by

FOR-KIRI Dialog Lintas Organisasi Gerakan

WARTASULSEL.NET – Sumpah pemuda adalah sebuah momentum penting bagi sejarah perjalanan bangsa Indonesia, sebab bersatunya pemuda pada saat ikrar sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 silam adalah menyatakan persatuan juga untuk menyatukan persepsi dalam membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan kolonialisme Belanda.

Berangkat dari sejarah itu, FOR-KIRI memandang perlu melakukan sebuah dialog lintas organisasi gerakan mahasiswa yang menghadirkan beberapa narasumber dari beberapa organ mahasiswa seperti, Ketua Eksekutif Kota LMND Makassar Muhammad Arifin La Ode, Ketua PMII Cabang Metro Makassar Suratman Kayano, Pengurus HMI Cabang Gowa Raya Ardiansyah, dan Pengurus FMK Kota Makassar Febry.

Dalam Dialog yang dihadiri sekitar 70 mahasiswa dari berbagai elemen di Kedai Bang Pram, Syukrilah Sulaiman selaku moderator memberikan kesempatan kepada Komunitas Kesenian Rakyat (KOKER) – Indonesia menampilkan musikalisasi puisi sebagai pembuka kegiatan lewat panggung sastra. Fiqhi Pallawa sebagai koordinator KOKER-Indonesia memetik gitar dengan rasa dan asa yang menyentuh. Dilanjutkan pula oleh Djafar Abdoel Aziz Hamid yang membacakan dua buah puisi.

Komunitas Kesenian Rakyat (KOKER) – Indonesia membuka kegiatan dialog bertema “Apa Kabar Gerakan Mahasiswa?”, jumat (26/10) malam.

Dalam bait-bait puisi yang ditulis oleh Djik22 (nama pena dari Djafar) sesuai dengan tema yang diangkat oleh FOR-KIRI yang diberi judul, ‘Tanya Kabar & Setelah Tanya Kabar’, yang dimana sebagai bentuk penegasan setiap organisasi gerakan yang tak lagi berbicara mengenai sentimen bendera maupun stigma, namun sebagai wujud persatuan dalam bangkitnya gerakan mahasiswa untuk menentukan siapa lawan dan siapa kawan.

Pembicara pertama dari Ketua LMND Makassar Muhammad Arifin La Ode yang memaparkan soal sejarah bangsa Indonesia dengan mencoba melihat para pemikiran Bung Karno dengan Konsep Trisakti yang sangat kontradiksi dengan corak Ekonomi Kapitalisme, model ekonomi Trisakti itu kemudian digaungkan oleh rezim saat ini JOKOWI-JK sesuai kampanye Pilpres 2014 lalu. Namun pada hari ini, konsep yang digaungkan saat itu sangat berbeda, misalkan nilai Rupiah yang jatuh drastis terhadap US Dollar, impor pangan yang sangat masif dilakukan. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, ia pun menilai bahwa gerakan mahasiswa kurang masif dan gerakan mahasiswa pada hari ini hanya bersifat momentuman, misalkan dalam hari-hari penting tertentu.

Hal yang sama juga dipaparkan oleh Ardiansyah selaku pengurus HMI Cabang Gowa Raya, gerakan mahasiswa hari ini memang menurun drastis. Seharusnya, menurut dia, mahasiswa sebagai orang yang terpelajar dan lebih peka melihat persoalan saat ini.

Ketua PMII Cabang Metro Makassar, Suratman Kayano juga melihat persoalan pokok yang terjadi di bangsa adalah ekonomi yang masih berhaluan Kapitalisme. Indonesia juga terlibat dalam beberapa perjanjian perdagangan bebas, hal ini yang kemudian menurutnya, kesenjangan yang semakin melebar antara si miskin dan si kaya. Dan hal ini akam membawa pengaruh besar dalam gerakan mahasiswa, ketidak-samaan pandangan dalam memandang problem yang terjadi di bangsa ini.

Delegasi dari Front Mahasiswa Kerakyatan, Febry pun mengatakan bahwa gerakan mahasiswa hari ini memang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hari ini pergerakan mahasiswa tidak bersentuhan langsung dengan rakyat, padahal problematika ini sangat berdampak pada rakyat.

Dari pertemuan semalam, beberapa organisasi mahasiswa yang hadir mulai menemui titik temu bahwa sentimen bendera saat ini harus dihilangkan. Sebab inilah yang membuat gerakan semakin terkotak kotak. Musti ada penyatuan perspektif soal isu yang menjadi substansi dari persoalan yang ada di Indonesia. “Dalam dialog semalam, beberapa organ mahasiswa sepakat untuk melakukan konsolidasi dalam waktu dekat untuk menyambut moment Sumpah Pemuda”, tutup Syukrilah Sulaiman saat ditemui usai kegiatan.

 

(Redws)

News Feed