by

Festival Lamaholot Flores Timur 2019, Puin Ta’an Uin To’U, Gahan Ta’an Kahan Ehan, Pain Ta’an To’u

-Ragam-50 views

Wartasulsel.net,- Larantuka- Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana suatu pesan disandikan. Budaya sejatinya merupakan landasan komunikasi. Ragam budaya melahirkan pula ragam praktek dalam komunikasi, dan Festival merupakan salah satu sarana komunikasi yang penting dalam membangun, memberdayakan dan memberikan pengakuan kepada suatu identitas budaya. Festival juga merupakan bentuk komunikasi yang dapat menyatukan berbagai elemen.
Bergerak dari pemahaman di atas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur bekerjasama dengan Indonesiana sebagai perpanjangan tangan Direktorat Jendral Kebudayaan merancang sebuah festival yang juga merupakan kelanjutan dari Festival Nubun Tawa pada 2018 yang lalu.

Festival ini kemudian disepakti dengan nama: “Festival Lamaholot Flores Timur 2019”. Festival seni budaya Lamaholot Flores Timur dirancang untuk menampilkan esensi khas Lamaholot yakni: “Puin Ta’an Uin To’u, Gahan Ta’an Kahan Ehan, Pai Ta’an tou” atau “Mari Jadi Satu”.
Festival Lamaholot Flores Timur 2019 ini akan berlangsung selama lima (5) hari yaitu mulai tanggal 11 September hingga 15 September 2019, dan akan dilaksanakan di dua lokasi. Di Lewolema (11 dan 12 September 2019) dan Adonara (14 dan 15 September 2019).
Selain pertunjukkan dan atraksi seni budaya yang ditampilkan, pada tanggal 13 September nanti akan dilangsungkan serasehan di kota Larantuka dengan mengambil tema: “Membaca kembali Ke-Lamaholot-an melalui Festival Seni Budaya Lamaholot 2019”, dengan menghadirkan nara sumber yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB –Bali) serta nara sumber lokal. Diharapkan dengan kegiatan ini, kecintaaan terhadap nilai-nilai budaya Lamaholot dapat tumbuh dan berkembang.
Melalui berbagai atraksi budaya yang akan ditampilkan selama festival berlangsung, Festival Lamaholot Flores Timur 2019 berusaha menggali dan menegaskan kembali ikatan kekerabatan dan kesatuan kampung-kampung adat yang dijaga dengan ritus-ritus serta janji adat sejak zaman lampau, melalui kemasan ritual persatuan Seni Lado, Sadok Nonga, Leon Tenada, Dolo-Dolo, Sole Oha, tari Hedung dan lain-lain. Kesatuan yang diikat oleh ritus tersebut akan senantiasa menjaga nilai-nilai dasar ke-Lamaholot-an seperti persatuan, gotong-royong, tolong-menolong, saling menghargai, menghormati dan saling mengunjungi.
Selain menggali dan mempertegas kembali nilai-nilai Lamaholot yang mulai menghilang dan ditinggalkan, dengan adanya festival ini, diharapkan tumbuh kesadaran dalam diri masyarakat akan rasa memiliki yang diikuti dengan kewajiban untuk melestarikan warisan leluhur sehingga mendorong kemunculan berbagai komunitas dalam masyarakat itu sendiri, baik itu komunitas seni maupun budaya yang berbasis masyarakat.
Festival Lamaholot Flores Timur 2019, sejatinya bukan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur, melainkan milik seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Parisiwata dan Kebudayan sifatnya hanya mengkoordinasi, mengkonsolidasi serta mendorong semua elemen dan komunitas yang ada dalam masyarakat untuk turut serta bergotong-royong melaksanakan dan menyukseskan Festival Lamaholot Flores Timur 2019 sebagaimana platform gotong-royong yang diusung oleh Indonesiana. Gotong-royong dari semua stake holder baik itu Pemerintah, Adat dan Agama.
Dengan adanya gotong-royong dan kerjasama lintas sektor dan lintas elemen, diharapkan gaung dari festival ini dapat sampai ke seluruh masyarakat Flores Timur khususnya dan Indonesia secara umum, serta dengan bantuan pemberitaan oleh media, diharapkan bisa menarik semakin banyak orang terutama dari luar Flores Timur untuk dapat hadir menyaksikan festival seni budaya ini.
“Marilah mulai mencintai dari apa yang kita miliki. Muliakan apa yang kita miliki.”

Tentang Platform Indonesiana:
Indonesiana adalah platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang. Indonesiana diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Indonesiana dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia.
Pada tahun pertamanya, Indonesiana telah melakukan pendukungan untuk 13 festival seni budaya yang tersebar di 9 daerah di Indonesia dengan melibatkan pemerintah daerah, komunitas, pusat kebudayaan/kedutaan asing serta swasta dalam berbagai bentuk kolaborasi. Tahun 2019 ini Platform Indonesiana mendukung 20 festival seni budaya, seperti Festival Sindoro Sumbing, Festival Inerie, Festival Danau Ranau, Festival Foho Rai, Festival Panji, Festival Seni Multatuli, Silek Arts Festival, Festival Saman serta Festival Lamaholot Flores Timur 2019, dan lain-lain.

Larantuka, 20 Agustus 2019
TIM Komunikasi dan Kerjasama

News Feed