by

Jalur Psikologis Teroris : Mengungkap Misteri Pelaku Bom Bunuh Diri di Indonesia.

-Opini-91 views

Wartasulsel.net,-

Resensi Buku
Judul Buku : Jalur Psikologis Teroris : Mengungkap Misteri Pelaku Bom Bunuh Diri
di Indonesia.
Penulis : Achmad Aflus Mapparessa
Jumlah halaman : xxi + 206 halaman
Kata sambutan : Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, PhD (Kapolri)
Editor : Stanislaus Riyanta
Penerbit : PT Pustaka Harakatuna
Tahun : Januari 2019
Peresensi : Toni Ervianto

REKRUTMEN KELOMPOK TERORIS SEMAKIN CANGGIH, ANCAMAN TEROR BELUM MELEMAH

Mencermati dan mendalami aktifitas kelompok teroris terutama aktor-aktor utamanya ataupun pelaku dan “korban penggalangan” kelompok teroris memerlukan keahlian khusus, akses di kalangan penegak hukum dan jejaring di kalangan kelompok teror. Buku ini cukup menggambarkan bagaimana “dinamika dan keuletan” kelompok teror dalam mempertahankan eksistensi kelompoknya dan melaksanakan niatnya secara kontinyu untuk melakukan serangan teror khususnya bom bunuh diri di Indonesia dengan terus menerus mencari “pengantin-pengantin baru” melalui proses perekrutan yang panjang dan dapat dinilai cukup canggih, walaupun sejatinya keberadaan kelompok teror tidak mendapatkan dukungan masyarakat Indonesia, hal ini berbeda dengan eksistensi kelompok teror di negara lain.
Dalam buku ini sudah digambarkan bahwa, secara umum dapat disimpulkan, bahwa faktor-faktor yang kemungkinan memengaruhi seseorang melakukan bom bunuh diri dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: (1) kepribadian; (2) predisposisi ideologi; (3) motivasi ideologi; (4) identitas; (5) pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, dan; (5) kondisi ekonomi (Kruglanski, 2011). Di sisi lain, faktor eksternal yang ikut memberikan kontribusi terhadap terciptanya perilaku bom bunuh diri adalah: situasi terisolasi, dan; (2) situasi konflik (Kruglanski, 2009).
Oleh karena itu, wajar jika pertanyaan-pertanyaan yang muncul digunakan untuk menggali lebih dalam pokok permasalahan tentang jalur psikologis pelaku teror bom bunuh diri ini adalah sebagai berikut: Predisposisi psikologis apakah yang dimiliki oleh pelaku bom bunuh diri?; Faktor internal dan eksternal yang bagaimanakah yang dapat memberikan dukungan terhadap upaya radikalisasi pelaku bom bunuh diri? Bagaimana proses rekruitmen yang dialami oleh seseorang hingga memutuskan ikut bergabung dalam kelompok teroris? Bagaimana proses indoktrinasi dilakukan untuk mempersiapkan seorang calon menjadi pelaku bom bunuh diri di Indonesia? (halaman 13). Jika “terpaksa” ingin dikritisi, mengingat buku ini berbasis penelitian tingkat disertasi atau doktoral, akan lebih canggih dan lebih tuntas pembahasannya jika pertanyaan penelitiannya mengerucut pada 1 pertanyaan saja, sehingga mampu ditemukan teori baru terkait masalah yang ditelitinya.

Banyak kajian literature menarik yang disajikan dalam buku ini sehingga dapat membantu peneliti-peneliti masalah keamanan, terorisme, ataupun para pengamat intelijen untuk mendalaminya, seperti misalnya konsep lingkaran terorisme bunuh diri atau the suicide terrorism cyrcle (Moghaddam, 2006). Pendekatan the suicide terrorism cyrcle mencoba untuk mengintegrasikan berbagai faktor yang mungkin memiliki pengaruh terhadap munculnya perilaku bom bunuh diri. Model jalur personal (the personal pathway model) adalah salah satu pendekatan lain yang menarik. Pendekatan yang diajukan oleh Shaw (1986) ini dapat digunakan untuk memahami perilaku bom bunuh diri, dengan memperhatikan proses yang dilalui seseorang hingga menjadi pelaku bom bunuh diri (Shaw, 1986).
Berdasarkan teori personal goal, dapat disebutkan bahwa motivasi individu pelaku bom bunuh diri dapat dikembangkan dari tujuan personal dan keinginan yang ingin dipenuhi dan hasil yang ingin mereka produksi. Selanjutnya, mereka akan menetapkan tujuan untuk dirinya sendiri dan berjuang untuk memenuhinya. Umumnya mereka memiliki tujuan personal yang berbeda-beda yang dapat diurutkan berdasarkan hirarki kepentingannya (Staub, 1999). Perlman (2002) dalam buku Psychology of Terrorism, menuliskan temuan bahwa pemimpin teroris seringkali merupakan individu dengan kemampuan intelijen dan strategi yang tinggi.
Kruglanski (2009) menyampaikan adanya dua alasan yang memotivasi seseorang melakukan suicide terrorism. Pertama adalah alasan epistemik (epistemic). Alasan ini mendasari kesiapan seseorang untuk membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan juga kesiapan seseorang untuk mengorbankan nyawanya dalam proses tersebut. Kedua adalah adalah alasan yang bersifat pragmatis (pragmatic).
Kruglanski (2009) menyimpulkan bahwa quest for significance menjadi motif yang paling kuat mendasari tindakan seseorang melakukan bom bunuh diri. Quest for significance berkaitan erat dengan kebutuhan biologis untuk bertahan hidup. Quest for significance adalah upaya mencari makna hidup seseorang sebagai salah satu dari bentuk self-esteem, dan seseorang akan cenderung mencari peningkatan self-esteem melalui identitas sosialnya (Gill, 2007).
Buku ini juga dapat memberikan “guidance” kepada institusi intelijen, lembaga keagamaan bahkan orang tua untuk mempelajari “tingkah polah” dan “modus operandi” kelompok teror merekrut anggota baru bahkan “calon pengantin” sehingga pemerintah sebagai policy maker melalui masukan atau saran lembaga intelijen yang paten akan mampu mencegah meluasnya perekrutan kelompok teror, termasuk orang tua dapat memberikan pembelajaran dan “wanti-wanti” kepada anaknya untuk mempelajari agamnya dengan tokoh atau guru agama yang sudah dipercaya oleh orang tua.
Sementara itu, rekomendasi yang diungkapkan peneliti nampaknya perlu direspons pemerintah terutama lembaga intelijen seperti melakukan penelitian terkait bagaimana berjihad dan konsep istisyhadiyah membentuk identitas diri dan kelompok sebagai jihadis sepanjang masa serta tentang in-group contact pada pelaku teror atau anggota gerakan radikal dan ekstrim Islam di Indonesia. Bahkan, kalau perlu membuat Indeks Ancaman Teroris di Indonesia.

News Feed