by

Pendidikan Bahasa Indonesia UNJ Optimalkan Peran di Industri Kreatif

-Peristiwa-11 views

Wartasulsel.net,- Jakarta- Era industri kreatif di berbagai bidang sudah tidak terbendung lagi. Lalu, apa yang bisa dilakukan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?

Itulah isu penting yang digulirkan dalam Gelar Wicara “Peran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Industri Kreatif” Prodi PBSI dan Badan Eksekutif Mahasiswa PBSI UNJ pada hari ini, Selasa 18 Juni 2019 di Kampus UNJ Rawamamgun Jakarta.

Acara dalam rangka Dies Natalis ke-55 UNJ ini dibuka oleh Dekan FBS UNJ, Dr. Liliana Muliastuti, M.Pd. dan menghadirkan narasumber: 1) Syarifudin Yunus (Ketua IKA BINDO UNJ dan Pendiri TBM Lentera Pustaka) dan 2) Iip Saripul Hanan (Penulis Naskah dan Sutradara Sinetron Dunia Terbalik). Ikut hadir160 mahasiswa dan para dosen seperti Lia Marliana (Koorpordi PBSI UNJ), Prof. Dr. Endry Boeriswati, Sam Muchtar Chaniago, Sri Suhita, dkk dengan penuh antusias.

Melalui acara ini, mahasiswa PBSI FBS UNJ setidaknya mendapat informasi dari alumni yang tergabung dalam IKA BINDO FBS UNJ tentang peluang dan potensi yang ada dalam industri kreatif yang saat ini berkembang pesat. Dan ilmu bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam meningkatkan laju pesat industri kreatif seperti bidang: periklanan, kerajinan, desain, sinetron/film, penulisan naskah, jurnalistik, penerbitan, riset, kuliner, bahkan wisata.

“Intinya, ilmu bahasa sebaiknya dipakai di industri kreatif daripada bertutur kata yang tidak produktif. Ini saatnya mahasiswa membuka mata ada potensi besar di industri kreatif. Intinya, mahasiswa bisa menjadi apa saja yang dia mau. Karena itu, harus punya tujuan dari sekarang dan selalu siap berkompetisi untuk menekuni industri kreatif, termasuk dalam penulisan naskah sinetron” ujar Iip Sariful Hanan, sutradara Dunia Terbalik.

Di tengah persaingan yang ketat, suka tidak suka, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia harus mengambil peran lebih besar agar mampu menjadi “pemain” bukan “follower” di ranah industri kreatif. Karena hakikatnya, beragam industri kreatif yang berkembang saat ini tidak dapat dipisahkan dari bahasa Indonesia. Karena itu, mahasiswa PBSI harus memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri kreatif bahkan dunia kerja.

“Jiwa kreatif pada dasarnya harus didasari rasa cinta, fokus, dan energi untuk berkarya. Itulah spirit yang harus dimiliki mahasiswa PBSI di dunia kerja. Karena itu penting bersikap bahwa bahasa Indonesia merupakan disiplin ilmu yang patut dibanggakan bila dikuasai” tambah Syarifudin Yunus, Ketua IKA BINDO UNJ dan Pendiri TBM Lentera Pustaka.

Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia pasti sangat siap menyonsong era revolusi industri 4.0 dan industri kreatif sekalipun bila proses pembelajaran yang ada mampu menghasilkan orang-orang yang memang piawai dan mampu menjadi solusi berbahasa yang berkembang di masyarakat. Karena berbahasa, sangat bergantung pada sikap orang yang belajar dan mempelajarinya. Bila sikapnya meremehkan maka remehlah bahasa. Bila sikapnya menjunjung tinggi maka mulialah bahasanya.

Ke depan, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai disiplin ilmu adalah mutlak dan tidak terbantahkan. Namun dalam realisasi belajarnya, ada segudang agenda yang tetap harus dibenahi. Agar pendidikan bahasa dan sastra Indonesia bisa lebih berdaya guna, dan mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja dan industri kreatif.

Jadi, belajar bahasa dan sastra Indonesia memang penting. Tapi bersikap positif dan kreatif itulah yang menyelamatkan disiplin ilmu bahasa dan sastra Indonesia.

News Feed