by

ISMEI Siap Penuhi Tantangan Menko Maritim dan Investasi Berbicara Soal Hutang

WARTASULSEL.NET – Beberapa hari lalu Menko Maritim dan Investasi dalam keterangan persnya menantang pengkritik hutang negara untuk bertatap muka berbicara tentang hutang negara. Pasalnya, terlalu banyak pengkritik yang dianggap membodohi masyarakat terkait hutang negara.

Rasio hutang pemerintah pada tahun 2019 tercatat 30,2% PDB. Angka tersebut terus meningkat dari tahun 2015 yang sebesar 27,4%, 2016 tercatat 28,3%, 2017 yakni 29,4%, dan 2018 yaitu 29,8%. Sementara itu, rasio hutang pemerintah diproyeksikan naik hingga 37,6% pada 2020, 37,5%-38,5% pada 2021, 37,5%-38,4% pada 2022, dan 37,3%-38,3% pada 2023.

Menurut Menko Maritim dan Investasi, hutang negara masih tergolong produktif. Alasannya hutang negara masih kisaran 30% dan belum mencapai 60% dari PDB Indonesia, hal ini masih dalam batas wajar.

Namun hal tersebut mendapat tanggapan dari Wahyu selaku Badan Pimpinan Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI). Pasalnya, utang negara sejak 2015 adalah yang tertinggi . Hutang negara diproyeksikan akan terus meningkat setiap tahunnya.
Jika pemerintah dalam merumuskan kebijakan untuk menutupi defisit anggaran belanja negara hanya dengan hutang berarti pemerintah tidak kompoten dalam mengelolah kas negara.

“Indonesia ini masih negara berkembang, nggak boleh dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang, Amerika, dan China karena PDB kita berbeda. Tatanan birokrasi kita juga berbeda, negeri kita mempunyai permasalahan utama yang cukup besar yaitu KKN. Maka pengelolaan utang yang besar ketika tidak dikelola dengan baik juga bisa menjadi permasalahan yang cukup besar bagi bangsa ini. Terlebih lagi bagi kami generasi yang akan datang yang pasti akan menjadi beban bagi kami untuk melunasi utang tersebut”, ungkap Wahyu.

Menurutnya, jika hutang kita dianggap baik baik saja selama masih dibawah 60% dari PDB apakah pemerintah akan utang sampai 60% dari PDB? “Kami bukan berarti anti hutang, hutang perlu jika memang itu diperlukan dan hutang itu tak masalah jika memang untuk kesejahteraan masyarakat, hutang dikelola dengan benar, sebab hutang jika tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi momok berbahaya bagi kita semua. Soal hutang, ini akan menjadi tanggung jawab generasi mendatang juga bukan hanya generasi saat ini, untuk itu kami generasi saat ini punya tanggung jawab untuk mempertanyakan hal itu sebagai bentuk moral kita semua ke generasi mendatang”, sambungnya.

Ia pun menyatakan akan siap apabila sewaktu-waktu diajak untuk berdiskusi menyikapi hutang negara tersebut. “Kami dan saya khususnya selaku Badan Pimpinan ISMEI (Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia) siap untuk menerima tantangan bapak Menko Maritim dan Investasi untuk berbicara dan berdiskusi soal hutang negara tersebut. Semenjak ajakan oleh pak Menko itu dirilis, belum ada senior maupun pakar ekonomi yang menerima ajakan untuk berdiskusi sehingga kami selaku anak muda yang baru belajar dan masih sementara belajar ilmu ekonomi siap menerima tantangan pak Menko Kemaritiman dan Investasi”, pungkas Wahyu.

(*)

News Feed