by

Islamphobia India Dan Kebutuhan Terhadap Penerapan Islam Kaffah

-Opini-5 views

Sejumlah pelajar muslim India melakukan aksi unjuk rasa untuk memprotes larangan gadis Muslim berhijab untuk masuk ke ruang kelas di beberapa sekolah di negara bagian Karnataka, India selatan, di Kolkata India.

Dimana gadis Muslim berhijab dilarang menghadiri kelas di beberapa sekolah di negara bagian Karnataka, India selatan, yang memicu protes selama berminggu-minggu oleh para siswa. Kebijakan diskriminatif ini menyebabkan protes dan kekerasan yang meluas (repoblika.co.id, 10/2/2022) .

Pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi dr. Arum Harjanti pun pengecam pelarangan hijab bagi siswa muslimah di India. ” Hal ini adalah salah satu bentuk kebencian terhadap Islam. Pelarangan ini juga merupakan bukti bahwa slogan Hak Asasi Manusia (HAM) yang selalu di suarakan oleh barat hanyalah omong kosong saja”, ujarnya kepada MNews, Sabtu (12/02/2022).

Sedangkan Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Anwar Abbas menyesalkan larangan penggunaan hijab di beberapa lembaga pendidikan di India. Tindakan tersebut dinilai sebagai islamphobia bagi umat muslim di India.

Kejadian ini adalah usaha untuk membatasi kaum perempuan muslim yang dilakukan oleh sistem sekuler-kapitalis. Dimana sistem kapitalisme yang sangat menjunjung tinggi sekularisme.

Namun kenyataannya hanya menjadikan umat islam sebagai warga negara yang bisa diatur dengan hukum dan mencegah umat islam dalam berpartisipasi dalam masyarakat jika mereka mematuhi kewajiban dalam islam.

Hal ini menunjukkan bahwa adanya kekeliruan negara sekuler yang membenarkan adanya pembatasan terhadap kaum Muslim. Padahal pembatasan ini hanya hanya akan menambah api islamphobia yang semakin berkobar diberbagai negara.

Kebijakan islamphobia dan kebijakan pemerintah yang anti Islam telah memicu prasangka dan kebencian terhadap kaum muslim dan menghasut terjadinya rasisme. Disisi lain semua ini menunjukkan adanya kontradiksi sekularisme. Dimana salah satu sisi masyarakat demokratis adalah terbuka. Namun ternyata telah mengesahkan diskriminasi agama.

Ini sebuah lelucon dan kemunafikan penerapan sekularisme terhadap kebebasan beragama. Bagi mereka yang dijamin hanya yang memeluk agama tertentu saja. Selain dari itu sistem sekularisme tidak dapat mengakomodasi keyakinan agama individu.

Artinya islam tidak akan pernah diterima sepenuhnya dalam sistem sekularisme kapitalis. Ini seharusnya menjadi pengingat bagi kaum Islam di dunia bahwa mereka tidak boleh menaruh harapan dan kepercayaan pada sistem sekularisme-kapitalis untuk melindungi hak mereka dan dalam melakukan keyakinan mereka secara bebas dari pelecehan, diskriminasi, dan ketakutan.

Islamphobia yang sekuler embuskan telah nyata mengancam umat Islam. Pelarangan dan pembatasan untuk mengenakan hijab merupakan wujud kebencian mereka pada Islam dan umatnya. Kebencian yang sekuler pelihara hanya karena mereka sangat khawatir akan eksistensi umat Islam yang kian hari kian terlihat ufuk kebangkitannya.

Sistem Sekuler sangat paham, apabila Islam bangkit, peradaban rusak yang mereka bangun dengan susah payah akan menemui ajalnya. Padahal, jika Islam menguasai dunia, nyawa manusia akan terselamatkan. Sejarah membuktikannya saat sistem Islam yang memimpin dunia, tidak ada satu pun etnis yang dibantai hanya karena berbeda agama.

Dalam Islam, memeluk agama harus dengan kerelaan, alias tidak ada paksaan dalam beragama, sebagaimana dalam QS Al-Baqarah: 256. Semua warga negara, baik muslim ataupun kafir (ahli kitab ataupun musyrik) akan mendapatkan perlindungan dan hak-hak hidupnya pun terjamin.

Jangankan terzalimi, kafir zimi akan mendapat santunan jika memang kehidupannya tidak tercukupi. Islam akan menjadikan keadilan dan kesejahteraan bukan sekadar mimpi di siang bolong, tetapi kenyataan yang akan masyarakat rasakan secara merata.

Dari sinilah kejayaan Islam akan makin menyebar luas, bahkan peradaban Islam bisa berkuasa hingga 2/3 bagian dunia. Semua hidup rukun dengan keragaman agama dan etnis yang berbeda-beda.

Kita mendapati cerita yang masyhur saat Muhammad al-Fatih menguasai Konstantinopel. Sang Sultan berjanji akan memberikan kebebasan kepada orang-orang Nasrani untuk melaksanakan semua ritual ibadah mereka. Bahkan, Sultan memerintahkan mereka memiliki pemimpin keagamaan yang mengatur urusan agama mereka sendiri.

Begitu pun yang terjadi masa kepemimpinan Bayazid II berkuasa. Sejarah menorehkan tinta emas pada negara atas pertolongannya terhadap kaum Yahudi di Andalusia dari Mahkamah Inkuisisi Spanyol. Semua ini semata karena Allah Swt. memerintahkan untuk membangun peradaban yang memuliakan manusia. Wallahualam.

 

By Nurlinda/Pemerhati Sosial