by

Refleksi Hardiknas : Meng-Karakterkan Siswa Melalui Tripusat Pendidikan

Oleh : Abd. Jalil, S.Pd, Pendiri / Ketua Umum, Komunitas Rumah Literasi dan Penulis Indonesia (KERTAS PENA)

WARTASULSEL.NET, – Hari pendidikan nasional menjadi momentum melakukan muhasabah, mesu budi, atau refleksi atas usaha dan perjuangan di bidang pendidikan.

Kalimat ini menjadi renungan bagi semua insan pendidikan dan kebudayaan. Renungan ini sesuai dengan tema hari pendidikan yaitu ”Menguatkan Pendidikan Memajukan Kebudayaan”.

Sinkronisasi pelaksanaan pendidikan dan kebudayaan menjadi kesatuan yang utuh, agar kualitas pendidikan tetap maju, tapi tetap mengedepankan nilai-nilai budaya.

Ragam budaya yang dimiliki bangsa Indonesia harusnya menjadi kekuatan dalam memajukan kebudayaan nasional lewat penguatan pelaksanaan pendidikan.

Hal ini diakui oleh Asisten Direktur Jenderal UNESCO, yaitu Fransesco Bandarin yang mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara adidaya (super power) kebudayaan.

Pengakuan ini bisa saja terwujud ketika dunia pendidikan menjangkau seluruh wilayah Indonesia dengan konsep pemerataan yang dibarengi dengan pelestarian nilai-nilai budaya lokal dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Ragam corak budaya bangsa Indonesia menjadi cerminan menguatkan pendidikan. Realitas keragaman budaya menjadi bagian terpenting dalam khasanah keilmuan melalui praktik-praktik terbaik pembelajaran (best practice), telah banyak dipraktekkan oleh para pendidik (guru) demi mencapai pendidikan berkualitas atas dasar histori budaya lokal.

Infrastruktur pendidikan tidak sekadar dibangun, namun hakikatnya harus didasari nilai-nilai budaya lokal. Pemanfaatan nilai-nilai budaya lokal dalam praktik pendidikan memudahkan pendidik mengelaborasi berbagai karakter-karakter dari kearifan lokal setiap daerah.

Menguatkan Pendidikan melalui Tri Pendidikan

Penguatan pendidikan dimulai dari penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Revoluasi mental melalui penguatan karakter dan literasi dalam dunia pendidikan merupakan upaya konstruktif dan ikhtiar dalam mencerdaskan bangsa. Pendidikan akan kuat jika semua elemen pendidikan berfungsu secara optimal.

Pendidikan itu sendiri tidak hanya dapat dilakukan di lingkungan sekolah saja, melainkan di tiga lingkungan pendidikan yaitu; yakni lingkungan pendidikam keluarga (pendidikan informal), sekolah (pendidikan formal) dan masyarakat (pendidikan non formal).

Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara mengemukakan sistem Tri Centra yaitu “Didalam hidupnya anak-anak ada 3 (tiga) tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yaitu alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda”.

Konsep ini yang dikenal dengan istilah tri pusat pendidikan. Yang mana tiga tempat pergaulan atau lembaga pendidikan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membentuk kepribadian serta tingkah laku anak.

Jadi baik buruknya akhlak seseorang dan tinggi rendahnya kecakapan atau keahlian seseorang dipengaruhi oleh tiga lingkungan pendidikan tersebut.

Salah satu bentuk penguatan tripusat pendidikan adalah pelibatan keluarga dan masyarakat dalam pendidikan khususnya di sekolah.

Guru, orang tua dan masyarakat menjadi garda terdepan sebagai sumber kekuatan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Tripusat pendidikan menjadi tempat persemaian dan lahan subur (bukan lahan tidur) dalam membentuk karakter atas dasar nilai-nilai kearifan lokal sebagai simbol budaya.

Memposisikan ketiga aspek ini dalam proses pelaksanaan pendidikan, sehingga masyarakat bebas memilih jalur pendidikan yang paling tepat untuk anak-anaknya.

Memajukan Kebudayaan Berkarakter Kearifan Lokal

Perlu dipahami bahwa pemodelan kegiatan pembelajaran lebih memudahkan bagi siswa untuk memahaminya. Seribu bahasa berbentuk penyampaian tidak berarti ketimbang mendemonstrasikannya.

Proses ini bermuara pada pemodelan inovasi pembudayaan karakter oleh guru. Karakter tidak dibentuk dengan membalikkan telapak tangan.

Karakter berproses dari pemodelan, pembudayaan hingga pembentukan proses pendidikan di ruang-ruang kelas.

Proses mewujudkan inovasi pembelajaran karakter, dilakukan melalui strukturisasi pembelajaran terintegrasi. Kondisi saat ini siswa mengalami krisis karakter.

Berselisih paham, perkelahian, tawuran antar pelajar dan budaya nyontek menjadi fenomena yang lazim ditemui. Demoralisasi karakter merambah sampai ke instansi pendidikan.

Pudarnya karakter khususnya karakter jujur ditunjukkan dengan adanya “kesenangan” berlebihan akan kegiatan atau aksi-aksi yang berdampak merusak dan menghancurkan diri sendiri.

Pendapat para ahli mengatakan bahwa penyebabnya ialah pendidikan karakter tidak berjalan dengan baik.

Pendapat di atas memberikan pemahaman bagi kita bahwa karakter jujur merupakan perwujudan identitas diri secara konsisten.

Konsisten atas dedikasi mengenai prinsip akan nilai-nilai positif dari keyakinan yang dianutnya. Konsistensi antara tindakan dan nilai saling melengkapi menjadi satu bangunan yang utuh.

Kemampuan nilai kejujuran seseorang akan semakin kuat, bila terbangun secara periodi, terstruktur dalam waktu tertentu. Hal ini dimulai dengan memupuk kebiasaan seseorang pada kegiatan penghayatan, pengamalan dan implementasi dilingkungan diri sendiri.

Nilai-nilai kearifan lokal dalam bentuk pesan-pesan moral (pappaseng) menjadi mediasi untuk memotivasi siswa menerapkan karakter integritas.

Integritas ditanamkan sejak dini bagi siswa sebagai upaya meredam dan meminimalisir kegiatan-kegiatan negatif. Guru melakukan pembelajaran diupayakan memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal.

Nilai-nilai kearifan lokal di sekitar sekolah diintegrasikan dalam pembelajaran. Penggunaan sumber belajar ini diharapkan ikut berperan serta dalam meningkatkan karakter siswa.

Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu, sehingga patut untuk terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

Semangat hari pendidikan nasional menjadi loncatan dan harapan baru dalam mewujudkan dan menguatkan kualitas pendidikan. Penyediaan SDM (guru) yang berkualitas, kurikulum yang berkebebasan, infrastruktur yang memadai.

Sinkronisasi dan penguatan elemen tripusat pendidikan serta harus menjadi perhatian bagi negara agar tetap harmoni demi penguatan pendidikan dan kemajuan nilai-nilai budaya.

Perkembangan daya kritis atas permasalahan pendidikan dari berbagai aspek senantiasa menjadi dasar bagi pemerintah agar kualitas pendidikan lebih baik lagi, agar masa depan pendidikan tak tergilas oleh pesatnya gejolak perubahan dan peradaban bangsa secara global dalam bidang pendidikan. (*)

News Feed