by

DALAM LOGIKA MANTAN KEPALA BIN : PELAKU PENUSUKAN SYEKH ALI JABER MELAKUKANNYA TANPA RAGU

Jakarta. Pelaku penusukkan Syekh Ali Jaber diperiksa kejiwaannya oleh Polresta Bandar Lampung yang menggandeng Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri. Pihaknya juga melibatkan dokter dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung serta Psikiater Pusdokkes Polri guna membantu melakukan assesment terhadap pelaku.
Hal ini lantaran orangtua pelaku mengatakan anaknya sempat jalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa. Melihat isu tersebut, Sutiyoso memberikan analisa tajamnya terkait kasus penusukkan Syekh Ali Jaber.
Menurut Sutiyoso, Kepala BIN 2015-2016 ini pelaku melakukannya dengan cepat dan tanpa ragu. Terlihat dalam video bagaimana pelaku dengan perlahan naik ke panggung dan lari mendekati Syekh Ali Jaber.
“Saya tuh sudah berulang kali ya menyaksikan tayangan tvOne, rekaman video itu gitu ya. Jadi kesan saya begini ya, jadi pelaku itu melakukannya dengan cepat dan tanpa ragu apapun. Kelihatan sekali dia pelan naik panggung, kemudian dia lari mendekati sasaran,” kata Sutiyoso.
Menyaksikan video itu berulang kali, Sutiyoso mengatakan pelaku hendak menyerang bagian yang cukup mematikan yakni leher. Tak hanya itu, kekuatan ayunan pisau juga dirasa cukup kuat. “Kemudian waktu dia menyerang, menusuk itu juga dipilih bagian yang cukup mematikan di leher ya. Dengan kekuatan yang penuh itu dari atas, lihat saja pisaunya begini kan (dari atas ke bawah),” lanjutnya.
Menurut kepala BIN periode 2015-2016 ini, pelaku juga menentukan timing yang sangat tepat. Seperti yang terlihat dalam video, aksi tersebut dilakukan saat Syekh Ali Jaber sedang berbicara dengan orang lain atau lengah.
“Nah, timing yang dia tentukan juga tepat sekali. Bagaimana menunggu sasaran ini lengah gitu kan. Waktu itu Syekh Ali Jaber lagi berbicara dengan orang di depannya gitu. Jadi itu lengah lah itu kalau dari serangan dan tidak terhalang. Tetapi bagian itu menyamping begitu kan, oleh karena itu dipilih leher,” ungkapnya.
Adapun jika pelaku bisa menyerang dari depan, menurutnya, pelaku akan menusuk area dada Syekh Ali Jaber. Dikatakan sebelumnya, pelaku juga melakukannya dengan penuh kesadaran dan tanpa ragu-ragu. Terlebih dia mencoba melarikan diri di waktu yang tepat meski berhasil ditangkap.
“Andai kata dia bisa menyerang dari depan dipastikan itu adalah yang paling mematikan, di dada yang akan dia tusuk gitu. Tetapi itulah kesempatan, jadi dari itu ya ada proses di otaknya saya rasa. Karena dilakukan penuh kesadaran, tanpa ragu-ragu dan pada saat dia escape melarikan diri pun kelihatan sekali dilakukan dengan tepat. Walaupun para petugas ini sigap dan bisa menangkap dia gitu,” jelas Sutiyoso. Meski begitu, Sutiyoso menegaskan jika itu semua hanya logikanya. Di mana logika bisa saja ada kesalahan atau pun kekurangan.
Beruntung, Syekh Ali Jaber mampu menangkis serangan dengan refleks. Sehingga pisau tersebut berakhir di lengannya alih-alih di leher. “Walaupun atas perlindungan Allah ya, Syekh Ali Jaber ini bisa menangkis secara refleks dengan tangannya. Dan tangannya akhirnya luka namun tidak fatal. Itu kita lihat secara jelas ya,” paparnya.
(https://m.merdeka.com/trending/analisa-tajam-pensiunan-jenderal-tni-patahkan-alibi-penusuk-syekh-ali-jaber-gila.html?page=8)
Sementara itu, salah seorang pengamat masalah intelijen yang Namanya ingin dicover membetulkan semua logika Sutiyoso yang pernah tercatat saat menjabat Kepala BIN berhasil membuat Din Minimi salah seorang tokoh GAM tidak berulah lagi di Aceh ini.
“Apa yang disampaikan Sutiyoso adalah benar, pelaku penusukan tampaknya bukan orang gila karena motifasinya sepertinya cukup kuat yaitu ingin mengancam atau menusuk leher Syekh Ali Jaber, dan dia melakukannya dengan memperhatikan momentum serta perkembangan situasi dan kondisi, artinya pelaku penusukan memperhatikan circumstances di lokasi, serta memiliki niat buruk mencelakakan Syekh Ali Jaber dan memiliki kemampuan untuk melakukan niat buruknya tersebut,” urainya (Red).

Comment

Leave a Reply

News Feed