by

Sekjen KESDM, Rundown Temu Nelayan Kecil Konversi BBM ke BBG di Jeneponto

Wartasulsel.net, JENEPONTO- Sekretaris Jenderal Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Ego Syahrial, berkunjung ke Kabupaten Jeneponto dalam rangka Rundown kegiatan Temu Nelayan Konversi BBM ke BBG untuk nelayan kecil di Kelurahan Pabiringa, Kecamatan Binamu (Sulawesi Selatan). Jum’at, (26/10/2018).

Dalam kegiatan temu nelayalan, pihaknya berhapa agar paket konversi BBM ke LPG untuk para nelayan kecil dapat terus berlanjut. Karena sangat membantu masyarakat pesisir, bukan hanya di Kabupaten tapi diseluruh Indonesia.

Menurutnya, bahwa ini adalah salah satu rencana program pemerintah dalam mensikapi dan menangkal kelangkaan BBM dibarbagai daerah, Dimana sebelumnya konversi bahan bakar minyak. Paket konversinya minyak tanah ke konversi elpiji yang paketnya dari kompor, selang, regulator, dan tabung, kali ini konversi untuk nelayan kecil adalah berupa mesin konverter set dan dua tabung gas elpiji 3 kg.

Pihaknya mengaku, khusus Kabupaten Jeneponto ini sudah yang kedua kalinya menerima paket konverter kit. Di tahun 2017 kemarin menerima 371 sedangkan tahun ini 1000 unit mesin perahu motor dan 2000 buah tabung gas elpiji 3 kg. Yang merupakan tugas Kementerian ESDM pusat.

Hal tersebut, diungkapkan oleh Kasubdit Pelaksana Pembangunan dan Pengawasan Infrastuktur Migas, Dirjen Migas Kementerian ESDM Pusat, Ahmad Wahyu Wardhono, usai rundown kegiatan temu nelayan.

Ahmad Wahyu Wardhono, mengungkapkan, konversi BBM ke BBG untuk para nelayan kecil di Jeneponto dinilai sudah cukup lumayan besar dibanding dari tahun sebelumnya, yang hanya mendapatkan 371 unit mesin.

Tentunya yang menjadi harapan kami dari Menteri ESDM, agar konverter set ini dapat terus berlanjut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil.

“Kami upayakan agar konversi BBM ke LPG terus ditingkatkan, cuma saja anggaran BBM itu terbatas, sehingga tahun depan nanti program itu dikurangi dari 25 ribu program kementerian pusat yang sudah direncanakan kini tersisa menjadi 13 ribu program,” katanya.

Meskipun program ke menterian ESDM pusat itu banyak, namun pihaknya hanya dapat menjelaskan yang ada kaitannya saja dengan migas yang merupakan tugasnya.

Ia tambahkan bahwa ini bukan bantuan, tapi konversi BBM ke BBG untuk nelayan kecil, yang diprogramkan oleh kementerian ESDM pusat, jadi gas elpiji yang 3 kg itu adalah bersubsudi dari negara. Negara itu bidang tugasnya adalah ESDM, sehingga dalam hal ini pertamina selaku BUMN dibawah naungan ESDM, bebernya.

Terkait keterlibatannya dalam mengambil penindakan dan pengawasan jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan penyaluran (tidak tepat sasaran) kepada penerima manfaat, ia katakan bahwa bukan bagian dari migas. Pihaknya hanya sebatas penindakan perfentif yang dikhawatirkan tidak sesuasi syarat kriteria penerima berdasarkan data-data yang diusulkan.

“Untuk ditarik barangnya, itu tidak ada penarikan barang, kami tidak mampu, karena kami hanya berjumlah 17 orang yang mengurusinya, yang tersebar diseluruh Indonesia, jadi gimana caranya ditarik.?,” tuturnya.

Tapi jika pihaknya menerima laporan apabila ada masalah, maka ESDM tidak akan memprogramkan lagi. Dan tentunya berisiko kepada pemerintah daerah. Kami tidak akan mensuplay lagi ke daerah jika ditemukan ada masalah,” jelas Ahmad.

Olehnya itu, kami tidak mampu bekerja dengan maksimal tanpa kerjasama dengan pemerintah daerah. Tentunya kami butuh dukungan dan kerjasama yang baik oleh pemerintah daerah. Pungkasnya.

(SMS/redws)

News Feed