by

Sebuah Puisi “Untukmu SUKMA Sang Penista”

Wartasulsel.net, – Sebuah puisi karya Ismail Patahangi yang mengangkat sebuah judul Untukmu Wahai Sukma Sang Penista.

Berikut puisinya:

Wahai Ibu Sukma puteri sang proklamator,
Aku tidak mengenalmu.., .

Tetapi aku satu diantara jutaan suami dan ayah yang marah dengan puisimu..

Jauh lebih baik telingaku, telinga isteri dan anak-anakku Allah tulikan
sehingga aku dan mereka tidak perlu mendengar puisimu yang sangat melukai perasaan kami ,.. .

Wahai ibu sukma puteri bung karno,
Jangan kau kira karena keturunan kau berkuasa Sehingga kau bebas leluasa Bukankah Nuh nabi yang mulia Tapi anaknya masuk neraka…

Wahai Ibu Sukma nenek yang bau tanah, Hidup di dunia bagaikan fatamorgana

Hanyalah semu pandangan mata
Kita semua adalah ciptaanNya
Dan pasti akan kembali kepada Nya

Jika kau tak suka, diamlah!
Jika kau tak tau, belajarlah!
Jangan umbar kebodohanmu dalam kata

Dan kau berdalih, ini tentang budaya??

Aku suami yang mencintai istriku berhijab

Aku ayah yang mendukung anak-anak perempuannku berhijab
Aku lelaki, yang membanggakan perempuan-perempuan Indonesia dalam keragamannya
Tapi bukan kamu!

Wahai Ibu Sukma puteri sang fajar,
tanpa empati, Ibu tanpa otak di lututnya.

Karenamulah kami tahu, nama besar kadang hanyalah kaleng kosong berdenting nyaring
kecerdasan bukanlah warisan di dalam darah tapi pada amalan dan guru yang bijak.

Puisi Karya : Ismail Patahangi

Berikut puisi lengkap Sukmawati Soekarnoputri di Indonesia Fashion Week 2018:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.(*)

News Feed