by

Unggulkah Jika Puan “Dijodohkan” Dengan Anies Baswedan Pada Pilpres 2024? Oleh : Daniel Pagawak

Survei terkait elektabilitas capres dan cawapres tahun 2024 sudah marak diselenggarakan oleh banyak lembaga survei. Salah satu nama yang selalu muncul di daftar peringkat atas dalam beberapa survei adalah Anies Baswedan. Saat ini, Anies Baswedan yang menjabat sebagai Gubernur DKI, belum menunjukkan pergerakan dan kecenderungan yang mengarah kepada kubu tertentu. Namun demikian, muncul wacana dari PDIP untuk mengusung Anies Baswedan sebagai wapres mendampingi Puan Maharani dalam Pilpres 2024.
Effendi Simbolon, politikus PDIP mengusulkan pasangan Puan Maharani-Anies Baswedan sebagai Capres-Cawapres di Pilpres 2024. Menurutnya, jika PDIP berkoalisi dengan Gerindra mengusung Prabowo dan Puan, suara kedua partai masih kurang dari 40%. Pasangan ini pun masih berpotensi kalah jika hanya terdapat dua pasangan calon. Namun jika Puan berpasangan dengan Anies Baswedan, partai-partai pendukung Anies dapat memperkuat koalisi bersama PDIP. Komposisi ini tak memiliki celah kekalahan karena menandakan bersatunya kelompok nasionalis dan religius.
Menurut Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, usulan duet Puan Maharani dan Anies Baswedan di Pilpres 2024 masuk akal untuk rekonsiliasi. Saat ini, Anies Baswedan menjadi satu-satunya representasi kelompok Islam dan non pemerintah, sedangkan Puan atau siapapun calon dari PDIP merupakan representasi kelompok nasionalis. Namun, usulan pasangan Puan – Anies Baswedan tersebut belum tentu menjadi gagasan bersama di internal PDIP karena menurut Hasto Kristiyanto (Sekjen PDIP) PDIP dan PKS sulit berkoalisi.
Sedangkan, Willy Aditya yang juga Ketua DPP Nasdem mengatakan, sah saja memasangkan tokoh-tokoh yang memiliki potensi, namun calon yang sebenarnya akan terlihat saat detik-detik injury time. Sedangkan Nasdem sendiri akan melakukan konvensi Calon Presiden di 2023. Konvensi sekaligus menggalang koalisi supaya calon terpilih mendapatkan tiket Pilpres 2024.
Sementara, Sufmi Dasco Ahmad yang juga Ketua Harian DPP Partai Gerindra menjelaskan bahwa Gerindra tak akan terpengaruh oleh wacana-wacana apapun, karena duet Puan-Anies yang diusulkan oleh Effendi bukan sikap resmi partai. Di tengah isu tersebut, hubungan antara Gerindra dengan PDIP tetap baik.
Isu yang dikeluarkan oleh politikus PDIP merupakan sebuah manuver untuk menciptakan opini di tengah masyarakat bahwa seolah-olah Anies Baswedan sudah bukan merupakan lawan politik bagi PDIP. Hal tersebut diharapkan juga dapat menarik simpati dari para pendukung Anies Baswedan yang kebanyakan kontra terhadap PDIP. Sehingga PDIP dapat mengantongi suara lebih banyak saat pilpres 2024 jika pasangan tersebut yang dicalonkan.
Anies Baswedan belum memberikan tanggapan, dan kemungkinan tidak akan terlalu menanggapi serius isu tersebut. Elektabilitas Anies yang selalu masuk peringkat atas dalam beberapa survei capres, membuatnya diuntungkan karena akan ada tawaran-tawaran dari beberapa parpol untuk bekerja sama. Sehingga, Anies Baswedan, dengan mengandalkan elektabilitasnya yang tinggi, dapat mengajukan penawaran-penawaran khusus yang kemungkinan juga akan dipengaruhi kelompok lainnya.
Mengacu pada dinamika yang saat ini masih terjadi di tengah masyarakat, para pendukung Anies Baswedan kemungkinan akan terbelah menjadi dua kubu, yaitu kubu pro dan kontra terkait isu tersebut. Kubu kontra akan dengan keras menolak wacana tersebut, mengingat mereka sangat anti dengan PDIP. Sedangkan kubu pro akan mendukung apapun keputusan Anies Baswedan, namun kemungkinan hanya sebagian kecil orang yang masuk dalam kubu ini.
Isu terkait pemasangan Puan-Anies akan menciptakan polarisasi baru di tengah masyarakat. Namun polarisasi ini tidak akan berlangsung lama jika isu ini tidak terus digaungkan oleh PDIP. Pemasangan Puan-Anies dapat menjadi salah satu langkah yang baik untuk rekonsiliasi bagi kelompok nasionalis dan Islam/religius. Namun akan sulit dilakukan jika pihak Anies tidak tertarik untuk menanggapi isu tersebut. Selain itu, adanya isu tersebut, akan membuat kelompok-kelompok lain segera mengusulkan nama-nama yang memungkinan untuk didukung oleh partainya.
*) Penulis adalah pemerhati masalah Indonesia. Tinggal di Jayapura, Papua.