by

Tindakan Polisi Tangkap Pelaku Makar Di Papua Sudah Tepat

Wartasulsel.net || Oleh : Tommy CK, Polisi mengungkap agenda terselubung dalam rapat dengar pendapat tentang evaluasi pelaksanaan otonomi khusus (Otsus) di Papua. Di dalam rapat diduga diisi soal perencanaan makar. Dugaan ini muncul setelah polisi menemukan buku tentang pedoman dasar Negara Republik Federal Papua Barat. Buku tersebut ditemukan di salah satu lokasi yang didatangi polisi.

Acara rapat tersebut digelar Majelis Rakyat Papua (MRP) pada Selasa (17/11). Polisi mendatangi 3 lokasi di Merauke yakni Hotel Grand Mandala, Hotel Valentine, dan Hotel Kelapa Lima. Dari lokasi tersebut, ada 54 orang yang diamankan. Keberadaan buku panduan soal Papua Barat merdeka tersebut mengungkap palsu-palsu rapat otsus Papua.

“Kita temukan buku kuning yang mengajarkan sekelompok orang untuk merdeka atau referendum. Di situ ada presidennya, ada letnan jenderalnya, ada mayor jenderalnya, ada brigjen dari Papua Barat di dalam buku itu. Ini kan makar,” kata Kapolres Merauke AKBP Untung Sangaji saat dihubungi, Jumat (20/11/2020).

Awalnya polisi ingin memastikan rapat digelar dengan memperhatikan protokol kesehatan. Sebab ketentuan menggelar kegiatan telah diatur dalam Maklumat Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw. Maklumat Kapolda Papua telah disampaikan dan dipasang sebelum digelarnya acara RDP.

Namun, saat dicek ke lokasi acara, didapati para peserta RDP banyak yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Polisi menemukan gelagat tak wajar. Ternyata ada pihak yang membuang buku kuning yang berisi soal panduan makar di lokasi acara.

Para peserta rapat yang diduga berencana makar diperiksa lebih lanjut di Polres Merauke. Sejumlah orang sempat diborgol atas alasan keamanan karena di lokasi acara ditemukan benda tajam. Pada Rabu (18/11) siang, 54 orang yang diamankan tersebut dipulangkan.

Sudah Tepat

Tindakan yang dilakukan Kepolisian RI melalui Polda Papua yang menggeledah, menangkap dan memeriksa peserta RDP yang digagas oleh Majelis Rakyat Papua (MRP) berkaitan dengan perpanjangan Otsus di Papua dan Papua Barat merupakan langkah yang perlu diapresiasi.

Setidaknya ada dua hal yang patut diapresiasi yaitu pertama, jajaran Polda Papua telah menjalankan amanat Inpres Nomor 6 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Melawan Covid-19, apalagi ditemukan setelah rapid test, ada dua orang peserta RDP yang reaktif Covid-19.

Kedua, adalah aparat penegak hukum dan aparat intelijen berhasil mencium gelagat tidak nasionalis atau kurang terpuji yaitu rencana melakukan makar disela-sela RDP, ini berarti acara yang digagas oleh MRP mau “ditunggangi” oleh pendukung separatis.

Hal ini merupakan pelajaran penting bagi MRP untuk dikemudian hari mencontoh langkah Lembaga Masyarakat Adat (LMA) di Papua dan Papua Barat yang tidak mempercayai kelompok separatis dan “kadrun-kadrun politik” di Papua yang bermimpi akan memerdekakan Papua dari Indonesia. Sekali lagi, Papua adalah milik Indonesia karena Papua adalah Indonesia dan Indonesia adalah Papua.
Penulis adalah pemerhati masalah Papua.

Comment

Leave a Reply

News Feed