaknya penghelatannya pada tahun 2024, adalah momentun terbaik kita di Takalar untuk berpikir jernih, arif dan bijaksana dalam menyikapi figur kepemimpinan di Takalar ini.

Tanpa bermaksud mengkampanyekan seorang figur, namun sosok figur yang kalau kita lihat track record yang ada serta latar belakangnya, maka mungkin kita bisa berharap, beliau mampu mengatasi beberapa persoalan dasar sebagaimana diuraikan diatas.

Dari prestasi yang sudah diraihnya, meskipun banyak parameter lainnya yang perlu didalami pada figur tersebut, sebutlah saja pada profil Ir.H.Mohammad Firdaus Dg.Manye,MM yang berasal dari kalangan profesional, karena kita mungkin dapat menyepakati bahwa majunya suatu daerah banyak ditentukan oleh keberadaan seorang pemimpin yang arif dan bijaksana serta memahami solusi terbaik bagi derah dan masyarakat Takalar.(KML)