by

Inilah Sejarah Singkat Adanya Penangkapan Ikan Torani Di Galesong

WARTASULSEL.NET, – Galesong adalah salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Takalar yang pada tahun 1610-1962 diperintah oleh “Karaeng Galesong”, Dalam masa pemerintahan karaeng galesong dari tahun 1610-1962, ada 16 orang Karaeng yang pernah berkuasa dan salah satu dari 16 Karaeng tersebut dengan nama asli A.J Bostan Karaeng Mamaja, memerintah pada tahun 1952-1962. Beliau adalah karaeng Galesong terakhir.

 

Diperkirakan pada tahun 1672, timbul perlawanan Pangeran Trunojo dari Madura terhadao Susunan Mataram Amangkurat I, maka karaeng Bontomarannu (Karaeng Galesong III) dan Karaeng Matiwrowa Riparallakkenna (Karaeng Galesong IV) beserta armada lautnya menuju Jawa Timur untuk membantu Trunojoyo, sedangkan Susunan Mataram dibantu oleh Kompeni Belanda. (Kutipan Muh.Fakhri.wordpress.com)

 

Dalam pertempuran yang terjadi di Semarang, Karaeng Bontomarannu gugur maka karaeng galesong IV memimpin armadanya meneruskan perlawanannya menuju jawa timur. Namun akhirnya, pada tahun 1679 Karaeng Galesong IV dapat dikalahkan oleh Belanda dengan bantuan Raja Bone yaitu Arung Palaka dan Karaeng Galesong gugur dalam medan pertempuran. Pada bulan Februari 1680 seluruh prajurit yang masih hidup dikembalikan ke Makassar, yang jumlahnya diperkirakan 9.500 (Mattulasa, 1982)

 

Setelah para prajurit itu sampai di Galesong, mereka tidak lagi melanjutkan tugasnya sebagai tabbuluk atau tobarani (pasukan) karaeng galesong. beberap orang diantaranya mengalihkan pekerjaannya mencari jejak ikan yang pada waktu mereka masih berada di atas laut menuju Pulau Jawa banyak sekali beterbangan disekitar perahu mereka, begitu banyaknya ikan tersebut bahkan ada yang jatuh di atas perahu. 

Usaha mencari jejak ikan tersebut tidak sia-sia. Mereka kembali dengan hasil yang sangat memuaskan. Usaha ini dilakukan berulang-ulang bahkan sebagian diantara mereka menjadikan usaha itu sebagai mata pencaharian.

 

Selain sebagai mata pencaharian, dengan selalu melaut, kerinduan akan laut sebagai tabbuluk yang biasa mengarungi laut membela kepentingan Kerajaan Galesong dan kerjaan Gowa sedikit terobati. Karena merek yang pergi menangkap ikan terbang adalah To barani, maka hasil tangkapannya kemudian dikenal sebagai jukuk to barani.

 

Namun karena adanya perkembangan bahasa kemudian ikan tersebut dinamai ikan Torani (ikan terbang = bahasa indonesia) dan selanjutnya kata torani mendapat awalan “Pa” yang mengandung arti “orang yang …”. dengan demikian Patorani artinya orang yang pergi menangkpa ikan torani atau ikan terbang.

 

Jumlah ikan torani ini, luar biasa banyaknya sehingga menarik perhatian untuk dikembangkan secara komersil, sehingga pada tahun 1946-1948 muncullah suatu organisasi yang bertujuan menghimpun dan memabntu patorani dalam penyiapan dana dan modal usaha. organisasi tersebut adalah koperasi nelaya indonesia diketuai oleh Daeng Congkeng, namun koperasi ini tidak dapat bertahan lama.

 

Kemudian pada tahun 1958, muncul satu yayasan yang diprakarsai oleh bupati takalar yang pertama, Doggeng Daeng Ngasa, yatu yayasan patorani galesong. tujuan dari yayasan ini alah meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi dan untuk menghindari terjadinya eksploitasi oleh pemilik modal terhadap patorani. sebab pada waktu itu orang-orang cini mulai menanamkan modalnya pada usaha ini. Yayasan yang langsung diketuai oleh bupatinya sendiri, juga tidak dapat bertahan lama karena yayasan tidak dapat memnuhi keinginan patorani yaitu sebagai tempat untuk meminjam modal usaha.

 

Namun pada tahun 1969, perhatian pemilik modal kembali tertuju pada kegaitan pengkapan ikan torani, sebab telur-telur torani yang dahulu tidka diperhitungkan oleh patorani mulai menjadi komoditi ekspor dengan tujuan utama negara jepang dan harganyapun cukup memuaskan. akibatnya patorani mulai mengalihkan perhatianna dari ikan torani ke telur-telur ikan torani. (Desi ws/red01)