by

Idealisme dan Partisipasi Politik Pemuda Milenial Di “Jaman Now”

-Opini-386 views

Wartasulsel.net, – April mendatang, pesta demokrasi akan digelar di setiap penjuru Indonesia. Semarak dari sabang sampai merauke terjalin spontan mulai dari kalangan rakyat biasa, pejabat, penguasa, pakar hukum,sosial, dan ekonomi serta pendidik, militer, ulama hingga pemuda.

Seakan-akan ada yang menganggap haram hukumnya, jika tidak mengikutsertakan dirinya sebagai partisipan politik. Sebab beberapa dari mereka merupakan pemerhati kebijakan negara , sehingga dengan tegasnya mengatakan kemajuan bangsa, kemajuan kita bersama sebagai masyarakat madani yang terhimpun di atas wilayah kekuasaan Indonesia.

Hal ini tentu merupakan tangga awal bagi periode baru kepemimpinan Indonesia sebagai wahana membangun akuntabilitas pemerintah daerah kedepan juga untuk merajut dan mewujudkan pelaksanaan good governance di Negara Kesatuan Republik tercinta ini.

Namun, Harus kita akui gejolak pertikaian, kampanye, dan perdebatan rentang terjadi. Tentu butuh rancangan jalinan antisipatif antara pihak keamanan, pengawas pemilu dan pelaksana pemilu sekalipun.

Barangkali kita temui paradoks pemilu dan pilkada yang kianz dijadikan pertukaran kepentingan oleh pihak-pihak tertentu. Parahnya, pemuda yang kita anggap kaum intelektual itu juga tidak segan terjerumus. Demikianlah yang menjadi perhatian penulis, siapa lagi yang bisa dijadikan pelopor untuk menumpas kekacauan system , jika bukan jiwa-jiwa muda?

Apalagi perlu kita ketahui bahwa uang negara sangat terkuras akibat pelaksanaan pemilu dan pilkada serentak. Diketahui telah tercatat bahwa pemerintah harus menyediakan Rp 4,452 Triliun untuk biaya pilkada serentak, antara lain membiayai tempat pemungutan suara, petugas di tingkat kecamatan, kelurahan, dan TPS.(Sb.Tribun Timur, 16/02/17)

Oleh sebab itu patut bagi seluruh lapisan masyarakat menyadari dan memberdayakan kesempatannya agar mengikutsertakan diri untuk mempergunakan hak suara dengan tidak lupa berpatokan pada asas Luber dan jurdil (Langsung,umum,bebas,rahasia,jujur dan adil) dan mempertahankan idealismenya sebagai intelektual muda demi tercapainya negara kesejahteraan yang berdaulat, adil dan makmur.

Di sisi lain kita saksikan hegemoni politik praktis oleh beberapa actor politik selalu saja bersikeras diupayakan, agar kaum muda ikut terbawa mendalangi pesta demokrasi yang kemurnian suaranya bias diprediksi telah gagal disebabkan karena kesadaran pemilihnya telah hilang, sehingga mereka tidak lagi menggunakan hati nuraininya untuk mempertimbangkan pilihannya.

Kadang-kadang , pemicunya bahkan pelakunya tak lain dan tak bukan adalah partisipasi intelektual muda itu sendiri.

Idealisme yang dimiliki gampang goyah hanya karena mendset yang tertanam dikepalanya sedari awal jika mendengar kata politik adalah pertukaran kepentingan. Sejalan dengan yang dikatakan Marchiavelli bahwa politik adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan.

Oleh karena itu, Dengan cara apapun para politisi biasanya selalu menargetkan kalangan muda untuk dijadikan alat penyalur kiat hati-hatinya menjalankan taktik hegemoni politik pragmatis sebagai bentuk pelicin kepentingan mereka.

Sehingga sikap dan tindakan seperti ini akan turun-temurun, itulah sebabnya telah menjadi kultur negative bagi system demokrasi kita. Jelas saja, sebagian pemuda kini telah terbawa arus oleh bujukan para praktisi politik tersebut lantas beranggapan Pasar gelap politik rentang terjadi, karena daya untuk menolak money politic belum mumpuni.

Apalagi pemuda labil yang diombang-ambing oleh kebutuhan hidup yang mendesak, lebih gampang barangkali menerima, terlebih lagi kepada pemilih pemula. Kita ibaratkan saja partisipan politik di kalangan pemuda milenial seperti ini “Laki-laki yang dihadapkan dengan perempuan cantik, mana mungkin ia bisa menundukkan pandangan tanpa menyapanya?” sama halnya dengan kondisi politik setiap periodenya, masyarakat yang disedorkan uang, mana bisa ia menolak? Bahkan kini kampanye digelar terang-terangan yang dibumbui dan dipanasi dengan sembako ala komplotan dermawan yang punya mau.

Selain itu, amplop bensin juga rentang di bawa-bawa sebagai alasan ia membagikan uang dan mempengaruhi massa agar cepat tergiur. Hal-hal seperti inilah yang mencederai demokrasi kita. Setidak-tidaknya, semestinya pemuda dalam hal ini melantangkan “Katakan Tidak pada Politik Uang”.

Demokrasi yang berkembang di Indonesia memang sudah dikemas sedemikian rupa. Wajarlah,jika kadang konsep yang kita harapkan tidak sesuai dengan realita yang terjadi. Karena musyawarah mufakat hanya tinggal prinsip tanpa niat dilaksanakan.

Bagaimana mungkin terlaksana? Jika debat capres saja antara pasangan calon yang satu dengan pasangan calon yang lainnya saling meninggikan diri, lalu mencari-cari kesalahan lawan tanpa menalar visi misi dari kedua calon.

Ini sangat mempengaruhi psikologi para pendukung calon yang tidak bisa dipungkiri sebagian berasal dari kaum intelektual muda kerapkali melontarkan dukungan dengan cara yang tidak sehat, misalnya memaki pendukung lawan lewat sosialmedia, atau memplesetkan bahasa yang didengungkan pada saat kedua calon tengah berdebat. Seakan-akan system demokrasi hanya bahan candaan saja.

Siapa lagi yang semestinya sebagai pionir utama memegang tonggak pemilih cerdas, jika bukan pemuda milenial hari ini? Tentu bukan dari kalangan agama, ras, golongan, ataupun kelompok kepentingan tertentu.

Namun, pemuda zaman milenial inilah yang bisa membaca situasi karena kecanggihan teknologi yang mendukung, tidak lupa juga membentengi diri dari berita hoax, kalem menanggapi isu-isu provokatif yang tak henti mencoba menumbangkan idealisme mereka. Itulah harapan the founther father kita di masa lalu, yakni harapan di tangan pemudalah peradaban bangsa akan digenggam dan disegani.

Oleh sebab itu, pemuda milenial patut disebut generasi emas, jika ia bisa mematok dirinya agar tidak terbawa oleh sikap individualisme semata, sehingga tidak segan tergerak menjadi pemerhati kemajuan negara .

Manakala hendak memilih, tidak mengada-adakan golput sebenarnya sudah mencakup kategori yang disadarkan oleh pemahaman demokratisasi, apalagi jika dibarengi dengan rasio sebelum memilih.

Menggunakan gadget pun secara bijak sudah menjadi bentuk realisasi pemuda milenial yang diidamkan oleh bangsa, yang akan menguatkan langkah Republik Indonesia mewujudkan cita-cita dan tujuan negara. Kemewahan pemuda terletak pada idealismenya, Kita Pemuda Milenial Memilih, Mari cerdas berdemokrasi!

Biodata Penulis :
Nama lengkap Susi susanti. Saya seorang Mahasiswa aktif semester 6 dari Universitas Negeri Makassar Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Adapun aktivitas saya setiap harinya, selain kuliah ialah saya senang mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi. Kebetulan saya berkecimpung di Ikatan Pemuda Massamaturu (IPM), Himpunan Mahasiswa Takalar (HIPERMATA), Komunitas Pecandu Aksara (PA), Komunitas Guru Untuk Bangsaku (GUB), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HmI).

Saya sangat senang dengan dunia literasi, karena bagi saya Membaca sudah menjadi kebutuhan pribadi dan Menulispun sebagai langkah menyimpulkan jejak berharga dalam hidup. Sekian Wassalamu’alaikum wr.wb.(YSF)

News Feed