by

Kata Para Pakar Tentang Daging Kurban

WARTASULSEL.NET, – Kemarin hari Jum’at, 1 September 2017 adalah Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah bagi umat muslim. Idul Adha atau biasa juga disebut Idul Kurban, dimana pada hari raya ini umat muslim menyembelih hewan atau dengan kata lain berkurban. Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah shalat Idul Adha dilaksanakan. Suasana Idul Kurban masih kita rasakan bersama sampai saat ini (2/9/2017).

 

Berbagai jenis masakan dengan bahan dasar daging dihidangkan untuk menyambut keluarga dan sanak saudara yang bersilaturahim. Dilansir dari situs Wikipedia Indonesia, definisi daging ialah bagian lunak pada hewan yang terbungkus kulit dan melekat pada tulang yang menjadi bahan makanan. Daging tersusun sebagian besar dari jaringan otot, ditambah dengan lemak yang melekat padanya, urat, serta tulang rawan.

 

Sumiaty, SKM., M.Kes adalah Dosen Mata Kuliah Dasar Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (FKM UMI) Makassar mengatakan, sebaiknya daging kurban yang banyak jangan sekaligus dimasak ini untuk menghindari rusaknya kandungan protein yang terdapat di dalam daging saat olahan daging tersebut  dipanaskan secara berulang-ulang. Hal ini juga membuat struktur protein yang merupakan kandungan utama dalam daging akan semakin rusak dan akhirnya tidak bermanfaat.

 

Kandungan lemak dan juga minyak yang dipakai untuk memasak juga akan berubah jika dipanaskan berulang-ulang. Struktur minyak yang telah dipanaskan lebih dari satu kali cenderung berubah menjadi minyak trans yang sifatnya jahat, “ucap Sumiaty.  Di jelaskan juga bahwa di dalam pembuluh darah, minyak trans secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko peradangan sehingga mempengaruhi elastisitas pembuluh darah. “Selain itu tubuh juga butuh enzym untuk memecah protein. Protein yang rusak setelah daging dimasak berulang-ulang bukan hanya berkurang manfaatnya, tetapi justru akan merampok enzym-enzym di dalam tubuh,”

 

Olahan daging yang terlalu sering dipanasi akan menyebabkan lemak trans dan dapat memicu penyakit kanker. Di dalam pembuluh darah, Kondisi apapun yang terjadi di pembuluh darah akan mempengaruhi kerja jantung sebagai organ yang memompa pembuluh darah. Kata dia, tak salah jika dikatakan bahwa kebiasaan memasak daging hingga berulang-ulang juga meningkatkan risiko gangguan jantung. Sumiaty menambahkan daging segar akan lebih sehat jika dibekukan di dalam freezer daripada dimasak berulang-ulang.

 

Daging kurban yang akan didistribusikan sebaiknya tidak menggunakan kantong plastik hitam, hal ini dianjurkan oleh Pakar Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) Denny Widaya Lukman. Denny menjelaskan bahwa “Kresek hitam yang bahan pembuatannya dari daur ulang memang tidak dianjurkan bersentuhan dengan makanan karena takut terjadi perpindahan bahan plastik ke dalam daging dan membahayakan jika dikonsumsi”. Beliau juga sangat menganjurkan kepada panitia pelaksana kurban dapat menggunakan kantong plastik transparan atau lebih baik lagi plastik pembungkus gula daripada kresek hitam yang juga tidak disarankan oleh BPOM sebagai pembungkus makanan.

 

Selain itu, daging kurban juga tidak boleh terkena lantai, bersentuhan dengan kaki yang kotor maupun alas kaki. Setelah dipotong-potong, boks atau kotak styrofoam bisa digunakan sebagai penyimpan daging agar tidak berpotensi terinjak manusia. Anjuran lainnya yang perlu diperhatikan adalah memisahkan jeroan hewan dengan bagian daging karena jumlah kuman jeroan jauh lebih banyak. Denny menjelaskan ada dua jenis jeroan yang sebaiknya dipisah, yakni jeroan merah terdiri dari hati, kantong limpa, paru dan ginjal serta jeoran hijau terdiri dari babat dan usus. Di tempat pemotongan hewan juga jeroan tidak dibersihkan terlebih dahulu. Makanya sebaiknya dipisahkan dari kantong plastik berisi daging,” ungkapnya.

 

Dengan memerhatikan persiapan fasilitas kegiatan kurban dan penyajian daging yang baik, masyarakat bisa menikmati daging kurban yang memenuhi aspek aman, sehat, utuh, dan halal. Menurut dia, pelaksana kurban harus memerhatikan tiga aspek kegiatan kurban yang sesuai prinsip kesejahteraan hewan, yakni tempat penampungan hewan sementara, tempat penyembelihan, dan tempat penanganan daging kurban. (zoel)