by

Susi Pudjiastuti Dalam Cerita Tayang Terkait Galesong

oleh : KAMARUDDIN AZIS

 

WARTASULSEL.NET, – Pada beberapa kesempatan ngobrol dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti di bulan Juli 2017, saya mendengar sekurangnya dua kali nama Syahrul Yasin Limpo (SYL) Daeng Kawang disebut olehnya sebagai serumpun, saya nyaman menyebut SYL sebagai Daeng Kawang. Salah satu yang saya dengar terkait isu reklamasi dan pertambangan pasir di Galesong.

 

Hal kedua, rupanya Susi ‘tidak bisa’ lupa, karena gubernur dua periode dan pucuk Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Sulsel itu pernah berkeluh-kesah ke Menko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan perihal aturan pelarangan menangkap ikan dalam jarak 0-4 mil dari bibir pantai, sementara masyarakat hanya diberikan mesin katinting atau mesin motor perahu yang jarak tempuhnya 3 sampai 5 mil.

 

“Nelayan yang mana yang diwawancara? Kapal di Indonesia itu ada 650.000, kapal yang di atas kapasitas 100 GT (groston) itu ada 15 ribuan dan itu jauh sekali berbeda,” kata Susi saat diwawancarai Rosiana Silalahi terkait curhat Daeng Kawang itu, sebagaimana dikutip dari laman Kompas.

 

“I just don’t understand,” ujar Susi terkait itu.

***

 

Kampung Bayowa, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulsel, (8 September 2017).

Lidah laut menepuk-tepuk bodi peperahu katinting tidak kurang 100 unit di pantai Kampung Bayowa. Matahari sebentar lagi rebah di kaki cakrawala, kode untuk laut agar segera pasang.

 

Di pesisir yang merupakan tempat saya bermain sejak kecil itu, saya melihat pantai kian tergerus, tanggul beton yang dibangun berulang-ulang rontok, sampah bertebaran.

Sore itu, seorang warga berjongkok di samping perahu, wajahnya terbungkus kain putih. Hanya mata dan hidungnya yang menyembul. Di tangan kirinya, ada sekaleng cat putih. Dia terlihat seperti baru saja operasi plastik atau habis disiram air panas.

 

Di antara barisan perahu ketinting yang memanjang dari utara Kampung Lanna’ hingga Bayowa sore itu, datang seorang lainnya dan membetulkan letak mesin perahunya. Mesin yang menurutnya berkapasitas 14 tenaga kuda.

 

Dia mengaku nelayan pekerja pada perahu dan mesin milik papalele (pemodal) bernama Daeng Taba.

Sebagai nelayan, dia menerima perjanjian bagi hasil. Jika dapat hasil 100%, dia dapat 40% nilai penjualan, 20% untuk Daeng Taba dan 40% untuk pemilik mesin dan bodi ketinting, termasuk biaya operasional.

***

 

Nelayan-nelayan Galesong, yang mendiami pesisir Aeng Towa hingga Mangindara adalah nelayan-nelayan ulung. Mereka terkenal sejak lama, sejak lampau, bahkan sejak Karaeng Galesong berikrar untuk melawan siapapun yang telah menjatuhkan Kerajaan Gowa pada tahun 1669.

 

Saya yakin, nelayan-nelayan itu adalah titisan dari para pejuang yang menolak kejatuhan Sultan Hasanuddin, yang terus berjuang sebab penjajahan adalah pengingkaran kesejatian manusia.

 

Nelayan-nelayan Galesong adalah pemancing ikan yang ulung. Berbekal pengalaman yang mengkontruksi pengetahuan dan keterampilan melaut secara turun temurun, mereka bisa ditemukan dari Sebatik hingga Dili, dari Madura hingga Merauke. Di Papua, nelayan Galesong adalah ‘momok’ bagi otoritas pengelola kelautan dan perikanan.

 

Telur ikan terbang hasil tangkapan nelayan Galesong (foto: Kamaruddin Azis)

“Jumlah armada nelayan pencari telur ikan terbang asal Galesong, Sulsel di Fak Fak ada sebanyak 446 unit,” kata otoritas Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat, bulan Juni lalu.

 

Saya curiga hal itu yang bikin galau SYL Daeng Kawang. Apalagi di bulan Juni 2017, lima armada nelayan pencari telur ikan terbang ditahan oleh Polda Papua Barat.

Nelayan Galesong, selain sebagai pemancing mereka juga tenar sebagai pencari telur ikan terbang. Sejak tahun 70an, berton-ton telur ikan telah dikirim ke luar negeri, ke Jepang hingga Rusia.

***

 

Di sore itu, Haris Daeng Tayang, pria bertopeng tadi, bercerita pengalamannya melaut, sebagai nelayan yang berpindah dari laut ke laut, dari teluk ke teluk, dari provinsi ke provinsi.

 

Dimulai dengan pertanyaan faktual saya mulai memeriksa kapasitasnya sebagai nelayan. Dia menjawabnya dengan lugas dan memaggil saya ‘kamanakang’, atau ponakan.

“Yang ini bobot berapa ton?” kataku menunjuk ke perahu bercat putih bersih berkombinasi biru.

“Yang ini awalnya 3 ton,” katanya disertai tawa.

“Kenapa tertawa?”

“Dulu, tahun 2006, saat saya bikin ini perahu, saya masukkan saja 3 ton. Asal kasih masuk saja untuk perizinan,” katanya tertawa.

 

Pemandangan di tepian Galesong (foto: Kamaruddin Azis)

Tayang memiliki perahu itu dengan sah pada tahun 2006. Mengurus pas perahu dan dengan itu, dia masuk ke Papua. Pada tahun itu juga. Dengan perahu itu dia membawa beberapa nelayan sawi, selama berlayar berhari-hari sebelum melepas pakkaja, atau jebakan ikan terbang di sepanjang laut Fak Fak.

 

Setahun kemudian, di 2007, dia naikkan ukuran perahu menjadi 6 groston. Tiba-tiba saja.

“Awalnya 3 groston. Banyak nelayan yang punya kapal yang begitu karena di Papua, semakin tinggi bobot kapal semakin mahal biaya atau izinnya,” katanya.

Kapal Tayang yang sedang sandar tersebut terakhir kali melaut di perairan Taka Bonerate, Kabupaten Selayar. Nelayan Galesong adalah pendatang rutin ke taman nasional ini.

Mereka sudah lama hilir mudik sebagai nelayan pancing khas ikan merah. Saat bekerja di sana, saya beberapa kali mendapati mereka beroperasi di sekitar Pulau Tinabo, Lantigiang hingga Pasitallu.

 

Selain pemancing ikan mereka, mereka juga terkenal sebagai pembuat ikan pallu ce’la atau pindang.

Dia ke Taka Bonerate bersama 6 orang sawi. Yang dia lakukan saat itu adalah melapor ke jagawana taman nasional yang berkedudukan di Pulau Jinato. Membayar retribusi izin masuk laiknya taman nasional. Sebagai nelayan, Tayang sadar aturan.

 

“Saya tidak ingat nama jagawananya, masih muda, tinggi,” jawabnya saat saya tanya siapa nama jagawana di Jinato.

Usaha mencari ikan selama seminggu di Taka Bonerate memang tak sesuai harapan Tayang tapi modal tetap kembali. Ikan-ikan karang seperti ikan merah, tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

 

“Saya beroperasi hanya seminggu dan menjual hasil di lelong Rajawali, Makassar,” katanya.

“Modal kembali, biaya es tertutupi, meski tak terlalu menggembirakan,” kata pinggawa pada sawi bernama Lurang, Iwang, Dg Majja, Arman alias Akmang dan Lili. Nama-nama ini yang turut serta bersamanya. Pinggawa adalah sebutan bagi nakhoda sekaligus juragan di atas kapal, sawi sebutan untuk anggota tim.

 

Tayang di atas perahunya. Sebelum bertolak ke Bala-Balakang (foto: Kamaruddin Azis)

Sebagai nelayan pendatang di Taka Bonerate, nelayan Galesong kerap juga menjadi riak pengelolaan. Mereka pada beberapa kesempatan juga menggunakan bom dan bius ikan, terutama pada tahun 90an. Saya beberapa kali mendengar beberapa dari mereka ditangkap polisi atau jagawana taman nasional.

 

Tayang adalah profil nelayan Galesong yang telah mengantongi pengalaman melaut di hampir semua labuhan dan perairan. Dari Kalimantan, Nusatenggara, Maluku hingga Papua.

“Berapa modal ke Taka Bonerate?” tanyaku.

 

“Modalnya 10 juta. Untuk solar, bekal makanan, pancing, rokok. Sawi kita yang tanggung,” katanya.

Saat berangkat ke Taka Bonerate itu, Tayang mengambil es balok di Desa Popo’, di dusun Bontoa, sekitar 7 kilometer ke selatan Bayowa.

 

“Saya dengar saat ini tidak pakai izin lagi untuk kapal begini?” katanya.

 

“Iya, sejak ada peraturan baru (UU 23/2014), urusan izin antar pulau ada di provinsi,” kataku.

“Tapi sekarang banyak nelayan Galesong khawair dipersulit. Kadang dipersulit aparat, diperiksa semua,” katanya.

Sebagaimana Daeng Kawang, Daeng Tayang galau perihal perizinan ini, meski konteksnya beda.

 

“Apa rencana setelah perbaikan perahu ini?” tanyaku.

 

“Rencana mau ke Bala-Balakang,” jawabnya. Bala-balakang adalah pulau di barat laut Makassar, ditempuh selama 12 jam pelayaran.

***

Azis Daeng Tayang, minta nomor hape, ‘sampaikan ke Ibu Susi ya’ (foto: Kamaruddin Azis).

Azis Daeng Tayang lahir dan besar di Kampung Ujunga, kampung kelahiran kakek saya Battu Daeng Ngalli’. Sebagaimana kakek, keduanya melaut sejak kecil. Ujunga adalah kampung yang berseberangan dengan Pulau Sanrobengi, pulau yang saban tahun dijadikan nelayan Galesong untuk melepas sesaji sebelum berpetualang di samudera kehidupan. Pulau yang dikhawatirkan terancam karena pertambangan pasir belakangan ini di Galesong.

 

Tayang mengaku sebagai pinggawa sejak 30 tahun terakhir. Layaknya nelayan pinggawa, dia juga mewarisi pengalaman sebagai nelayan, nelayan kecil hingga kemudian mampu beli perahu dari hasil jerih payah di lautan.

 

Tayang adalah nelayan yang kapasitasnya terbentuk dari proses mengalami dan menerapkan apa yang diyakininya sesuai hakikat sebagai pelaut dan nelayan. Dia punya pengetahuan dari sanak keluarga di Ujunga yang memang punya tradisi melaut yang cemerlang.

 

Nelayan Ujunga adalah nelayan pemancing meski menurut Tayang, godaan untuk menjadi nelayan ‘merusak’ tetap ada.

Dia juga tak menampik jika ada warga yang masih menggunakan barang haram dalam mencari ikan di laut seperti bom atau dia sebut sebagai baraccung, atau bius (potassium cyanida).

 

Dia tahu kalau pernah ada penangkapan pupuk bahan bom seperti Mamuju dan Pangkep beberapa waktu lalu.

***

 

Tayang adalah profil nelayan yang berbeda. Setidaknya jika melihat jejeran perahu yang mencapai jumlah ratusan di pesisir sore itu. Hanya dia dan perahu 6 groston itu, selebihnya perahu sampan fiber berkapasitas 14 hingga 16 tenaga kuda.

 

Jika menghitung jumlah perahu sampan bermesin yang ada itu, maka kita perkirakan ada 200-an nelayan pancing di Bayowa. Itu jika ada satu perahu berisi dua orang.

Sebagai yang lahir dan besar di Galesong, saya kira, saat ini ada seribuan perahu katinting di pesisir Galesong Raya. Besar, bukan?

Bersama Tayang, ada 200 ratusan nelayan di Kampung Bayowa yang menggantungkan harapan di masa depan, di lautan, mereka bermodalkan pengalaman, keterampilan dan niat tulus mencari nafkah untuk keluarga dan masa depan mereka.

 

Profil nelayan seperti Azis Daeng Tayang ini adalah bagian dari sistem usaha kelautan dan perikanan yang harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan pengelolaan ruang laut, pengambilan keputusan pembangunan desa, kecamatan, kabupaten bahkan terkait Pemerintah Pusat. Termasuk ketika ada pertambangan pasir di sepanjang laut Galesong yang terus dibiarkan itu.

 

Membantu mereka untuk memahami prosedur perizinan, mana boleh mana tidak dalam pemanfaatan hasil laut, saya kira sudah lebih dari cukup. Apatah lagi jika diberi kesempatan untuk meningkatkan kapasitasnya dalam pengertian yang luas sebab saat ini, tantangan di pesisir dan laut semakin kompleks dan cenderung abai pada nelayan kecil.

 

Setelah obrolan saya dengan Azis Daeng Tayang itu kelar.

Saya bertanya ke dia, maukah saya sampaikan informasi di atas ke Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan?

Matanya berbinar.

 

“Pauangmi,” katanya dalam bahasa Makassar. Sampaikan saja.

Dia berdiri saat saya perlihatkan foto ibu Menteri.

“Pauangmami ibu Susi, teaki kaluppai nelayan Galesong punna nia’ bantuang, kamanakang!,” katanya sambil meminta nomor hape.

 

Sampaikan saja ke Ibu Susi, jangan lupakan nelayan Galesong kalau ada bantuan, wahai ponakan!