by

Relawan Pendidikan : Pahlawan Tanpa Gelar Jasa?

Wartasulsel. Net, – Beberapa hari yang lalu telah diperingati 10 November sebagai hari mengenang jasa para pahlawan. Suatu momentum yang dianggap penting untuk diingat lalu dirayakan sedemikian rupa.

Mulai dari menziarahi kuburan pahlawan, mengadakan dialog interaktif , peragaan busana kepahlawanan, dan sebagainya. Itupun jika subjektivitas yang merayakan sampai pada pemaknaan, karena tidak sedikit dari kebiasaan masyarakat memperingati hanya sampai pada gerakan, lupa menelusuri substansi peringatan.

Penulis sendiri mengalami hal demikian, pada saat mengikuti upacara peringatan hari pahlawan di kecamatan Baroko Enrekang, upacara tersebut dilaksanakan terlambat 2 jam , tidak sesuai dengan jadwal di undangan yang telah disebar.

Dan juga pada saat proses penaikan bendera sebagian peserta upacara ribut diluar kendali, Padahal semestinya mereka merenungkan betapa sulitnya pahlawan pendahulu mengibarkan sang merah putih tersebut. Apa hanya sebatas ini penghargaan kita terhadap hari pahlawan? Tentu tidak, jika nalar dengan intuisi kita ikut bermain dalam memaknai hari besar tersebut.

Secara historis, Kurang lebih 70 tahun yang silam terjadi pertempuran di Surabaya sebagai perang fisik pertama kali setelah pernyataan kemerdekaan dikumandangkan oleh the founding father kita. Tentu bukan sebatas mengetahui sejarah cara pemaknaan kita terhadap peringatan hari pahlawan.

Pada masa kini perang pemikiran instant yang hendak mengkerdilkan tindakan, sebaiknya dihadapi oleh segenap masyarakat Indonesia sebagai keberlanjutan dari semangat juang para pendahulu untuk mempertahankan semangat kemerdekaan yang telah diraihnya.

Untuk memerangi pemikiran yang kerdil, satu-satunya cara ialah Warga negara memperoleh Pendidikan yang layak dan merata melalui Pendidikan formal. Sesuai dengan amanat konstitusi pasal 31 UUD NRI 1945.

Namun, Apakah hari ini Pendidikan sudah merata mulai dari lingkup kota, desa hingga ke pelosok negeri? Realita yang terjadi, Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pendidikan Sulsel angka putus sekolah 2017-2018 tingkat SMA sebanyak 4.133 pelajar dari total pelajar 351.000 pelajar yang ada.

Salahsatu pemicunya adalah di daerah banyak anak-anak beralasan hanya karena membantu orangtua ke sawah atau ke kebun sehingga mereka tidak melanjutkan sekolah.

Masih menjadi tanda tanya besar bagi kalangan pegiat Pendidikan bila tidak memiliki rasa empati untuk lebih memperhatikan sekaligus mencarikan solusi wajah Pendidikan hari ini.

Oleh sebab itu, relawan Pendidikan hadir untuk mengambil peran, memotivasi dan memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya melanjutkan Pendidikan, sehingga ada pengharapan yang besar tertanam di mendset masyarakat di pelosok negeri terkait mutu Pendidikan yang diperolehnya.

Meskipun masih jauh dari kata layak, tetapi relawan Pendidikan senantiasa mencari jalan dan solusi atas kendala-kendala yang dialami masyarakat baik kendala geografis, biaya, akses mengenyam Pendidikan yang akan mengubah nasib masyarakat suatu saat.

Penulis ambil pemisalan Komunitas Guru Untuk Bangsaku (GUB) ialah komunitas yang bergerak di bidang Pendidikan daerah terpencil, terbelakang dan terluar (3T). Sekarang ini, sekolah binaannya terletak di Maros kecamatan Tompobulu Desa Bontomanurung Kampung Pattiro.

Sebut saja kelas Jauh MI Hidayatullah yang awal sekolahnya hanya berada di bawa kolong rumah pak dusun dengan beralaskan tanah dan beratapkan kayu dan saat ini telah sampai pada tahap berlangsungnya pembangunan ruang kelas yang lebih layak.

Begitu pun telah diusahakan guru tetap siswa di kelas jauh tersebut, sehingga proses pembelajaran bisa terlaksana tidak lagi hanya dua kali sepekan tetapi setiap hari seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Patut diapresiasi kerja keras para relawan GUB yang tak henti-hentinya mengusahakan proses Pendidikan yang layak di tengah arus kepentingan penguasa.

Andil Guru untuk bangsaku sebagai relawan Pendidikan yang menginginkan tercapainya salahsatu tujuan nasional negara yakni mencerdaskan kehidupan bangsa hanya contoh sekilas yang sempat penulis singgung.

Tentu komunitas-komunitas lain membawa misi yang sama seperti Komunitas Sikola cindekia pesisir, Sikola Inspirasi Alam, Komunitas Koin Untuk Negeri, Bangku Pelosok, dan masih banyak lagi relawan Pendidikan yang tengah mengusung strategi dan taktiknya dalam memikirkan kondisi masyarakat yang jauh dari sentuhan Pendidikan yang layak.

Pemerintah semestinya memberi sedikit perhatian, paling tidak meminimalizir kesulitan-kesulitan yang dihadapi relawan Pendidikan dalam menjalankan misi utamanya. Betul yang dikatakan singa podium bahwasanya sekarang ini bukan lagi penjajahan fisik yang harus dilawan tetapi kebijakan dari pemerintah yang memiliki kuasa atas suatu hal yang harus dilawan ketika ia tidak meletakkan hak warga sebagaimana porsinya.

Paling konkritnya yakni hak untuk memperoleh Pendidikan yang layak bagi masyarakat di daerah terpencil. Akih-alih seperti yang dikatakan Paulo Fraire dalam bukunya Pendidikan kaum tertindas bahwa masyarakat saat ini sedang dijajah kesadarannya, diracik dengan cara mengkomersialisasikan pendidikan.

Kesannya hanya yang berduit yang dapat memperoleh Pendidikan setinggi-tingginya. Sehingga anggapan masyarakat biasa apalagi masyarakat terpencil ‘’Pendidikan hanya milik mereka yang beruntung.’’

Suatu apresiasi luar biasa bagi para Relawan pendidikan yang menyisipkan waktu, pikiran dan energinya untuk kelangsungan proses Pendidikan di penjuru negeri. Dianalogikan, mereka adalah pahlawan masa kini yang terus memperjuangkan hak warganegara, tanpa digaji apalagi diberi tanda jasa dan gelar seperti halnya pahlawan yang selalu disebut-sebut namanya d alam berbagai literatur.

Mengutip perkataan salahsatu relawan Pendidikan Guru Untuk Bangsaku, Ramdani “ Cara terbaik memperingati hari pahlawan ialah dengan menjadi pahlawan itu sendiri.”

Akhir dari penulis “pembawa misi kebaikan pastilah ia seorang pahlawan. tidak penting dirimu dikenal siapa untuk berbuat baik, jadilah pahlawan setiap saat tanpa tebang pilih objek perjuangan.” Selamat Memperingati Hari Pahlawan.

Penulis : (Susi Susanti) Mahasiswa asal Takalar, Relawan angkatan ke-5 Komunitas Guru Untuk Bangsaku.

News Feed