by

Peringatan Kemerdekaan Hanya Gerakan Simbolik ?

-Opini-89 views

Wartasulsel.net,- Makassar- Genap 74 tahun Indonesia sampai pada usia yang cukup tidak muda lagi. Ini dimulai sejak sang Singa Podium, Ir. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tempo yang relevan berkesima yakni tepat pada Jum’at, 17 Agustus 1945. Pada saat itu, haru hara masyarakat dari Sabang sampai Merauke meraungkan kebahagiaan yang tiada kira. Walaupun, sempat kolonial Belanda secara de Jure belum mengakui kemerdekaan yang diperoleh bangsa Indonesia pada saat itu. Belanda bahkan mengganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi setelah penyerahan kedaulatan yang ditanda tangani pada tanggal 27 Desember 1949 di Istana Dam Amsterdam. Tetapi , secara de Facto Kemerdekaan Indonesia telah digemakan dan ditandatangani secara legitimate oleh bapak proklamator bangsa. Ini menandakan syarat deklaratif negara Indonesia telah terpenuhi secara berdaulat. Sungguh, jika kita bahas secara detail perjuangan yang dilalui tokoh-tokoh pejuang pada masa itu sangat memilukan. Sudahkah kita merenungkan lalu memaknai secara hikmat perjuangan tersebut? Atau hanya sekadar kita jadikan ajang hura-hura yang sifatnya jauh dari belas kemanusiaan atau jangan-jangan hanya gerakan simbolik semata?
​Euforia semarak kemerdekaan diekspresikan sedemikian rupa. Mulai di pelosok negeri, penjuru desa, Lingkup kabupaten hingga di lini pusat dalam berbagai bentuk aktivitas yang terkesan simbolik. Pengekspresian itu sekiranya dijadikan evaluasi kenegaraan baik dalam aksi dialog kebangsaan, upacara penaikan bendera, lomba-lomba tradisional masyarakat desa, baris berbaris antar pelajar, demonstrasi para aktivis dan yang paling intim ialah penuangan harapan bahkan kritik lewat sosial media secara serentak. Menjadi suatu momentum yang wajib bagi mereka yang berada pada tataran kesadaran kritis. Dalam artian, kegiatan-kegiatan yang digelarnya tidak hanya sampai pada peringatan hari itu saja, tidak hanya pada gerakan simbolik semata namun lebih memaknai secara mengakar dan paling tidak ada output tersendiri setelahnya.
Penulis ambil contoh konkrit yakni karnaval budaya dalam perkemahan tingkat kecamatan yang dilaksanakan di desa Massamaturu, kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar. Dalam karnaval tersebut dilakukan gerakan pawai budaya dengan berbagai macam penampilan, yakni ada yang berpenampilan layaknya seorang petani dengan menggandeng cangkul dan sayur-sayuran, ada yang memakai pakaian adat, ulama, guru, pejabat dan lain sebagainya. Namun, sayangnya dalam gerakan tersebut hanya sampai pada pawainya saja, tidak menyentuh kepada penjelasan runtut pemaknaan apa kira-kira yang seharusnya dipetik pada pelakanaan pawai tersebut. seakan-akan yang mengikutinya gagal dipahamkan, yang menontonnya pun hanya mentertawai keanehan riasnya. Mereka hanya didandani dan diberikan pakaian oleh pendamping kemahnya. Lalu diarahkan untuk keliling sesuai kloter tanpa mengindahkan sisi aksiologinya. Ini yang penulis sebut memeriahkan hari kemerdekaan hanya sampai pada gerakan simbolik semata.
​Sangat disiakan kira-kira jika tidak ada keberanian mengevaluasi kegiatan-kegiatan terkait peringatan hari-hari besar seperti itu. Selain hanya mengulang-ulang gerakan statis, juga paling beresiko yakni hanya membuang-buang anggaran jika tidak ada pemaknaan yang bisa dipetik setelah digelarnya acara. Penulis lagi-lagi ambil contoh, yakni dialog kebangsaan yang menghadirkan narasumber yang tidak lain adalah cendekiawan, politisi, agamawan atau tokoh-tokoh organisatoris berpengaruh lainnya, namun pelaksanaan dialognya kalau bukan di hotel/ gedung pasti di café-café yang tergolong tempat-tempat tersebut hanya bisa dihadiri oleh kalangan strata atas saja. Mengapa dialog-dialog tersebut tidak dilaksanakan di desa-desa atau di daerah-daerah yang masih rendah tingkat pengetahuannya. Sehingga, kesan pertentangan kelas tidak semakin kembangbiakkan di negeri ini, paling tidak pada saat peringatan kemerdekaan. Penulis berharap sewaktu-waktu para kaum terpelajar sudi meninggalkan jejak pengetahuannya di lingkup yang buta huruf, buta baca dan buta moral sekalipun.
Menyoal pula pada tatanan masyarakat desa yang sudah dari sejak zaman edan memperingati hari kemerdekaan dengan gigihnya mengikuti lomba-lomba tradisional. Patut diapresiasi seperlunya, mulai dari kalangan anak-anak, pemuda hingga ibu-ibu turut andil memeriahkan acara tersebut. Macam banyak lombanya, dari berkelompok hingga individu seperti tarik tambang, lari karung, panjat pinang, dan lain sebagainya. Seandainya masyarakat paham, tentu bukan fokusnya mereka pada hadiah atas capaian mereka mengikuti lomba saja, tetapi lebih kepada pemahaman makna pengadaan lomba-lomba tersebut. Kira-kira sisi moral apa yang bisa dipetik pada lomba tarik tambang? Panjat pinang? Atau lomba lainnya. Salah satunya ialah dengan kerja keras, kerja sama dan kemauan yang gigih ada hasil yang baik atas perjuangan. Begitulah pejuang kemerdekaan dahulu merebut tanah air, dengan semangat yang menggelora bahkan sampai pada titik darah penghabisan mereka tidak jerah melawan ketertindasannya terhadap kolonialisme dan imperialisme barat.
Mengingat celoteh the Founding father “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjaja tapi perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan saudara sendiri”, semestinya kita hadap diri masing-masing, menoleh kepada kepentingan bangsa, bukan pada kepentingan golongan atau diri sendiri saja yang hendak diakomodir. Sehingga, kemerdekaan yang kita maknai selama ini bisa mewujud sebagai gerakan yang memperhatikan hak-hak kemanusiaan secara kolektif.
Akhir penulis, Jadilah kau kaum yang benar-benar merdeka, kaum yang sadar akan tanggung jawab sosial.
Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan Ke-74
Jayalah Bangsaku
Jayalah Negeriku.

(Susi Susanti/redws)

*Kader Himpunan Pelajar Mahasiswa Takalar

News Feed