by

Pemuda Dalam Potret Global

-Opini-106 views

Oleh : Ilham Permana
Ketua PC Pemuda Muhammadiyah Makassar

Wartasulsel.net, – Pemuda adalah harapan. Di tangan merekalah terletak Masa Depan suatu bangsa. Merujuk pada pernyataan ”pemuda adalah harapan bangsa”, kuantitas yang besar tidak berarti mengalahkan kualitas. Artinya, jumlah pemuda yang besar pada suatu negeri tidaklah bernilai apa-apa ketika tidak ada atau sedikit sekali yang berkarya, mandiri, profesional, serta berakhlak tinggi.

Menurut hemat saya, pemuda yang diharapkan itu harus memenuhi dua syarat utama sebagai berikut: Pertama, kehadirannya tidak menambah masalah. Kedua, kehadirannya memberikan solusi atas masalah yang ada.

Momentum dalam ikrar Sumpah Pemuda tentunya bukan hanya sebatas rumusan teks yang diteriakkan sesaat, kemudian dilupakan, namun lebih dari itu mampu mengobarkan semangat persaudaraan, persatuan, dan rasa nasionalisme untuk membangun bangsa Indonesia yang mandiri, merdeka serta memiliki daya saing di kancah dunia.

Generasi muda saat ini senantiasa dituntut untuk melanjutkan tugas mempertahankan dan menjujung tinggi asas persatuan bangsa, menciptakan situasi yang kondusif ditengah kehidupan masyarakat, serta turut menjaga dan melestarikan budaya bangsa, namun semangat persatuan yang telah menjadi dasar ini mulai redup seiring berkembangnya zaman dan meningkatnya berbagai permasalahan sosial hingga sampai pada era global saat ini.

Permasalahan sosial merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan masalah tersebut terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri dan akibat dari hubungan dengan manusia lainnya.

Berbagai polemik paradigma dan kehidupan sosial modern yang di hadapi sebagian generasi muda saat ini telah menjadi salah satu faktor hambatan, sehingga Moral dan Kualitas Pemuda seakan bergeser dari nilai relevansi yang sesungguhnya.

Ada beberapa fakta permasalahan sosial yang saat ini dengan mudah dapat dilihat, mulai dari merebaknya sikap apatis dan individualis yang menyebabkan generasi muda lebih cenderung bersikap acuh dan mementingkan diri sendiri, berkembangnya paham sukuisme dan primordial yang lebih mengedepankan suku dan adat istiadat tertentu, memudarnya etika dan norma nilai luhur kebangsaan, lemahnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, munculnya gerakan-gerakan separatis, terorisme, tingginya tingkat kriminalitas, serta pengadaptasian pola hidup waternisasi (kebarat-baratan) yang semakin memudarkan kecintaan para pemuda-pemudi Indonesia dalam melestarikan warisan budaya nasional, dan masih banyak lagi problem sosial yang sedang dialami oleh para generasi muda saat ini.

Persoalan klasik berupa fakirnya kecintaan terhadap budaya bangsa pun masih menjadi perhatian penuh bagi bangsa ini. Tidak sedikit dari generasi muda saat ini semakin jauh dari jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Penjajahan budaya asing semakin berkembang dan siap menjangkiti para generasi muda dengan istilah modernitas kekinian. Perubahan yang begitu bertahap pun terjadi mulai dari pergeseran moral dan etika, gaya hidup hedonis, hingga pola pikir yang ekstrimis.

Peran pemerintah sebagai pengontrol unsur asing yang sudah menjamur sepertinya belum optimal sebab arus budaya asing yang masuk ke Indonesia melalui fasilitas per-film-an, liberalisasi pendidikan, dan perekonomian sangatlah terbuka lebar.

Tidak lain yang menjadi sasaran utama adalah kaum muda. Sudah banyak contoh yang dapat kita lihat dan tak bisa kita pungkiri seperti seks bebas, narkoba, tawuran yang sekarang seakan telah menjadi hal lumrah bahkan wajib bagi remaja di Indonesia.

Dengan melihat hal ini, esensi Pemuda seakan telah dikikis zaman bahkan mulai dilupakan oleh sebagaian generasi muda. Hal yang cukup memprihatinkan saat ini bahwa tidak sedikit dari para generasi muda mengalami krisis nasionalisme dan degradasi moral sehingga perwujudan persatuan serta peningkatan kualiatas Pemuda Masih jauh dari tahap Berkembang.

Menyikapi persoalan ini, pemberdayaan generasi muda di berbagai aspek dan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat sangatlah penting dan untuk lebih meningkatkan kualitas pemuda-pemudi Indonesia dalam mewujudkan persatuan bangsa, maka ada beberapa aspek yang dapat di kembangkan diantaranya: mereaktualisasikan semangat nasionalisme pemuda merupakan salah satu bentuk solusi yang tepat untuk mempertahankan ideologi bangsa.

Penanaman dini nilai-nilai moral serta wawasan kebangsaan diharapkan mampu menjadi filter terhadap budaya dan pola hidup asing yang tidak sesuai dengan ideologi serta identitas bangsa Indonesia. Orientasi pendidikan dapat pula dijadikan sebagai sarana untuk membangun jiwa nasionalisme generasi muda untuk berkiprah dimasa yang akan datang.

Pemberdayaan pemuda dalam wadah organisasi dan kegiatan sosial dapat juga menjadi ajang peningkatan potensi dan bakat dari para generasi muda, serta mampu melatih diri dalam berinteraksi sosial secara menyeluruh dengan sikap keterbukaan sehingga situasi yang kondusif dengan penuh toleransi di tengah masyarakat dapat terwujud.

Salah satu wujud penyelenggaraan pemberdayaan pemuda ini, dapat diaplikasikan dengan berbagai macam bentuk sosialisasi dan pembelajaran baik dari segi sosial, Negara, maupun spiritual yang diatur secara terstruktur dan terus berlanjut untuk melatih kemampuan kemandirian serta menumbuhkan tingkat kesadaran generasi muda akan pentingnya memupuk rasa persatuan bangsa.

Proses pemberdayaan ini, tidak terlepas dari peran serta kaum pemuda saja tetapi dukungan dari berbagai unsur masyarakat dan pemerintah tentu sangat diharapkan agar dapat memacu tumbuh kembangnya semangat dan mencapai hasil yang optimal.

Semoga segala harapan, upaya, dan tujuan persatuan dan perkembangan Bangsa dapat tercapai serta lebih terarah, demi terwujudnya masyarakat yang cerdas, toleran, adil, dan makmur.(*)

News Feed