by

Ini Pesan Ketua JOIN Takalar Jelang Hari Ibu Besok

-Sosbud-1,593 views

Wartasulsel.net, – Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Ibu, yang jatuh pada 22 Desember 2018. Ini berarti para lelaki harus introspeksi dari mana asal dirinya hingga besar dan sukses.

Perjuangan ibu tak sebatas kasih sayangnya kepada anak sepanjang masa, tetapi lebih dari itu. Ibu juga merawat sejak dalam kandungan yang jauh lebih berat dalam takaran pandangan mata.

Belum lagi jelas Aimal Situru (Ketua JOIN Takalar) bahwa jika ditengok proses persalinan, Disitu ada pertarungan antara hidup dan mata bagi seorang ibu.

Sungguh hingga Allah pun menjelaskan dalam Alquran, Surat Maryam. Disebut,Kemudian rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata: Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan. (QS:19: 23).

Betapa sakitnya perempuan ketika melahirkan. Belum lagi, bagi Maryam, ada rasa cemas pasca melahirkan. Cemas lantaran warga sekelilingnya mencemooh lantaran anak yang dilahirkan tanpa ayah, sementara dia sendiri tak pernah bersentuhan dengan seorang lelaki.

Kelahiran anak manusia tanpa seorang bapak, yang menurut logika, tak masuk akal.

Hari Ibu, 22 Desember, ditetapkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959. Pada tanggal tersebut pertama kalinya diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang dilangsungkan di Yogyakarta tahun 1928. Peristiwa ini dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia, terang Aimal.

Lanjutnya, Pada tanggal itu pula berbagai pemimpin dari organisasi perempuan di seluruh Indonesia berkumpul, bersatu dan berjuang untuk kemerdekaan serta perbaikan nasib kaum perempuan.

Dalam perspektif kenabian, sungguh tepat di negeri ini memiliki hari Perempuan. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah. Ditegaskan, takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum perempuan.

Sebab, kamu (para lelaki) telah mengambil mereka (menjadi istri) dengan amanah Allah dan kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah.

Pesan ini disampaikan ketika Rasulullah pada haji Wada, haji perpisahan. Pesan itu mengandung makna agar perempuan diperlakukan secara terhormat, mengingat pada masa sebelumnya diperlakukan tidak semena-mena.

Sekali lagi, pada masa jahiliyah (sebelum kedatangan Islam) perempuan diperlakukan sangat buruk oleh lingkungannya, bayi-bayi perempuan dibunuh dengan kejam.

Demikian juga pada masa Yunani Kuno, seorang perempuan dipandang sebagai makhluk di bawah laki-laki dan tidak mendapatkan hak-hak sipil. Ia dijual dan dibeli.

Lalu di bawah hukum Romawi seorang perempuan tidak mendapatkan hak-hak hukum. Perempuan harus mendapatkan penjagaan terus-menerus dari ayahnya semasa kecilnya dan kemudian oleh suaminya untuk selama sisa hidupnya. Ia adalah obyek untuk dimiliki dan diwariskan kepada laki-laki.

Padahal, seperti ditegaskan Rasulullah SAW,  Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya, tidak boleh dirampas hartanya dan tidak boleh dicemarkan kehormatannya. Dengan demikian kamu tidak menganiaya dan tidak teraniaya.

Kisah perjuangan para ibu “tempo doeloe” sudah banyak diungkap media massa (sosial) bahwa betapa gigihnya mereka memperjuangkan nasibnya.

Kini, para ibu memiliki peluang sama besarnya dengan para lelaki. Mereka telah mengambil peran demikian besar dalam mengisi kemerdekaan.

Para ibu tak hanya mengasuh anak di rumah, tetapi ikut  memberi kontribusi besar di bidang bidang telekomunikasi, transportasi, elektronika, dan bioteknologi. Kemajuan ini memberi dampak pula pada keterlibatan ibu di sektor ekonomi, politik, dan bidang sosial lainnya.

Sayangnya, untuk di bidang politik masih tergolong kecil. Kuota 30 persen di setiap partai politik tak seluruhnya diisi para ibu (perempuan). Ada berbagai kendala, salah satunya belum sehatnya pengelolaan keuangan partai.

Terpenting kata Aimal, kita berharap kemajuan yang hadir saat ini tidak lantas membuat para ibu terbius hingga melupakan kewajiban sesuai kodratnya, tutupnya.​(*)

News Feed