by

Hakikat Perempuan: Sudahkah Anda Memahaminya?

Wartasulsel.ner,- Makassar-Sejak dulu, manusia dikaburkan oleh nilai-nilai material dewasa ini, yang sangat membutuhkan pengetahuan dan perhatian tentang dirinya. Namun, pada kenyataannya manusia lebih banyak memperhatikan alam, bukan dirinya. Padahal manusia dapat saling membahayakan bahkan memusnahkan, akibat ulahnya sendiri yang tidak mengenal baik dirinya. Demikianlah jika dikaitkan dengan hakikat perempuan. Penulis beranggapan, perempuan adalah separuh masyarakat. Jika gagal memahaminya, bersiaplah untuk dilindas oleh zaman. Pada dasarnya, laki-laki berasal dari rahim perempuan. Tentu secara universal, tidak keliru jika dikatakan laki-laki adalah perempuan itu sendiri. Untuk itulah, laki-laki dituntut untuk memahami perempuan, agar tidak ada ketidaklayakan atau ketimpangan yang terjadi. Namun, sudahkah laki-laki hari ini memahami hakikat perempuan? Atau jangan-jangan perempuan itu sendiri yang tidak memahami keberadaannya?

Dalam suasana maraknya tuntutan seruan keadilan dan kesetaraan, seringkali hilang hak asasi dan sirna makna kesetaraan yang dituntut hanya karena mereka yang menuntut belum seutuhnya memahami kesetaraan apa yang dituntut. Tentu bukan hal-hal yang bersifat kodrati. Namun ini tidak melulu akan mengurangi kedudukan satu pihak dan melebihkan pihak lain. Apalagi sangat jelas bahwasanya antara lelaki dan perempuan sama-sama berkewajiban menciptakan situasi harmonis dalam masyarakat. Situasi yang dimaksud harus sesuai dengan kodrat dan kemampuan masing-masing. Berkaca pada adagium yang mengutarakan “Keberpasangan mengandung persamaan sekaligus perbedaan. Persamaan dan perbedaan itu harus diketahui agar manusia dapat bekerja sama menuju cita-cita kemanusiaan.” Ini semakin memperkuat, mengapa kita dituntut untuk mengetahui perbedaan-perbedaan asasi antar keduanya, agar tidak salah kaprah dalam memahami seruan keadilan yang dituntut, terlebih kepada keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki perempuan.

Perlu kita ketahui, Berdasar pada pakar kedokteran dan psikologi dikemukakan beberapa perbedaan hakiki yang tidak jarang kebanyakan orang luput memahaminya antara lain bahwa lelaki dan perempuan masing-masing memiliki hormone khusus dan ciri biologis tertentu yang kadarnya berbeda. Darahnyapun memiliki perbedaan. Jumlah butir-butir darah merah pada perempuan lebih sedikit ketimbang lelaki, kemampuannya bernapas pun lebih rendah daripada lelaki. Namun, perempuan tidak mesti selalu dikatakan sebagai jenis yang lemah. Kemampuan perempuan melawan kuman dan virus lebih besar daripada lelaki. Tentu ada imbas dari perbedaan-perbedaan tersebut. Misalnya butir-butir darah merah perempuan yang lebih sedikit akan berdampak langsung pada kemampuan paru-paru perempuan yang lebih sedikit juga menghirup udara daripada laki-laki karena secara umum, lelaki lebih cenderung pada aktivitas yang menguras energi dan bahkan melibatkan gerakan bahkan perkelahian, dibanding perempuan yang cenderung pada keramahan dan aktivitas yang mendamaikan. Itulah mengapa penulis sepakat jika dikatakan tiada laki-laki yang lebih damai, tanpa perempuan di belakangnya yang bersikeras mendamaikan.
Berakar pada pandangan bahwa citra biologis/fisiologis antara laki-laki dan perempuan itu berbeda menimbulkan pandangan diskriminatif. Oleh sebab itu, terjadilah kontroversi dalam memandang eksistensi perempuan.

Menurut pandangan para ahli kontemporer,  diketahui bahwa perbedaan kepribadian laki-laki dan perempuan banyak dipengaruhi oleh ekspektasi dan sosialisasi dari orang tua daripada oleh faktor fisiologis. Faktor biologis atau fisiologis hanya mempersiapkan berlangsungnya tahapan-tahapan penting yang mempengaruhi kepribadian seseorang. Maka, citra fisik tidak meniscayakan citra nonfisik antara perempuan dan laki-laki. Kita patut menyingkirkan citra bias gender yang hanya didasarkan pada perbedaan biologis semata yang terkesan cukup simplistik.

​Dalam Al-Qur’an sekalipun, tidak ada satupun ayat yang menunjukkan bahwa harkat, martabat dan peranan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Selain itu, tidak ada satupun anggapan dalam Al-Qur’an yang melantangkan bahkan meremehkan perempuan berkaitan dengan watak dan struktur fisikologisnya.

Pada hakikatnya, sebaiknya kita tahu bersama Al-Qur’an pun mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara biologis, tetapi tidak untuk saling mengintervensi satu sama lain sebagaimana firman Allah “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahkan Allah terhadap sebagian kamu atas sebagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang telah diusahakannya, dan perempuan juga mempunyai hak atas apa yang diusahakannya.” (Q.S Annisa [4]:32) . Dari ayat ini bisa kita tangkap bahwa perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dari segi biologis/fisiologis, tetapi tidak selayaknya menjadi pembeda (diskriminasi) dengan dalih delegitimasi oleh agama melalui perilaku sewenang-wenang, marginalisasi, bahkan subordinasi laki-laki atas perempuan.

​Hakikat perempuan jika dipahami secara lebih jeli yang lambat laun akan menemui titik keadilan yang diinginkan. Idealnya, antara laki-laki dan perempuan seyogyanya saling berelasi untuk mengungguli diri pada sifat-sifat yang lebih manusiawi. Inilah salah satu pemicu, mengapa antara perempuan dan laki-laki tidak dapat berdiri sendiri. Antara keduanya saling membutuhkan untuk menutupi serba serbi kekurangan maupun keistimewaan yang dimilikinya. Penulis berharap, apa yang menjadi hakikat perempuan sewajarnya dipahami baik-baik, sekalipun dari kalangan perempuan itu sendiri, terlebih oleh lawan jenisnya. Hal ini guna mempertahankan sisi-sisi ideal kehidupan yang ditopang oleh adagium.

“ Perempuan adalah ibu kehidupan. Sebab, kehidupan lahir dari rahim si sosok perempuan tersebut.” Selain itu pemahaman hakikat perempuan ditujukan untuk menghindari kesalah kaprahan dalam menuntut isu-isu terkait kesetaraan gender. Untuk itu, kepada perempuan-perempuan yang senantiasa berada pada garis-garis perjuangan atas hak, terlebih dahulu jangan lupa meloyalkan diri pada pengetahuan-pengetahuan dasar atas capaian tuntutan, yang sebenarnya memerlukan perbandingan antara hakikat/kodrat perempuan dan sekadar kontruksi atas perempuan. Penulis tekankan, perjuangan akan dangkal tanpa pondasi pengetahuan sekaligus pemahaman.
Bagi penulis : “Kodrat adalah keistimewaan. Siapapun kamu? Tidak akan mampu mengubah kodrat, termasuk kodrat perempuan.”
Tepat pada perayaan 21 April, penulis ucapkan Selamat hari Kartini untuk seluruh perempuan-perempuan di bumi pertiwi ini.
Selamat berjuang, berkarya dan merdeka tentunya.
Hiduplah jiwa-jiwa keperempuanan.
Hidup Perempuan Berjuang!

 

Penulis : Susi Susanti

News Feed