by

Gerakan Rakyat Pluralisme Melawan Ekspor Benih Intoleransi

Wartasulsel.net_|| Media cetak dan elektronik saat ini bergemuruh menaikkan berita penangkapan KPK terhadap Menteri Kelautan dan Perikanan terkait dugaan kasus ekspor benih lobster. Dikhawatirkan masyarakat dengan sangat mudah perhatiannya dialihkan sejumlah kasus belum tuntas Rizieq Syihab. Khususnya ekspor benih intoleransi disuntikan terhadap masyarakat pluralis di Indonesia. Pusaran seputar topik label benih menjadi market bisnis berita sangat menarik perbicangan masyarakat. Beda dimensi tapi bobot berat topik sama yaitu merugikan rakyat Indonesia.

Kedatangan Rizieq Syihab ke Indonesia baru-baru ini juga membawa benih kekacauan di tengah-tengah masyarakat pluralisme. Mengapa ? benih-benih memprovokasi masyarakat tidak tertib protocol Kesehatan sebagai simbol sikap penolakan ikhtiar sistem negara lakukan proteksi maksimal warganya hadapi pandemi covid-19. Benih itu memunculkan pro dan kontra masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya tertib aturan, ada terpengaruh meniru contoh benih buruk itu.

Kemudian, diseminasi benih-benih pemecahan persatuan dan kesatuan dengan pola mempertentangkan ideologi syariat agama dengan Pancasila melalui beragam baliho diwarnai sejumlah provokasi narasi hasutan. Benih-benih tampil beda dalam orasi politik simbiosiskan dakwah syiar agama dengan diksi tidak etis bahkan diselepi hujatan terhadap institusi Negara serta hasutan melawan pemerintah. Lantas apa tejadi, ketika benih-benih Rizieq Syibah itu di aplikasikan di negara menjunjung Plurasime Pancasila. Memantik reaksi keras pemuka dan tokoh agama mayoritas terbesar di Indonesia sangat menyesalkan orasi provokasi benih ujaran kebencian dan mengancam keselamatan Negara.

Rizieq Syihab pemegang saham utama berbasis benih intoleransi dan akan terus kejar target menjual sebagian saham-sahamnya tersebut disebarluaskan kesejumlah titik di Indonesia. Bisnis saham benih intoleransi harus dicegah oleh semua warga negara. Sudah sangat tepat para Habaib, kyai dan ulama pemilik saham terbesar umat Islam Indonesia mendukung langkah TNI dan Polri turunkan Baliho Rizieq Syihab. Sementara, lapisan masyarakat inisiatif ambil langkah gagalkan setiap agenda safari dakwah Rizieq Syihab bertajuk politik syiar agama sarat benih-benih intoleransi.

Fenomema akhir-akhir ini munculnya kesadaran kolektif masyarakat seperti terjadi di Bandung, Medan, Surabaya dan Banten lakukan aksi unjuk rasa penolakan keras safari dakwah Rizieq Syihab. Fenomena itu bukan indikasi keberanian masyarakat membenci agama tapi membenci nilai-nilai agama dimanfaatkan kepentingan politik praktis dari praktek seorang manipulator agama untuk tujuan taktis politiknya. Pola membenturkan antar umat beragama disertai gerakan intoleransi agar tercipta kekrisuhan stabilitas politik dan keamanan nasional.

Sejauh ini belum ada catatan sejarah masyarakat pluralis di Indonesia lakukan kriminalisasi ulama, seperti terjadi saat ini dialami Rizieq Syihab. Tapi konten benih dakwah Rizieq Syihab secara luas disaksikan masyarakat melalui publikasi elektornik dan cetak telah mendorong energi masyarakat melakukan pergergajian terhadap rencana agenda dakwah politik Rizieq Syihab. Model penyesatan agama dibawa ke ranah intoleransi tanpa batas dan provokasi melawan Negara ternyata tidak mendapat ruang dihati semua warna agama di Indonesia.

Lebih tepat ketika Rizieq Syihab mencabut ekspor benihnya di Indonesia dan menancapkan bisnis ekspornya tersebut ke sejumlah sejumlah negara di Kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggah seperti Libya, Irak, Suriah dan Afghanistan. Semuanya hancur berkeping-keping karena pemaksaan tunggal ideologi agama. Jujur sejatinya masyarakat pluralisme menjujung tinggi dan mencintai para ulama, kyai, ustadz, habaib, pendeta, pastor dan biarawan. Tapi ketika hadirnya seorang tokoh mahir manipulasi agama yang hanya bekerja focus mengusik kedamaian dan keharmonisan pluralisme di Indonesia, pasti..! mendapat tindakan penolakan keras dari semua elemen masyarakat.

Penulias: Agung Setia Budi (Studi kajian sosial politik pembangunan Wilayah)

News Feed