by

Gemar Baca Buku Melalui Peran Tripusat Pendidikan “Refleksi Hari Buku Nasional”

Wartasulsel.net, – Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas, (Mohammad Hatta). Pernyataan Bapak Proklamator bangsa ini memberikan makna bahwa dengan buku maka manusia akan terbebas dari belenggu ketidaktahuan.

Kebiasaan membaca buku mengindikasikan bahwa manusia bebas dalam memahami setiap kata, kalimat dan paragraf yang tersusun menjadi bacaan.

wartasulsel

Membaca buku membuka wawasan seseorang dalam melakukan analisa setiap perbendaharaan kata-kata yang ditemukan dalam membaca.

Setiap kata-kata dalam buku yang dibaca menjadi sumber-sumber pengetahuan baru. Memberikan konsepsi paradigma pengetahuan untuk memaknai alur bacaan atas dasar kebebasan berekspresi lewat tulisan.

Buku tak sekadar kumpulan tulisan, namun menjadi jendala untuk memahami dunia. Buku menjadi sumber bacaan dari berbagai aspek keilmuan dan teknologi.

Membaca buku merupakan wujud merubah paradigma hidup manusia.

Membaca merupakan media memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperbaiki mutu kehidupan seseorang.

Banyak tokoh dan ilmuwan memperoleh keberhasilan dalam hidupnya melalui membaca dari berbagai sumber bacaan. Membaca menjadi salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Kegiatan membaca tak terlepas dari tersedianya buku-buku bacaan diberbagai lini dan sektor kehidupan masyarakat. Kehadiran aneka sumber bacaan yang bervariasi dan beragam menyadarkan masyarakat akan pentingnya budaya membaca.

Peringatan hari buku nasional yang dimulai tahun 2002 bertepatan dengan hari perpustakaan nasional menjadi momentum untuk ber muhasabah dalam mensosialisasikan gerakan membaca. Salah satu program pemerintah yaitu Gerakan Indonesia Membaca (GIM) menjadi alat untuk tetap mendukung upaya pemberatasan buta aksara.

Program ini tak sekadar simbolis memeriahkan program tersebut, namun kegiatan ini didukung oleh upaya pemenuhan bahan bacaan yang berkualitas.

Beberapa lembaga swadaya masyarakat gencar melakukan aktivitas literasi dasar baca tulis melalui kegiatan menulis buku, memberikan gambaran bahwa betapa pentingnya membaca buku guna menyiapkan sumber daya manusi yang unggul dan inovatif. Literasi dasar baca tulis sudah menjadi lahan ekspersif di semua jenjang dan level masyarakat.

Pembudayaan menulis buku dan membaca buku akan membuka ruang-ruang peradaban yang baru dikalangan masyarakat. Kesadaran dalam menyiapkan berbagai koleksi bacaan menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai melek informasi.

Kebiasaan dan kesadaran ini harus dimulai sejak dini. Memulainya dari dunia pendidikan diberbagai level dan jenjang, sehingga ini menjadi sebuah gerakan massif.

“Masyarakat Indonesia memiliki daya baca tinggi, namun minat membacanya masih rendah, (Anis Baswedan). Kalimat ini merupakan kritik atas budaya kita yang masih rendah dalam memanfaatkan buku sebagai media baca yang efektif.

Kritik tersebut terlihat dari fenomena pergeseran kebiasaan menulis dan membaca. Masyarakat lebih tertarik menggunakan media teknologi (android dan gadget) sebagai alat untuk menulis dan membaca.

Sementara bahan bacaan berupa buku perlahan mulai ditinggalkan. Kebiasaan ini akan menggiring kita aptis membaca buku. Oleh sebab itu, semangat membudayakan membaca bagi masyarakat khususnya sejak dini dimulai dari keluarga.

Para orang tua seyogyanya memberikan teladan dan contoh bagi anak-anaknya dengan membacakan buku. Budaya membaca buku untuk anak-anak bukan sesuatu yang baru, namun sudah mulai hilang dikarenakan kesibukan para orang tua.

Memberikan ruang dan waktu sejenak untuk membacakan buku bag ana-anak memotivasi motorik anak-anak untuk suka dan membaca buku.

Peran serta orang tua ini akan bersinergi dengan pembudayaan membaca dan menulis (literasi dasar) yang dilakukan oleh para pendidik.

Keharusan seorang pendidik (guru) dalam kegiatan dan aktivitas pembelajaran untuk kegiatan literasi dasar (menulis dan membaca) sebanyak 15 menit.

Selain itu, masyarakat yang peduli dengan kegiatan lierasi juga dihimbau untuk melakukan aktivitas membaca dan menulis berbasis masyarakat dengan menyiapkan taman baca masyarakat (TBM).

Sinergitas 3 (tiga) elemen penting dalam dunia pendidikan ini (disebut Tri Pendidikan) memudahkan upaya melek mambaca buku disemua kalangan.

Oleh karena itu dalam rangka mengembangkan masyarakat gemar membaca, kegiatan membaca harus ditumbuhkembangkan sejak usia dini baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Hasil kajian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2006 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11%.

Masyarakat yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22%, buku cerita 16,72%, buku pelajaran sekolah 44,28% dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07%. Hasil survai UNESCO tahun 2011 menunjukkan bahwa minat baca bangsa Indonesia adalah paling rendah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Ditemukan bahwa index membaca masyarakat Indonesia mencapai 0,001 yang berarti dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang memiliki minat membaca, dan angka ini sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca negara Singapura yang mencapai index membaca 0,45.

Rendahnya minat baca ini akan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat, sehingga diperlukan upaya-upaya strategis untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat secara berkesinambangan dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah secara lintas sektoral, lembaga swasta dan masyarakat.

Pengembangan budaya baca merupakan salah satu strategi yang diterapkan oleh pemerintah dalam rangka mendorong masyarakat untuk gemar membaca.

Program pengembangan budaya baca diharapkan mampu mengembangkan masyarakat untuk menjadi aksarawan cerdas, kreatif dan produktif serta melestarikan dan meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung bagi masyarakat program pasca keaksaraan.

Selain itu, juga untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat sebagai tahapan terwujudnya budaya baca, sehingga mendorong terciptanya masyarakat pembelajar sepanjang hayat.

Dengan demikian program pengembangan budaya baca akan mampu memunculkan prakarsa dan partisipasi masyarakat bersama-sama pemerintah secara kolaboratif membangun budaya baca masyarakat dengan cara menyediakan berbagai macam sarana dan prasarana serta media yang diperlukan untuk membangun masyarakat pembelajar.

Kegiatan literasi (khusunya minat baca) sebagai pondasi bagi seseorang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan fungsional, agar dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Budaya baca diarahkan pada upaya mewujudkan masyarakat gemar membaca dan belajar literasi dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyediaan fasilitas budaya baca bagi seluruh warga masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat.

Pengembangan budaya baca adalah bentuk layanan pendidikan yang komprehensif agar masyarakat memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam terhadap sejumlah informasi yang berkaitan dengan kehidupannya, untuk meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih bermanfaat dan memberdayakan masyarakat.

Hadirnya bahan bacaan (buku) diberbagai lini dan sektor kehidupan masyarakat akan membentuk budaya baru.

Paradigma baru ini menjadi momentum membentuk masyarakat literat. Dukungan masyarakat melalui aksi-aksi literasi, pembudayaan literasi berbasis masyarakat juga menjadi tambahan spririt mewujudkan masyarakat literat lintas sektor.

Peran pemerintah menjadi sangat penting untuk menyiapkan sarana dan prasarana (infrastuktur) budaya membaca buku.(*)

Abdul Jalil, S.Pd
Pendiri / Ketua Umum
Komunitas Rumah Literasi dan Penulis Indonesia (KERTAS PENA)

News Feed