by

Urus Saja Moralmu, Urus Saja Ahklakmu

Wartasulsel.net,_|| Ada benarnya lirik lagu yang dibawakan Penyanyi Kondang, Iwan Fals. “Urus saja moralmu, urus saja ahklakmu…”. Jika tahun lalu, banyak saya baca istilah mengenai ‘Post Truth’.

Maka, kemudian semakin banyak istilah dan pemahaman yang semrawut. Sikap dan perilaku masyarakat, terutama di kalangan anak muda, dan pemerintahan, semakin semrawut.

Sewaktu saya masih mengecap pendidikan di bangku sekolah SD hingga SMP, saya sudah mendengar kalimat “Zaman Edan”. Bahkan, di dalam karangan para penulis kuno di Indonesia, konon, Zaman Edan itu sudah digambarkan akan terjadi. Mungkin, inilah, atau saat inilah salah satu Zaman Edan itu.

Setelah saya baca beberapa artikel, yang sudah banyak dimuat diberbagai postingan, istilah “post-truth” atau pasca-kebenaran menjadi primadona pada tahun 2016. Hampir semua negara membicarakan istilah itu. Dalam kamus Oxford, makna post-truth adalah “dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif”.

Ada dua peristiwa yang melatarbelakangi post-truth jadi perbincangan banyak orang di dunia. Peristiwa pertama yang metarbelakangi fenomena post-truth adalah keputusan Inggris meninggalkan Uni Eropa. Insiden kedua yang menguatkan fenomena post-truth adalah kemenangan Donald Trump dalam kontestasi politik di Amerika Serikat.

Usai dua peristiwa itu, muncul anggapan bahwa opini publik dapat dibentuk melalui hoax atau hoaks. Namun jika ditilik secara historis, pengguna pertama istilah post-truth adalah Steve Tesich dalam artikel berjudul The Goverment of Lies yang dimuat majalah The Nation tahun 1992.

Dalam artikelnya, Steve Tesich menggambarkan bagaimana skandal Watergate dan Perang Teluk Persia dapat membuat tenang dan nyaman warga Amerika Serikat meski dua insiden tersebut dipenuhi banyak kebohongan.

Steve Tesich menuliskan bahwa opini warga negara Amerika Serikat digiring melalui pernyataan emosial, bukan fakta sebenarnya.

Dalam hal Perang Teluk Persia. Duta besar Amerika Serikat untuk Irak menyatakan secara tegas bahwa perang tak bisa dihindari dan mereka telah memperingatkan presiden Irak kala itu, Saddam Hussein agar tak melanggar integritas wilayah Kuwait.

Lewat pernyataan tersebut, warga Amerika Serikat meyakini bahwa Perang Teluk Persia sebagai kebijakan paling tepat. dengan kata lain, post-truth adalah dalah di balik semua itu.

Menurut Steve Tesich, situasi tersebut lahir karena harapan warga Amerika Serikat akan perdamaian telah membeku sehingga tak peduli dengan kebenaran-kebenaran di lapangan.

Maksud pernyataan Steve Tesich tersebut adalah bahwa masyarakat yang hidup dalam kebohongan bukanlah hal tabu. Karena, kebohongan-kebohongan yang disebarkan dapat menyentuh aspek emosional. Efeknya, masyarakat akan sulit melihat kebenaran atau fakta-fakta di lapangan.

Nah, saat ini, bukan hanya ‘masyarakat terdidik’, yang kena post-truth. Banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai bagian dari ‘Kaum Cerdik Cendikia’ malah sudah terjebak dengan perilaku dan sikap post truth. Di beberapa organisasi kemahasiswaan, yang harusnya mengedepankan ilmu kebijaksanaan, pengetahuan dan cerdik cendikia pun sudah dirasuki ‘setan post-truth’.

Sikap-sikap itu tampak sangat nyata. Berteriak lantang, namun isi kepalanya kopong. Menyatakan sesuatu, dengan cara ngotot, dan merasa sudah paling benar, padahal tak menguasai apa yang dikatakannya.

Jika, salah seorang Pengamat Politik, Rocky Gerung, menyampaikan istilah bagi yang seperti itu sebagai “Orang-Orang Dungu”, tentu akan timbul reaksi. Pokoknya reaksi protes aja. Pokoknya tak terima aja. Hehehehe

Yang paling menjengkelkan lagi, jika sudah tak mampu memberikan penjelasan yang rasional dan faktual, itu “Orang-Orang Dungu” biasanya lari bersembunyi di balik topeng “Etika”. Dengan kalimat, tidak sopan, tidak beretika, tidak bermoral, tidak berahklak baik, dan segudang caci maki baru atas nama ‘Etika’ dan ‘Moralitas’. Padahal, sesungguhnya, ‘Orang-Orang Dungu’ seperti itulah yang sangat tidak beretika, sangat tidak bermoral dan berakhlak sangat buruk.

Kasihan sekali, jika manusia seperti itu menguasai ruang-ruang publik. Tidak ada penyadaran, tidak ada kesadaran. Isinya Cuma hoax dan caci maki. Akan bagaimana masa depan anak-anak negeri ini, jika kaum mudanya saja sudah begitu brengseknya?

Bukan hanya di kalangan kaum muda, atau yang getol menamakan dirinya sebagai ‘Generasi Milenial’ itu yang sudah kesetanan post-truth, sudah hampir semua segmen dan elemen kerasukan.

Dari mulai para politisi, tetua-tetua yang mengklaim dirinya sebagai tokoh, hingga segmen agama, di gereja, masjid, dan rumah-rumah ibadah lainnya.

Saya tak habis pikir, jika seorang pendeta atau pastur, atau ustad atau siapalah tokoh agama yang menjadi tokoh karena agama yang dianutnya, misalnya, sudah ketahuan bersikap dan berperilaku brutal, melakukan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur, fedofil, moral atau ahklak apa lagi yang masih bisa dipertahankan ke depan?

Sialnya, perilaku seperti itu, didukung dan dibela mati-matian pula oleh para ‘Orang-Orang Dungu’ tadi.

Saya sih bukan kategori manusia yang sok paling saleh atau soleh atau sok paling bermoral. Namun, jika yang seperti itu pun sudah tak mampu dianalisa dan disikapi dengan jelas, wah omong kosong dagelan etika, moralitas dan berakal budi yang sering saya dengar di ruang-ruang perkuliahan itu.

Setiap orang berhak mengekspresikan ekspresinya, betul. Setiap orang berhak menyatakan pendapatnya, betul. Setiap orang berhak melalukan mau-maunya, betul. Silakan saja. Asal diingat juga, ada hukum sosial dan hukum alam yang membatasinya.

Enggak lantas harus dibenarkan dong, seseorang perempuan misalnya, dari anggota keluargamu, untuk ber-Tik tok-tik tok tak senonoh dan sudah mulai cenderung memperagakan ‘aurat’-nya secara sembarangan, iya kan.

Atas nama apa kamu mau membela dia? Silakan saja. Atas nama privasi? Atas nama Hak Asasi Manusia (HAM)? Atas nama etika? Atas nama moral? Hayo, atas nama apa kamu membelanya?

Privasi apa? Sudah disebarkannya sendiri ke publik lewat aplikasi Tik Tok. Hak Asasi Manusia apa? Sudah dirinya sendiri yang melecehkan HAM itu sendiri. Etika? Emang kamu pikir yang dilakukannya itu beretika? Moral? Siapa yang lebih bermoral? Anjing saja ‘bercinta’ tak sembarangan kok. Masa situ manusia, lebih sama atau rendah dari anjing sih?

Seorang kawan pernah menyampaikan, “Se-anjing anjingnya anjing, anjing jantan tidak akan pernah bercinta dengan sesamanya anjing jantan. Se-anjing anjingnya anjing, anjing betina tidak akan pernah bercinta dengan sesamanya anjing betina.”. Betul juga. Enggak percaya? Coba aja kamu lakukan. Hahahaha

Demokrasi sih demokrasi, tapi tidak begitu Broer.. Untuk yang seperti ini, saya jadi setuju dengan pendapat Sosiolog dan Ekonom Prancis, Pierre Joseph Proudhon, yang menyatakan: “Demokrasi adalah tirani paling berani dari semua; karena tidak bergantung pada otoritas agama, atau pada bangsawan ras, atau pada hak prerogatif bakat, itu didasarkan pada nomor, dan topeng atas nama rakyat. Jika monarki adalah palu yang menghancurkan rakyat, demokrasi adalah kapak yang membaginya.”

Dalam bahasa Prancis, “La démocratie est la tyrannie la plus exécrable de toutes; car elle ne s’appuie ni sur l’autorité d’une religion, ni sur une noblesse de race, ni sur les prérogatives du talent: elle a pour base le nombre, et pour masque le nom du Peuple. Si la monarchie est le marteau qui écrase le peuple, la démocratie est la hache qui le divise.”

Kondisi saat ini memang tidaklah mudah. Menjadikan semua kembali menjadi on the track sudah sangat membutuhkan banyak energi, dan lelah. Namun, masyarakat atau alam, atau juga kedua-duanya akan menunjukkan kuasanya, menunjukkan KUASA TUHAN atas CiptaanNYA.

Jadi, saya setuju, untuk saat ini, ‘Urus Saja Moralmu, Urus Saja Ahklakmu’, siapa tahu masih ada kebenaran di dalam dirimu.

Comment

Leave a Reply

News Feed