by

Mahasiswa Komunikasi Unismuh Peserta Merdeka Mengajar Ditunggu Murid di Gerbang Sekolah

Wartasulsel.net,_|| Laporan: Siti Apriani, Mahasiswa Komunikasi Unismuh Makassar. Peserta Program Merdeka Mengajar di Takalar, Hampir usai program Kampus Mengajar ini dan begitu banyak hal yang terjadi selama mengabdi.

Program yang digagas Kemendikbud RI proses pendaftaran peserta dimulai 9-21 Februari 2021.

Seleksi peserta program ini 22 Pebruari-21 Maret 2021. Pembekalan peserta 5-21 Maret 2021. Penugasan lapangan 22 Maret-25 Juni 2021. Penarikan mahasiswa 26 Juni 2021

Pengalaman hampir 3 bulan mengabdi di SDN 88 Aeng Batu Desa Bontolanra Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar, dalam program kampus mengajar angkatan 1.

Program yang sangat luar biasa yang digagas oleh Kemendikbud, jadi kebanggaan dapat bergabung dan terpilih untuk mengabdi kepada negeri dan ibu pertiwi.

Melihat pendidikan yang di Indonesia lumpuh akibat pandemi Covid-19. Inilah waktunya mahasiswa berperan, seperti sering diretorikan, sosok mahasiswa adalah agent of change.

Saya, ditempatkan di SDN 88 Aeng Batu-Batu dan diamanahkan mengajar siswa kelas 4 dan 5 banyak cerita suka dan duka selama mengabdi hampir 3 bulan.

Awal masuk mengajar begitu banyak tantangan yang saya dapatkan, terutama kondisi sekolah yang serba kekurangan, kelas yang tidak terawat, taman sekolah yang penuh sampah dan siswa yang hanya beberapa orang yang hadir.

Namun, hal ini tidak memutuskan semangat saya untuk memberikan perubahan kepada siswa dan sekolah.

Sangat miris melihat murid yang tidak lancar membaca, menulis, dan berhitung. Padahal murid tersebut adalah siswa kelas tinggi yaitu kelas 4 dan 5.

Seiring berjalannya waktu banyak perubahan terjadi disekolah, kondisi sekolah yang sudah membaik dan bersih.

Kelas yang awalnya dipenuhi kotoran kelelawar, taman sekolah yang penuh sampah sudah bersih bahkan yang awalnya siswa yang datang hanya sedikit semakin hari semakin bertambah dan semangat untuk belajar.

Kedatangan kami begitu ditunggu-tunggu bahkan murid menunggu kami didepan gerbang sekolah.

Seperti kata pepatah dibalik pertemuan pasti ada perpisahan, dibalik perpisahan pasti ada tangis yang tersimpan.

Sangat berat rasanya meninggalkan siswa-siswi yang sangat hebat ini melihat mereka begitu sangat menyayangi kami.

Bahkan banyak dari mereka yang menolak untuk berpisah, para murid itu sangat sedih mendengar kata perpisahan.

Bagi saya sendiri kenyataan ini membuat hati saya begitu sedih, dikarenakan mereka ini sudah seperti adik kandung saya sendiri.

Berharap program yang hebat ini dapat dirasakan oleh mahasiswa lainnya program yang sangat luar biasa dan sangat bermanfaat.***