by

Ironi Kepemimpinan Hipermata

-Opini-242 views

​Wartasulsel.net,–  Daerah merupakan salahsatu wadah bagi pelajar atau mahasiswa untuk mengeksplor dan mengembangkan jiwa kepemimpinannya.

Dari sinilah akan hadir bibit-bibit pemimpin yang ideal nan berpengaruh di daerahnya dimana ia bergerak.

Diketahui, melalui kemampuan intelektual, spiritual maupun keterampilannnya sebagai pemuda yang lebih terdidik seharusnya menjadi tauladan bagi masyarakat setempat, agen perubahan, dan paling penting sebagai alat control bagi kebijakan-kebijakan yang diberlakukan oleh pemangku jabatan di tingkat daerah.

Namun, Masihkah organisasi daerah hari ini mempertahankan idealismenya? Masihkah mereka mengandalkan proses yang terlepas dari kepentingan? Masihkah mereka mengutamakan kepentingan umum/masyarakat dibanding kepentingan internalnya?
Hal ini yang mendasari penulis ingin sedikit berbincang-bincang terkait salahsatu organisasi daerah. Adapun organisasi tersebut ialah Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Takalar (HIPERMATA).

Berdasarkan AD/ART, organisasi ini didirikan di Pattalassang pada tanggal 28 oktober 1964 dengan tujuan terbinanya pelajar mahasiswa yang berjiwa akademik dan bertanggungjawab dalam rangka terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Tuhan yang maha ESA.

Sungguh terbaca hikmat dan mulia tujuan yang dimiliki hipermata tersebut, apalagi dilengkapi dengan sifatnya yang independent. Namun, ada banyak oknum atau kader yang lalai akan tanggungjawab, sehingga seenak jidatnya menafsirkan tujuan hipermata.

Padahal dalam rumusan konstitusi jelas hipermata bukanlah organisasi massa dalam artian fisik dan kuantitatif semata, sebaliknya hipermata secara kualitatif merupakan lembaga berjiwa akademik, mengemban ide, berpotensi mendidik serta membimbing anggotanya untuk tujuan dengan cara-cara yang benar dan efektif.
Hiruk pikuk dinamika organisasi, Hipermata diketahui pecah menjadi dua kubu.

Tentu ini yang menjadi keresahan para kader-kader muda bahwasanya hipermata hari ini sedang tidak baik-baik saja, sedang tidak pada koridor konstitusi, sedang memihak pada kepentingan senioritas, sedang berbentur keras oleh ego-ego sectoral. Terbukti, faktanya hipermata sampai hari ini masih menyandang desas-desus dualisme kepemimpinan pengurus besar.

Ini terjadi sejak tahun 2010 yang dimulai pada saat kepemimpinan Supriadi Sannong. (ungkap salahsatu kader hipermata berinisial TM)
Sangat ironi jika dipikir-pikir, wadah yang didalangi oleh kaum intelektual muda malah terkesan gampang digiur oleh kepentingan.

Wadah yang seyogianya sterile atas klaim-klaim kepemilikan malah ditundukkan dan gampang digerakkan oleh kekuatan senioritas. Wadah yang semestinya merektut tanpa keberpihakan malah membatasi diri pada kalangan pelajar atau mahasiswa tertentu saja.

Sangat jelas kehati-hatian mereka atas pencitraan untuk tidak dikritik, dan parahnya untuk tidak menerima penyatuan pendapat. Ini sama saja mematikan lahan para kaderisasi untuk berproses menemukan jati dirinya masing-masing.

Ada banyak kader muda yang enggang turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang disponsori oleh hipermata sendiri dengan alasan mereka bukan bagian dari hipermata kubu ini, apalagi kubu itu. Padahal , bermaknanya suatu kegiatan jika bisa terbuka dan diikuti lebih banyak orang, bukan pada kelompok tertentu saja.

Bukan hanya itu, Terselenggaranya Musyarawah Besar (MUBES) pada april tahun lalu, bersamaan dengan terpilihnya formatur ketua umum PB hipermata dari salahsatu kubu, nyatanya semakin memperkecil kemungkinan terjadinya penyatuan/perdamaian atas dualisme yang terjadi di batang tubuh hipermata.

Entah apa yang menjadi titik sentral kepentingan dari beberapa kalangan. Sehingga, ada-ada saja yang bersikeras memperdalam jurang pecahnya organisasi daerah tersebut.
Belum lagi menyinggung persoalan asrama hipermata, ini juga yang mempertegas ranah kubu.

Seolah-olah anggapannya aspura 1 ditinggali oleh kubu baji ateka sedangkan aspura 2 ditinggali oleh kubu bontomene.

Klaim-klaim seperti inilah yang ikut memperkuat pecahnya suatu organda, seakan-akan kepemilikan tanah diklaim oleh golongan tertentu, padahal seharusnya dimiliki bersama.

Nampaknya, Dari kedua kubu semakin niat memegang kendali hipermata dan mempertahankan eksistensinya.

Ini terbukti dari kubu yang satu mempertegas penolakannya atas aksi para demonstran yang menuntut kejelasan pembangunan asrama putra 4 dan perbaikan asrama lainnya. (dilansir dari tribun timur 01/04/19).

Namun, dari kubu yang lainnya tetap menindaklanjuti aksi para demonstran yang sempat mengundang kontroversi dari pihak pemda.

Kekuatan pemuda semestinya akan lebih disegani, seandainya tidak ada pemilahan atau pemetakan kekuasaan.

Ini bisa dilihat dari Gerakan mahasiswa 98 yang mampu menumbangkan rezim soeharto karena penyatuan kekuatan segenap mahasiswa. Pada saat itu mereka tidak mengklaim dari mana ia berasal, apa sih kepentingan mereka bergabung dalam gerakan tersebut, Namun yang ada mereka hanya focus pada pencapaian tujuan.

Penulis berharap Hipermata kedepannya mampu menyembuhkan diri dari penyakit egoismenya baik dari kubu baji ateka maupun kubu bontomene, mampu mereduksi kepentingan-kepentingan yang kontra terhadap kepentingan umum.

Mampu meningkatkan daya kritisnya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, dan paling penting barangkali berencana islah demi terwujudnya kaderisasi yang bernapaskan tujuan hipermata.
Tegakkan siri’ napacce , Naki a’bulo sibatang
Takalar Butta Panrannuang!

Penulis : Susi susanti (Berdasar konstitusi, Kader Biasa Hipermata)

News Feed