by

Gerakan Mahasiswa Memberikan Perubahan Signifikan Bagi Kemajuan Bangsa

Wartasulsel.net,- Dalam setiap momentum penting di Indonesia, gerakan mahasiswa selalu menyumbangkan gagasan serta pikirannya. Tidak hanya sumbangan pikiran, mahasiswa juga ikut dalam proses perjuangan menuntaskan agenda-agenda kebangsaan yang dicita-citakan.

Tugas sejarah mahasiswa menuntut Mahasiswa untuk terus melakukan pergerakan. Melalui panggung-pangung yang diciptakan oleh mereka (Mahasiswa) sendiri. Di tahun 1928, sumpah pemuda menjadi satu tahapan sejarah yang memunculkan kebersatuan gerakan pemuda. Tentunya pemuda yang dimaksud adalah kalangan terpelajar yang dididik didalam proses pendidikan formal.

Perjuangan yang sendiri-sendiri dan bersemangatkan sentimen kedaerahan ditahun-tahun sebumnya mampu dipersatukan dengan ikrar sumpah pemuda. Kata kuncinya saat itu ialah bersatunya gagasan dan tujuan masing-masing “jong” dalam kerangka memerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme belanda.

Setelah Indonesia merdeka, gerakan mahasiswa yang pada dasarnya memiliki ideologi dan pandangan politik yang berbeda-beda, dalam banyak hal terdikotomi dalam sekat sekat ideologis. Kelompok kiri menyatakan sikap anti imperialisme dan kelompok kanan meneriakan keantiannya terhadap ideologi komunisme. Pergulatan tersebut nyatanya membuat gerakan mahasiswa saat itu “dimanfaatkan” oleh situasi pergolakan politik partai dan elit politik hingga pada akhirnya berujung pada peristiwa “65”.

Setelah Sukarno digantikan oleh Suharto dengan “legitimasi” Supersemar, gerakan mahasiswa pun menikmati keuntungan dari keberhasilannya. Jalannya rezim suharto dengan paham pembangunanisme ala Suharto ini mewajibkan tidak eksisnya demokrasi. Terutama bagi gerakan mahasiswa yang kritis. Namun dalam perjalanannya rejim tangan besi Suharto memberikan kesadaran akan mengubah kondisi kebangsaan saat itu. Apalagi ketika krisis ekonomi, gerakan pembebasan yang kemudian menyeruak kepermukaan. Munculah gagasan cabut dwi fungsi ABRI dan turunkan suharto melalui koran, selebaran, dan kampanye luas. Akhirnya Suharto pun turun tahta. Jatuhnya orba bukan tanpa usaha, pengorbanan gerakan mahasiswa yang bersatupadu dengan people power (gerakan rakyat) menghadirkan fakta bahwa banyak pejuang demokrasi yang dihilangkan dan dibunuh oleh orba.

Hal yang dapat dipetik dari keberhasilan gerakan mahasiswa Indonesia sebelumnya adalah persatuan dan kesamaan pandangan tentang masalah yang dihadapi. Kesamaan tujuang dan pandangan ini seringkali dimulai dari diskusi-diskusi dan kampanye luas hingga rapat-rapat akbar dengan sesama kelompok mahasiswa juga rakyat.

Ada beberapa kesimpulan tentang apa yang membedakan gerakan mahasiswa hari ini dengan dimasa lalu. Misalnya kondisi rejim yang otoritarian dan kesadaraan organik (istiliah gramsci) yang tumbuh dalam kesadaran intelektual organik (Mahasiswa) melalui diskusi-diskusi dan injeksi ideologi pembebasan. Kemudian, perbedaan lainnya adalah tentang metode gerakan yang dilakukan sebelum reformasi dan sebelum kemerdekaan Indonesia. Misalnya metode dalam penyebarluasan gagasan dan pandangan politiknya. Di era saat ini, hemat kami, gerakan mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan segmentasi audiens atau sasaran penyebarluasan gagasan perubahan. Apalagi ditengah kondisi hari ini ada perubahan signifikan dalam kondisi global yaitu revolusi teknologi informasi atau sering disebut dengan revolusi industri 4.0 yang menginjeksi kesadaran individual masyarakat Indonesia. Kondisi ini mengharuskan gerakan mahasiswa untuk lebih adaptif dalam menghadapinya. Kalau diera sebelumnya penyebaran gagasan dan pandangan politik juga masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat dilakukan dengan cara konvensional seperti penyebaran selembaran dan kampanye luas, maka gerakan hari ini juga pastinya memiliki perbedaan dalam proses penyadaran terhadap rakyat atas situasi yang dihadapi.

Atas perubahan yang sedang terjadi saat ini, maka Forum Kajian Kritis (For Kiri) kemudian mengadakan kajian dialog lintas organisasi eksternal kampus dengan tujuan untuk menyatukan persepsi tentang kondisi rakyat Indonesia hari ini, bagaiamana metode kampanyenya, dan apa yang menjadi sebab turunnya eskalasi dan intensitas kritik terhadap kelumpuhan gerakan mahasiswa hari ini dalam merespon persoalan ketimpangan dan kelesuan ekonomi nasional karena agenda neoliberal rezim Jokowi-JK.

Dialog lintas Organisasi yang kami selenggarakan menghadirkan pembicara dari ketua-ketua organisasi eksternal kampus seperti HMI Cabang Gowa Raya,PMKRI Cabang Makassar, PMII Cabang Metro Makassar, FMK Makassar, Eksekutif Kota LMND Makassar, dan Gema Pembebasan Kota Makassar.

Koordinator For Kiri : Syukrillah Sulaiman

(IKF/redws)

News Feed