by

LBH dan Dit Polairud Saling Tuding Menuding Soal Kapal Yang Terbalik Di Makassar

Wartasulsel.net || Makassar- Dua perahu milik nelayan bahkan dikabarkan dirusak dan tenggelam oleh aparat Ditpolairud Polda Sulsel, Minggu (23/8/2020) siang. Hal itu diungkapkan oleh Edi, salah satu anggota Aliansi Selamatkan Pesisir.

Dalam hal ini Ditpolairud Polda Sulsel sebagai pelindung masyarakat kini harus menjadi ancaman bagi para nelayan yang dimana dua buah perahu mereka diduga dirusak dan ditengelamkan.

Sehingga LBH Aliansi Selamatkan Pesisir akan mendampingi secara hukum para nelayan yang kini sudah dalam penahanan pihak Ditpolairud Polda Sulsel.

“Saat dikonfirmasi oleh wartasulsel.com, Edi salah satu anggota LBH mengatakan akan menempuh jalur hukum dengan memberikan pendampingan hukum buat mereka, dikarenakan apa yang dilakukan Ditpilairud Polda Sulsel sudah bersikap sewena-wena merusak perahu, hingga menenggelamkannya dan menangkap tiga warga Pulau Kodigareng yang belum jelas benang kusutnya masalah ini kata Edi” Selasa 25/08/2020.

Ditempat terpisah Kombes Pol Hery Wiyanto menuding beberapa nelayan hendak melakukan aksi anarkis saat mendatangi kapal pengeruk pasir laut milik perusahaan asal Belanda tersebut yang sedang beroperasi.

Tak ada Kapal yang ditengelamkan rentetan peristiwa sebelumnya di tanggal 18 dan 19 agustus 2020 nelayan melempari kapal penyedot pasir untuk timbunan Makassar New Port, kemarin pada saat kapal penyedot pasir yang sedang melakukan kegiatan yang dikawal oleh Kapal Patroli Mabes Polri kembali nelayan mendatangi dan melempari Kapal dan dihalau oleh speed Kapal Mabes tetapi kewalahan sehingga meminta perkuatan dan kapal dari direktorat polda sulsel langsung bergabung dan melakukan gakkum karena nelayan sudah mengelilingi speed Mabes Polri, pada saat dilakukan gakkum ada kapal yang terbalik. Ucap Kombes Pol Hery Wilayanto di wartasulsel.net, Senin 25/08/2020.

“Selain mengganggu menggunakan ketapel batu, kata Kombes Pol Hery Wiyanto, para nelayan juga disebut melakukan penyerangan dengan menggukan panah ikan. Dari situ, polisi mengamankan tiga orang yang diduga sebagai provokator”.

Ketapel dengan batu. Ada juga yang menggunakan panah ikan di TKP. Tiga orang (diamankan) itu oknum yang mengganggu kegiatan, mungkin nelayan masih di interogasi,” kata perwira polisi berpangkat tiga bunga melati ini.

Kata Hery, selain mengamankan tiga orang yang diduga provokator, pihaknya juga mengamankan sejumlah barang bukti, berupa bahan bakar bensin yang diduga akan dipakai untuk melakukan aksi anarkis.”Ada besin yang dibotol dan dijerigen,” ungkapnya.

Mantan Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sulawesi Barat (Sulbar) ini, sekali lagi menegaskan, bahwa pihaknya sama sekali tidak pernah melakukan aksi penenggelaman perahu milik nelayan Kodingareng.

Tidak ada yang ditenggelamkan, sebenarnya mau kita bawa ke Makassar untuk barang bukti tapi kejadian tadi karena banyaknya katinting sehingga waktu mau diamankan ada yang kesenggol, sehingga ada kapal yang terbalik dan 1 kapal kita tarik ke Makassar,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, perlawanan warga Pulau Kodingareng, Kota Makassar, terhadap aktivitas penambangan pasir laut di wilayahnya oleh perusahaan asal Belanda, PT Boskalis, mendapat tindakan represif dari aparat kepolisian. (RUD)

News Feed