by

Opini : Berziarah ke Kuburan Sendiri

Warta Sulsel. Pernahka kita membayangkan, ketika pulang dari, sekolah, kantor atau masjid ini, tiba-tiba jantung koroner menyerang kita. Kemudian kita melihat kesibukannya Ada teman-teman kita berlari mengejar ambulans, menghubungi sanak saudara dan tentu saja ada juga yang sibuk menggunjing, hanya saja gunjingannya do’a, maklumlah kita meninggal selepas memohon ampun waktu shalat Jum’at, sebuah kebahagiaan tersendiri tentunya.

Hari itu, secara resmi dokter pribadi kita melakukan otopsi dan mengeluarkan visum et repretum. Secarik kertas yang mengesahkan kematian kita secara medis dan tentu saja sebagai persyaratan yang diminta oleh pihak Pemda (Pemerintah Daerah) adalah urusan pemakaman. Seluruh tubuh terasa dingin dan beku. Tidak bisa berbuat apa-apa, sanak saudara atau sahabat memandikan dengan sangat takjim, hikmat dan hati yang membucah penuh do’a. Seluruh kerabat dan undangan ikut menshalatkan. Rombongan prosesi kendaraan yang panjang mengantarkan kita. Bunyi sirene mengaung menyibak lalu lintas yang padat.
Matahari mulai condong ke barat, dan satu persatu teman, kerabat, tetangga meninggalkan pemakaman. Bayangkan! kini kita terletak sendiri dalam pengapnya tanah kuburan. Ya sendiri!
Pada saat sanak saudara mentahlilkan kita, dan berita duka cita belum lagi reda, berapa banyak cacing tanah dan belatung mengorek tubuh yang pada masanya begitu gagah dan kukuh. Detik demi detik sang jasad kian rapuh, kemudian hancur berserakan, debu mendebu seiring waktu. Ahhh, alangkah cepatnya kehidupan. Sedikitnya bekal untuk menempuh perjalanan yang panjang
sepanjang, berdirilah di depan cermin. Tangkaplah wajahmu dengan seluruh rasa ingin tahu yang tumpah. Simaklah setiap garis di wajahmu, rambut yang mulai memutih, mata yang mulai rabun. Kemudian raup dan sibaklah misteri dari wajahmu sendiri. Sebuah topeng kehidupan yang telah bertahun-tahun engkau telah hadirkan ke dunia.
Betapa sang wajah yang pernah begitu banggakan. Ceria, muda, belia, indah, cantik jelita, kuat gagah perkasa. Kini telah berubah! Tengoklah cerminan cermin dirimu terpajang di muka. Kulit yang keriput, dagu yang berlemak, garis-garis ketuaan mengurat, rambut yang mulai memutih. Kapankah perubahan itu terjadi ?
Sudah bisa dipastikan, seluruh anak manusia tidak pernah menyadari perubahan yang dihadapinya sendiri. Padahal, kesetiaan diri untuk bercermin, menengkok wajah sudah terhitung terhitungnya. Tapi sungguh tak pernah disadarinya kapankah perubahan wajah itu terjadi.
Hidup di zaman yang serba cepat ini, bagaikan air dalam gelas yang terus terguncang-guncang, ikuti keasyikan permainan dunia. Seluruh kehidupan kita bagikan tak berdaya melawan arus kehidupan dunia yang semakin keras memuja waktu, mengumbar nafsu manggapai status simbol yang semakin menderu.
Setiap hari adalah rutinitas yang membelenggu, terperangkap oleh beberapa agenda dan kesibukan yang tanpa ujung. Kita berputar-putar seperti melakukan tawaf mengitari kesibukan yang membuat diri kita sendiri. Waktu untuk memulai melakukan kontemplasi, telah dirampas oleh berbagai alasan bisnis. Do’a atau shalat sebagai lambang cinta dan sarana ritual penghambaan diri telah digeser oleh berbagai alasan yang kemudian melahirkan budaya permisif, tanpa merasa ada dosa buku.
Seorang Guru pernah memberikan fatwanya, “Engkau tak pernah akan mampu menangkap gambaran wajahmu, kalau bercermin di atas air sungai yang deras”. Artinya, esensi kedirian, pengetahuan kesadaran akan hakiki ego tidak akan diperoleh, apabila kita terus menerus hanyut dalam arus dunia yang tak pernah berakhir.
Maka sadarlah, bahwaekat kehidupan, kebenaran yang hakiki dan kejadian (wisdom), hanya akan diperoleh jika kita menikmati waktu untuk menikmati, berkontemplatif dan terjun memasuki samudera diri sendiri.
Memang dunia itu adalah sebuah realitas, yang tidak bisa dihindari, karena keberadaan kita hanya punya arti jika diri kita mau mengada, mendunia. Tetapi harus difahami dengan kesadaran penuh, bahwa manusia diciptakan, tetapi dia adalah persona adalah juga nafsi. Ada kualitas ruh di balik wadahnya.
Al-Qur’an menempatkan dunia sebagai sebuah realita. Tetapi harga dunia menurut Al-Qur’an adalah sangat kecil, bahkan disebutkannya sebagai permainan, perhiasan yang sewaktu-waktu. Pernah suatu saat Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat. luasnya kenikmatannya bila dibandingkan dengan dunia, maka Rasulullah membacakan, “Celupkanlah jarimu ke dalam lautan, maka air yang menetes dari jarimu itu dunia dengan segala isinya, sedangkan samudera itulah akhirat.”

Life After Life
Alangkah naifnya, untuk mengatakan berziarah ke kuburan sendiri. Mana mungkin? Bukankah kita masih hidup. Kenapa tidak? Bukankah salah satu kelebihan manusia dari segala makhluk yang lain adalah kelebihan dirinya untuk mampu berpikir ke depan. Bukankah kita mampu membuat khayalan dan impian, dan berusaha untuk mewujudkannya ?
Seorang sutradara yang mempunyai nilai artistik dan imajinasi tinggi mampu memproyeksikan imajinasi kita merengkuh waktu. Lihatlah film The Ghost yang mampu memvisualkan roh penasaran itu, ternvata telah menyentuh nurani kita akan keadaan hidup setelah mati.
Walaupun belum pernah ada penelitian ilmiah, maupun hipotesa tentang keadaan di akherat, tetapi rahasia kehidupan setelah kematian telah menjadi telaah dan keyakinan umat manusia sepanjang penciptaannya Bahkan dikalangan para ahli medis masih menjadi perdebatan tentang makna kematian. Apakah berhentinya jantung atau sirnanya elektro magnetic pada syaraf-syaraf otak yang diukur dengan Electro Encephalograf adalah makna kematian?
Banyak kejadian misalnya mati suri yang secara medis dinyatakan bahwa pasien telah meninggal, beberapa detik jantungnya berhenti, tetapi sebuah keajaiban menghantarkan pasien itu untuk hidup dan sembuh kembali. Dr.Raymond A Moody Jr. menulis buku berjudul Life after Life sebuah buku kecil yang menghimpun berbagai pernyataan dari para pasien yang pernah mengalami mati suri. Dan hampir semua pasien mempunyai pengalaman dan keyakinan yang sama tentang kehidupan akhirat.
Bahkan kita sering mendengar atau bahkan mengalami impian tentang gambaran kematian itu sendiri. Secara detail justru sulit untuk diungkapkan melalui kata dan data, sehingga sadarlah bahwa soal kehidupan akhirat, bukanlah urusan nalar atau sebuah bahan disertasi untuk para calon doktor, tetapi soal keimanan, keyakinan, beyond our capacity, but something real.

Sebagai seorang muslim, tidak mungkin meyakini kebenaran Al-Qur’an sepotong-sepotong. Meyakini satu ayat dan mendustakan ayat lainnya. Demikian juga soal kematian, soal kehidupan akhirat yang abadi. Dia adalah bagian yang melekat dari kebenaran Al-Qur’an, sebuah keimanan yang paling fundamental! Allah berfirman,
“Katakanlah bahwa sesungguhnya kematianyang kamu semua melarikan diri daripadanya, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke-dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata. Selanjutnya Dia akan memberitahukan padamu semua apa-apa yang kamu lakukan (QS. 62:8).
Dengan sangat indah Rasulullah memberikan perumpamaan, “Bahwa ada dua guru yang harus kita simak untuk memperoleh kebijakan. Yang pertama, guru yang berbicara yaitu Al-Qur ‘an. Dan yang kedua guru yang diam, Al Maut! Dengan menyimak pada guru yang diam (Al maut), kita diarahkan untuk menjadi manusia yang waspada, dan berhati-hati dalam meniti kehidupan sebagaimana Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia” (diriwayatkan oleh Ibnu Abidunya).
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengingat-ngingat sesuatu yang akan melenyapkan segala macam kenikmatan yaitu kematian” (H.R. Tarmidzi).
Mengingat kematian sebelum datangnya kematian, inilah yang kita maksudkan dengan berziarah ke kuburan sendiri. Untuk mengingat seluruh perjalanan kehidupan kita, menghitung seluruh umur dan menimbang amal shaleh. Karena kita sadar betul betapa Malaikat Maut pasti akan menjemput sewaktu-waktu.
Kalau saja, kita mau menziarahi kuburan kita sendiri, niscaya kita menjadi manusia yang sangat waspada, selalu waspada. Bahkan ketika seorang manusia akan melakukan maksiat, segera bergetar seluruh tubuhnya, dan segera dia membatalkan niat maksiatnya itu dengan istighfar. Dia sadar betapa Allah yang Maha Mengetahui itu menyorotkan kameranya dengan fokusnya yang sangat tajam.
Kita jangan berdalih dengan argumentasi ketinggalan zaman, “ah mumpung masih muda”. Logikanya berarti kematian itu masih lama, yang penting muda foya-foya, tua kaya raya dan kelak mati akan masuk surga! Kalau ini yang jadi motto dan argumentasi kita, sungguh kita termasuk manusia yang sedang mabuk dunia dan termasuk tipe manusia yang sangat sombong. Astagfirullah!

Penulis : Muh Anwar. HM