by

Faktor-Faktor Kemenangan Joko Widodo

Oleh : Erlangga Pratama *)

Hasil survei yang dilaksanakan Indikator Politik Indonesia tanggal 1 s.d 6 September 2018 dengan metodologi survei adalah multistage random sampling dengan bertanya kepada warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilu. Margin of error survei sebesar kurang-lebih 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95% serta total jumlah responden sebanyak 1.220 orang menunjukkan bahwa dari total 6 aspek, Jokowi unggul di 5 aspek citra dari Prabowo sebagai capres.

Sementara itu, Sandi unggul di 4 poin ketimbang 2 yang diraih Ma’ruf Amin, termasuk 53,0% basis massa Partai Demokrat akan mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, sedangkan yang mendukung Prabowo-Sandiaga Uno hanya 43,4%. Padahal seperti diketahui, Partai Demokrat adalah salah satu Parpol pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Berikut ini hasil survei citra capres dan citra cawapres: pertama, citra personal capres dengan indikator perhatian kepada rakyat, Jokowi mendapatkan 85%, sedangkan Prabowo Subianto memperoleh 55%; Indikator jujur, bisa dipercaya, dan bersih dari korupsi (Jokowi mendapat 79%, Prabowo mendapat 54%); Indikator tegas dan berwibawa (Jokowi memperoleh 76%, sedangkan Prabowo meraih 81%); Indikator mampu mengatasi permasalahan bangsa (Jokowi memperoleh 75%, sedangkan Prabowo mendapat 58%); Indikator mampu memimpin Indonesia (Jokowi sebanyak 81%
dan Prabowo sebanyak 63%); Indikator religius atau taat beragama (Jokowi memperoleh 76%, dan Prabowo mendapatkan 58%).

Kedua, citra personal cawapres dengan indikator perhatian kepada rakyat (Ma’ruf mendapat 54% dan Sandi memperoleh 66%); Indikator jujur, bisa dipercaya, dan bersih dari korupsi (Ma’ruf memperoleh 64%, sedangkan Sandi mendapatkan 57%); Indikator tegas dan berwibawa (Ma’ruf mendapat 51%, sedangkan Sandi memperoleh 65%); Indikator mampu mengatasi permasalahan bangsa (Ma’ruf mendapatkan 45%, sedangkan Sandi memperoleh 56%); Indikator mampu memimpin Indonesia (Ma’ruf memperoleh 48% dan Sandi mendapatkan 57%); Indikator religius atau taat beragama (Ma’ruf mendapatkan 82%, sedangkan Sandi memperoleh 63%).

Sedangkan untuk head to head antara
Jokowi dengan Prabowo, ternyata dimenangkan Joko Widodo dengan 57,0%, sementara Prabowo memperoleh 31,3%, sebanyak 1,1% akan tidak memilih atau Golput dalam Pilpres 2019, serta responden tidak menjawab atau tidak tahu sebanyak 10,5%.

Sebelumnya, sejumlah lembaga survei yang lainnya juga memenangkan Joko Widodo daripada Prabowo Subianto dari survei mereka yang pernah dilakukan seperti Polltracking sebanyak 57% memilih Jokowi dan 33,7% memilih Prabowo dan 8,7% responden tidak menjawab; Populi Center sebanyak 64,3% mendukung Jokowi, 25,3% mendukung Prabowo dan 10,4% tidak menjawab; Cyrus Network sebanyak 64,0% responden akan memilih Jokowi, 29,8% akan memilih Prabowo, sedangkan 6,2% tidak menjawab; Charta Politica sebanyak 58,8% akan memilih Jokowi, 30,0% mendukung Prabowo dan 11,2% tidak menjawab; Indo Barometer sebanyak 50,4% akan memilih Jokowi, 27,5% akan memilih Prabowo dan 22,2% tidak menjawab; Alvara sebanyak 57,3% responden akan memilih Jokowi, 36,8% akan memilih Prabowo dan 9,5% tidak menjawab; LSI sebanyak 53,6% akan memilih Jokowi, 28,8% akan memilih Prabowo dan 17,6% tidak menjawab; Y-Publica sebanyak 53,9% akan memilih Jokowi, 28,8% akan memilih Prabowo dan 17,3% tidak menjawab.

Faktor lainnya.

Selain hasil survei, yang mayoritas menghasilkan hasil bahwa Joko Widodo akan mengungguli Prabowo Subianto dalam Pilpres 2018, maka ada faktor lainnya yang akan menentukan signifikan dan determinan bagi kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 adalah dukungan dari keluarga besar Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid dan para pengagumnya seperti Barikade Gus Dur (Barisan Kader Gus Dur), Gatara (Gerakan Kebangkitan Nusantara), Forum Kyai Kampung Nusantara (FKKNU), Garis Politik Al Mawardi (GP Al Mawardi), Komunitas Santri Pojokan (KSP), Jaringan Perempuan NKRI (JPN), Millenial Political Movement, Forum Profesional Peduli Bangsa dan Satuan Mahasiswa Nusantara kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Fakta berikutnya adalah ekonomi Indonesia saat ini lebih baik jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu atau tahun 1998. Saat itu pertumbuhan ekonomi tak terasa dampaknya ke masyarakat. Ekonomi Indonesia dulu tidak membuat masyarakat sejahtera. Kondisi itu sudah jauh berbeda dengan saat ini, sebab sekarang ini ada program-program seperti dana desa, reforma agraria, beras sejahtera, program keluarga harapan, pajak final UMKM yang turun dan yang paling miskin itu dilindungi.

Dengan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini ketimpangan di Indonesia sudah mulai turun dan membaik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang terus mendorong terciptanya pemerataan ekonomi secara nasional. Tujuannya tak lain adalah demi pembangunan bisa dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga di berbagai belahan Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian pemerintah mengingat penduduk miskin dan penduduk yang masuk 40% terbawah secara ekonomi justru berada di pedesaan, terutama di desa-desa yang lokasinya terpelosok. Hal itu menandakan, kesenjangan antara penduduk kaya dan penduduk miskin semakin sempit. Saat ini tingkat ketimpangan terendah dalam 6 tahun terakhir, yaitu Rasio Gini sudah turun menjadi 0,389.

Kekuatan Jokowi lainnya adalah puluhan kepala daerah menyatakan mendukung Joko Widodo atau Jokowi di Pilpres 2019. Untuk tingkat gubernur saja, sebanyak 15 orang telah menyatakan mendukung Jokowi. Sisanya adalah para bupati dan wali kota di Indonesia dengan berbagai alasan seperti Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru-Mawardi Yahya, mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang. Di Sumsel, ujar Herman, rakyat merasakan perhatian dari Jokowi. Pembangunan infrasturktur dan perekonomian terbilang cukup masif di Sumsel, contohnya, pembangunan Tol Sumatera ruas Palembang-Indralaya (Palindra), Tol Kayu Agung-Palembang-Betung (Kapal Betung), dan Tol Palembang-Pamulutan. Kemudian terealisasinya LRT di Sumsel dan bahkan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Gubernur Papua Lukas Enembe mendukung Jokowi-Ma’ruf karena Jokowi lebih memahami persoalan yang dihadapi Papua ketimbang calon presiden lain. Lukas menyebut suara di Papua hampir mencapai 3,5 juta mungkin seluruhnya ke Jokowi.

Wali Kota Solok Zul Elfian, Bupati Solok Gusmal, Bupati Sijunjung Yuswir Arifin, Bupati Dharmasraya Sutan Riska, Bupati Pesisir Selatan Hendra Joni, Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, Bupati Pasaman Yusuf Lubis, Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi, Bupati Mentawai Yudas dan Wali Kota Bukittinggi Ramlan semuanya mendukung Jokowi karena berhasil membangun Sumatera Barat. Seperti diketahui, Sumatera Barat pada Pilpres 2014 adalah ladang suara bagi pasangan Prabowo Subianto-Hatta Radjasa saat itu. Terakhir adalah pernyataan Deddy Mizwar, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat yang menyatakan, 22 kepala daerah di Jawa Barat, termasuk Gubernur Jawa Barat saat ini yaitu Ridwan Kamil juga akan mendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

*) Penulis adalah Direktur Pemberitaan Cersia. Tinggal di Jakarta.

News Feed