by

Tisnur Priyanto : Memahami Omnibus Law Jangan Pasal per Pasal.

Jakarta. Sudah lama diprediksikan bahwa Omnibus Law pasti disahkan, ternyata terbukti, dan langkah terakhir setelah aksi akan ke yudisial review, jika kita membaca dan memahami pasal perpasal UU Omnibus Law sekilas tidak ada masalah, tapi membaca dan memahami pasal Omnibus Law tidak bisa perpasal, harus dilihat hubungannya dengan pasal lainnya, contoh versi pemerintah pesangon masih ada, betul hak pesangon masih diberikan jika terjadi PHK nilainya dikurangi, jika kita hubungkan dengan pasal sebelumnya yang mengatur tentang PKWT, dimana jangka waktunya dihapus, dan masa pkwt diatur dalam perjanjian kerja, akan terjadi kontrak terus menerus dan bisa jadi kontrak seumur hidup, nah kalau sudah seperti ini bagaimana buruh dapat hak pesangon jika ter PHK, sedangkan alasan PHK karena habis masa kontrak, dan masih banyak lagi substansi yang bermasalah dalam Omnibus Law.
Demikian dikemukakan Tisnur Priyanto kepada Redaksi di Jakarta belum lama ini seraya menambahkan, sekecil apapun peluang dalam melakukan yudisial review itu tetap harus dilakukan, sebagai bentuk perjuangan. “Kalah menang urusan nanti, yang penting buruh harus tetap berjuang, karena bukan hanya KSPI saja yang akan melakukan judicial review, KSBSI, PBNU dan masih banyak lagi akan melakukan hal yang sama,” tambah Tisnur.
Menurut Sekjen Federasi Serikat Buruh Garpekteks KSBSI ini, sudah banyak guru besar, dosen menolak Omnibus Law, berarti memang ada masalah UU Omnibus Law itu, bahkan salah satu perumus draft RUU Omnibus Law, kebetulan seorang dosen di tempat saya kuliah dulu, menyatakan jika kamu akan melakukan judicial review dipastikan bisa dikabulkan, karena isi pasal-pasal Omnibus Law hampir semua melanggar konstitusi bangsa Indonesia.
“Aksi-aksi yang dilakukan oleh buruh dan mahasiswa adalah aksi damai, sebagai bentuk kekecewaan atas sikap pemerintah dan DPR, gerakan kami dan mereka berdasarkan gerakan moral atas matinya nurani pemerintah dan DPR, dalam situasi masa yang begitu besar dapat dipastikan akan ada oknum yang menciderai perjuangan kami, tapi yang sangat kami sayangkan adalah cara penanganan aparat kepolisian yang terlalu represif dan mereka lebih agresif saat membubarkan massa,” jelasnya (Red).

News Feed