by

Tentang Pendangkalan Geopolitik

Wartasulsel.net_|| Sesi Belajar Geopolitik, Akhir-akhir ini terlìhat, geopolitik sudah mulai masuk kampus dan menjadi perbincangan generasi milenial. Ini sangat menarik sekaligus mengasyikkan di tengah pendangkalan geopolitik baik ilmu maupun tahap implementasinya. Namun untuk pendangkalan geopolitik sebagai ilmu, lain waktu dibahas pada sesi tersendiri. Materinya terlalu panjang. Dan sebagai permulaan silahkan baca artikel di Web GFI, Jakarta, bertajuk: Hingga Kapan Pendangkalan dan Pengabaian Geopolitik Terus Berlangsung di Indonesia?

Merespon geopolitik masuk kampus, kiranya terus bergulir seperti snowball process, semakin lama kian membesar. Meluas. Jadi, geopolitik tidak hanya diajarkan di Lemhannas RI saja, atau Sespimti Polri semata, Sesko TNI dan lain – lain.

Sebagai permulaan agar tak keliru persepsi, seyogianya ada panduan ringan dan singkat tentang geopolitik dari pihak berkompeten serta instansi berwenang.

Ya. Geopolitik terdiri atas dua kata yaitu “geo” — kependekan dari geografi, dan kata “politik” itu sendiri. Di KBBI, secara singkat ada dua arti: 1 ilmu tentang pengaruh faktor geografi terhadap ketatanegaraan; 2 kebijaksanaan negara atau bangsa sesuai dengan posisi geografisnya. Itu poin inti geopolitik versi KBBI.

Selanjutnya, jika politik dimaknai sebagai distribusi kekuasaan (power), kewenangan (right) dan tanggung jawab (responsibilites) dalam rangka mencapai tujuan nasional, maka geografi berupaya mencari hubungan antara konstelasi geografi dengan pendistribusian (power, right, responsible) tadi.

Dalam geopolitik, geografi memang tak menentukan, hanya faktor yang mempengaruhi pola kebijakan dan strategi negara baik di masa damai maupun perang. Sekali lagi, kendati sifatnya cuma mempengaruhi kebijakan namun seharusnya/hukumnya wajib dan mutlak. Ini tersirat. Kenapa? Misalnya begini, jika di sebuah negara agraris, dua musim, dan memiliki curah hujan tinggi tetapi justru impor cabe, singkong, impor kedelai dst dimana komoditas tersebut tumbuh subur serta berlimpah ruah, hal itu bermakna bahwa telah terjadi ironi geopolitik di negara tersebut. Atau, di negara kelautan yang punya garis pantai yang panjang tetapi masih terus impor garam bahkan impor ikan, itu juga ujud dari paradoks geopolitik.

Nah, dua contoh di atas merupakan ujud nyata bahwa geopolitik sebagai ilmu negara (science of the state) di negara tersebut, selain diabaikan, disisihkan, juga didangkalkan pada tahap implementasinya.

Andi Naja FP Paraga
Komite Politik Buruh(KPB)

News Feed