by

Perempuan Dalam Cengkraman Zaman

-Opini-315 views

Wartasulsel.net, – Beberapa hari yang lalu , telah diperingati Hari Perempuan Internasional. Hari yang dimaknai sebagai Perayaan tahunan untuk memperjuangkan hak perempuan. Mengingat ada seorang perempuan dari buruh pabrik tekstil melakukan demonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York.

Demonstrasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah, tetapi demonstrasi tersebut dibubarkan secara paksa oleh pihak kepolisian. Pada tanggal 8 Maret 1907, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai peringatan terhadap kasus yang terjadi 50 tahun yang lalu (dilansir dari id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Perempuan_Internasional).

Akan lebih indah nan bijaknya, barangkali Hari Perempuan Internasional tersebut diperingati bukan hanya dijadikan sebagai ajang seremonial semata. Namun, semestinya mewujud sebagai ajang refleksi diri bagi perempuan-perempuan khususnya di tanah Makassar ini.

Apalagi kita kenal budaya Makassar yang sangat menghargai dan meninggikan kedudukan perempuan serta telah memberi ruang kepada perempuan untuk berkontribusi di segala aspek kehidupan.

Karena, di zaman ini semakin tinggi kedudukan seorang perempuan di ukur sejauh mana ia memiliki peran dan pengaruh, baik di ranah pendidikan, politik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi bahkan di lingkungan keluarga sekalipun. Penulis ambil contoh dari aspek budaya : “maraknya uang panai yang menjulang tinggi berpatokan pada ukuran tinggi/rendahnya tingkat pendidikan, status turunan ataupun tingkat ekonomi perempuan itu sendiri.

Bahkan dalam kelas menengah atau yang berkecukupan dapat diukur tergantung dari bagaimana perempuan mempertahankan dirinya dalam cengkraman zaman yang serba maju ini.

Bisa diperkirakan pertahanan egosentrisme seorang perempuan beriringan dengan pesatnya kemajuan zaman. Hal ini yang lambat laun akan mencederai pertahanan diri perempuan. Terlihat dari mahasiswa-mahasiwa perempuan yang tahunya hanya berbelanja, make up dan nongkrong saja.

Tidak mengapa kalau masih sempat menyisipkan uang buku, tidak mengapa jika menyempatkan kuliah dan berlembaga di kampus, tidak mengapa jika sudah memiliki penghasilan sendiri, namun kebanyakan yang Nampak itu yang hanya mengandalkan harta orangtua saja untuk memenuhi zona nyaman dan hasrat foya-foya.

Terlalu jauh mengambil pemisalan, padahal siswa-siswa SMA perempuan yang di desa-desa tidak kalah parahnya dari itu. Kini yang terlihat, mereka tidak tahu malu dan takut lagi kepada orantuanya ketika di antar-jemput sama teman laki-lakinya.

Dan sudah terang-terangan mengupdate status dan foto, tanpa sekat dengan pasangan yang dicap sebagai kekasih labilnya itu.
Sangat jauh berbeda budaya zaman sekarang dengan budaya tahun 90 an .

Ini ungkapan dari sejumlah orangtua yang sebenarnya secara tidak langsung mengungkapkan kekhawatirannya terhadap anak perempuannya hari ini. Seakan-akan ia menganggap anak perempuan zaman sekarang sedang dalam cengkraman kemajuan zaman yang memilukan.

Seyogianya, sebagai syarat kokohnya suatu bangsa. Alangkah indahnya, jika Perempuan mengungguli diri dengan kecerdasan, bukan sekadar pada kecantikan.

Perempuan lebih menjaga keberadaan sikap malunya dibanding celoteh kotornya. Perempuan tidak segang meghambur alat-alat dapur daripada mengambil alternative makanan grabfood.

Inilah sebenarnya, yang dikehendaki yakni pertahanan jiwa-jiwa keperempuanan. Namun, pada realitanya nyaris terkikis di dalam diri sebagian perempuan-perempuan.
​Tidakkah Kalian khawatir melihat parahnya kondisi sebagian perempuan hari ini? Tentu.

Karena sangat jelas bahwasanya Peradaban Lahir dari Rahim-rahim perempuan , yang kemudian menjelma menjadi bibit-bibit pemimpin bangsa. Betul yang dikatakan pepatah ‘Perempuan adalah Madrasah pertama” yang menentukan kokohnya suatu keluarga bahkan Negara sekalipun.

Oleh sebab itu, penulis menorehkan harapan besar kepada Perempuan-perempuan di zaman sekarang. Jangan Sampai kalian yang disetir oleh kemajuan zaman, disesatkan oleh urusan percintaan yang masih Labil, diporakpondakkan oleh teknologi (selfi alay), dibuat riuh dan nyaman dengan polesan drama korea.

Jadilah perempuan terdidik yang focus menempa diri dari kreativitas-keativitas yang kontributif, mematok diri dengan kesibukan yang membawa manfaat banyak orang, Mengisi dan memoles diri dengan banyak bacaan dan kajian ilmiah, Mampu mempertahankan diri , sehingga tidak mudah goyah akan tantangan zaman.

Untuk perempuan-perempuan yang sedang dalam cengkraman zaman,
Selamat Mempertahankan jiwa keperempuanan
Mengulang Lagi, Selamat Hari Perempuan Internasional.

Penulis : Susi Susanti (Mahasiswa PPKn FIS UNM)

News Feed