by

Ditemukan Adanya Pencemaran Tingkat Tinggi di Perairan Efektif

Wartasulsel.net,- Fakta terbaru diungkap peneliti dari Universitas Pattimura, Fakultas MIPA Bidang logam tokspologi lingkungan, Dr. Justinus Male. Berdasarkan hasil riset timnya di Pulau Buru, ditemukan adanya tingkat pencemaran merkuri yang cukup parah. Kandungan merkuri sudah menjangkit hingga sebagian masyarakat di wilayah tercemar. “Hasil temuan kita, rambut warga di sana sudah terdeteksi mengandung mercury, ” katanya, kepada waratawan kemarin.

Ditegaskan, tingkat kerusakan lingkungam di daerah sekitar Gunung Botak, Sungai Anahoni, Waiapo, Wailata dan Sungai Kayeli sudah melebihi dari ambang batas. Perairan di beberapa kawasan di Pulau terdekteksi mengandung
endapan lumpur cairan merkuri. “Merkuri lebih berat dari air, atau 100 kali dari berat air. Dengan demikian, mercury ini berdiam pada endapan lumpur
dibagian bawah, yang merupakan tempat makan dan berkembang biak biota laut,” ujarnya. Dampak terjelek dari mengkonsumsi makanan yang mengandung merkuri, seperti contoh ikan-ikan di perairan yang mengalami pencemaran
adalah dalam penelitian disebutkan akan memberikan dampak pada otak. Dan manusia yang terkena dampak tersebut tak lama akan menderita sakit syaraf atau gila. Sedang tercemarnya sianida pada makanan atau minuman sudah banyak yang mengetahui apa yang akan terjadi, yaitu berakhir dengan
kematian.

Oleh sebab itu, lanjut Justinus, pihaknya menyarankan untuk mengambil langkah antisipatif guna meminimisir kerusakan lingkungan. Bagaimanpun caranya, segera hentikan penggunaan mercury, karena penyebarannya sudah sampai ke wilayah laut. “Kita butuh penelitian sistematis untuk menentukan
spot-spot dengan konsentrasi merkuri tertinggi. Saya juga sarankan, kalau
makan ikan, baiknya jangan mengkomsumsi kepala ikan, tali perut ikan serta tulang ikan, ” saran dia.

Sementara itu, Justinus juga mengomentari soal kematian hewan ternak milik warga diakibatkan yang diduga terdampak merkuri. Menurutnya, hewan tersebut bukan terkena merkuri melainkan, Sianida yang bocor dari rendaman
pengelolaan emas secara asal-asalan oleh warga. “Merkuri tidak mematikan
dalam waktu singkat. Butuh waktu 10 tahun dari saat penggunaannya. Tetapi
sianida ini mematikan dalam waktu yang singkat, ” tandasnya.

Dijelaskan, sianida dan merkuri adalah dua senyawa kimia yang paling mematikan. Dan tidak ada obatnya ketika tubuh makluk hidup terkontaminasi.
Meskipun sianida ini mematikan dalam waktu cepat, namun dalam waktu yang lama aman digunakan. “Jadi sejak lokasi penambangan itu ditutup, dan dibersihlah jalur sungainya oleh pemerintah. Warga mulai mengambil material emas dan dibwah ke rumah pemukiman mereka dan mulai lakukan penambangan.
Nah bocoran hasil limba ini yang gunakan sianida kan tidak tertangani baik, bocor dan mengalir di lingkungan. Inilah yang jadi penyebab kematian hewan
secara mendadak, ” ungkapnya. Dan perairan Surabaya sudah diteliti oleh para peneliti dari ITB sudah sangat tercemar oleh 2 bahan kimia ini.

Sehubungan dengan event bersih-bersih di Takalar dan Galesong yang memiliki rentang pantai cukup luas namun cukup rentan dengan sampah-sampah warga, kemungkinan akan semakin dekat dengan efek-efek negative sianida dan merkuri. Sosialisasi akan kebersihan apapun bentuknya bisa mengoptimalkan
jernihnya kadar natrium air laut hingga masa mendatang.
(EML/redws)

News Feed