by

Konvergensi Media? Manifestasi Penjajahan Gaya Baru

-Opini-34 views

Oleh: Achdan Pratama
Wartasulsel.net, – “Suatu pemandangan yang tidak indah ketika masuk dalam rumah, mengucapkan salam kemudian melihat seisi rumah sibuk dengan Handphonenya masing-masing, sampai lupa membalas salam. Terbesit tanya dalam hati, apakah kecanggihan teknologi sekarang adalah cita-cita dari 74 tahun kita merdeka, atau kecanggihan teknologi sekarang adalah perwujudan penjajahan gaya baru yang mengasingkan kita dalam hakikat kehidupan yang tak bisa terlepas dari keberadaan manusia lainnya???”.

Kemajuan zaman turut diikuti oleh kemajuan pemikiran manusia, pemikiran manusia ini kemudian menciptakan berbagai hal yang dapat memudahkannya dalam hidup di dunia yang serba dinamis (berubah-ubah) ini.

Akan memakan banyak waktu ketika membahas sejarah manusia (ditambah penulis memang tidak tahu jelas sejarahnya :v), sehingga yang akan penulis bahas dalam tulisan ini hanya berkaitan tentang media saja, mungkin lebih kepada impact (dampak) dan menyentuh sedikit sejarah dari media itu sendiri.

Media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang memiliki arti sebagai “perantara” atau “pengantar”, yaitu perantara sumber pesan yang disampaikan oleh komunikator (pemberi pesan) kepada komunikan (penerima pesan). Dengan pemahaman yang lebih mudah, media merupakan alat untuk penyampaian pesan (entahlah yang mana lebih mudah dipahami, yang jelas pembaca mengerti!).

Dalam sejarahnya, media terbagi dalam empat era, yaitu: Era Lisan, Tulisan, Percetakan dan Teknologi. Kemajuan media, bukan berarti hal yang lampau hilang, melainkan mereka berusaha mengadaptasikan dirinya dalam segala masa dengan kualitas yang berbeda, sampai pada munculnya istilah “Konvergensi Media”. Konvergensi Media merupakan penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan kedalam satu titik tujuan.

Konvergensi media biasanya merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang dimungkinkan dengan adanya konvergensi jaringan.

Konvergensi jaringan adalah koeksistensi efisien telepon, video dan komunikasi data dalam satu jaringan (btw pengertian konvergensi media ini penulis dapat di wikipedia, jadi mungkin agak susah dimengerti atau mungkin penulis yang kesulitan mengerti:v).

Secara sederhananya Konvergensi Media bisa dipahami melalui Handphone, betapa Handphone melalui semua aplikasinya yang berbeda, kemudian dapat diakses secara bersamaan oleh penggunanya, seperti Facebook, WhatsApp, Youtube dan media lainnya.

Nah… sejarah media dan pengertian konvergensi media telah penulis paparkan walaupun mungkin masih secara umum dan tidak memuaskan pembaca.

Namun yang paling penting dari itu semua adalah dampak dari keberadaan konvergensi media itu sendiri, bukan pertanyaan “apakah” melainkan pertanyaan “bagaimana seharusnya”, sehingga kita dapat menggunakan kecanggihan teknologi sekarang bukan sebagai budak jajahan melainkan sebagai manusia yang sadar, sadar bahwa teknologi adalah alat yang membantu manusia, bukan mengalienasi manusia dalam kehidupannya.

Untuk menjawab dampak dari keberadaan konvergensi media ini, maka diperlukan “Judgment de faite”, atau pengumpulan fakta sampai pada “Judgment de velue”, atau penilaian (anggap saja tulisan yang penulis miringkan itu bukti bahwa penulis nggk bodoh-bodoh amat :v). Ada beberapa fakta yang kemudian muncul dalam realitas sosial akibat daripada canggihnya teknologi, bagaimana alat kecil yang ada dalam genggaman manusia (Handphone) dengan segala media yang disuguhkannya mempengaruhi gaya hidup manusia, mulai dari lingkungan sosial, politik, sampai budaya.

Saya akan memberikan beberapa contoh buruk dalam lingkungan sekitar saya sebagai penulis akibat dari keberadaan konvergensi media yang berada dalam handphone, yang pertama adalah kurangnya interaksi sosial, bagaimana sekelompok orang berkumpul namun saling diam, masing-masing mengakses apa yang yang menjadi kebutuhannya melalui handphone, seakan-akan hidupnya mati ketika handphonenya mati; yang kedua terkikisnya budaya, hampir tak terlihat lagi seorang anak kecil bermain kelereng, bermain layangan, bermain permainan tradisional, yang kini digantikan dengan ucapan “tolong follow saya kak yah? Ini id Ig saya”; Selanjutnya mudahnya menerima berita tanpa melihat sumbernya, melihat keadaan masyarakat yang menjadi korban, yang saling menghujat dan membenci akibat dari kebebasan setiap manusia untuk menulis yang diinginkannya tanpa tahu bertanggungjawab (itu beberapa contoh buruk yang dialami oleh penulis, pembaca bisa tambahkan kok jika mau).

Beberapa dampak negatif diatas merupakan suatu ketidakbijaksanaan penulis ketika tidak mampu melihat sisi lain daripada keberadaan konvergensi media, yaitu fakta positif dari keberadaannya, salah satu contoh mudahnya adalah tidak mungkinnya sampai tulisan ini pada pembaca (hehehe).

Dalam hakikatnya, setiap hal didunia ini memberikan dampak negatif dan positif bahkan bernafas sekalipun. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah keberadaan konvergensi media dalam negara ini pada umumnya dan sekitar kita khususnya digunakan dalam hal positif atau sebaliknya? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.

Jadi letak penjajahannya dimana dong yah? Penjajahan dizaman dahulu terjadi ketika suatu wilayah dikuasai oleh Negara lain (penjelasannya singkat amat yah! :v), bagaimana mungkin kita terjajah dalam kemerdekaan? Kata dikuasai sangat perlu kita pandang secara luas, bukan sekedar ketika kolonial portugis, belanda ataupun jepang memaksa suatu masyarakat bekerja kemudian dikatakan terjajah.

Canggihnya teknologi sekarang adalah buah dari ilmu pengetahuan manusia, namun canggihnya teknologi ini yang kemudian mengasingkan manusia dalam kehidupannya, ketika masyarakat tidak dapat memahami untuk apa mereka hidup, apa tujuan mereka, bagaimana masa depan mereka, dan apa kandungan ideologi mereka, maka pada saat itu masyarakat berada dalam keterjajahan.

Mari kita lihat realitas kehidupan sosial sekarang, bagaimana masyarakat terjajah dalam berbagai bidang kehidupannya, hampir tidak ada lagi karakteristik ataupun keunikan darinya. Semuanya serba konsumsi, selama ada uang dalam dompet, kebiasaan dan gaya hidup masyarakat asing mereka tiru yang kemudian mengasingkannya dari kehidupan sekitarnya. Konvergensi media telah mempermudah masyarakat dalam kehidupan, mendapatkan informasi, berkomunikasi dengan teman jauh dan masih banyak lainnya.

Namun kemudahan ini yang kemudian membuat manusia terlalu nyaman, sehingga bukan hanya hal positif yang negatif (hal positif yang negatif adalah kebingungan penulis dalam membedakan hal positif dan negatif, seakan semuanya bercampur :v) diperoleh masyarakat, bahkan saking hebatnya media itu, membuat identitas suatu masyarakat hilang. Inilah hakikat dari penyakit masyarakat, mengikuti segala arus zaman tanpa didasari oleh pengetahuan sehingga secara sadar ataupun tidak, mereka ada dalam keterjajahan.

Sebagai kesimpulan, segala hal didunia ini pastilah berubah. Tetapi perubahan masyarakat bukan dengan mengikuti gaya hidup masyarakat asing dalam berbagai bidang kehidupan. Boleh saja masyarakat asing bergelimangan harta dengan perubahannya, namun ketika itu dijadikan alasan suatu masyarakat mengikuti kebiasaan agar kemiskinan masyarakat dapat hilang yang pada akhirnya akan menjadi penyakit dan hilangnya identitas otentik masyarakat, maka saya sebagai penulis secara pribadi memilih hidup dalam kemiskinan, karena perlu pembaca ketahui bahwa “kemiskinan adalah sesuatu yang berbeda dengan sakit”.(Susi)

News Feed