by

Pandangan Anis Matta Terhadap Kondisi Global Dunia

Politik, Wartasulsel.net, – Saat ini kita dihadapkan pada suatu kondisi yang menjadi tantangan dan sekaligus menjadi panggilan sejarah. Tantangan eksternal yang kita hadapi sama besar dengan tantangan internal.

Tantangan eksternal adalah situasi dimana para pemimpin dunia mengalami disorientasi dan kegamangan dalam menghadapi krisis global, sementara di internal kita merasakan adanya ketidaksadaran terhadap ancaman global terhadap eksistensi gerakan dan negara.

Krisis global yang tejadi sejak 2008 menyebabkan negara- negara yang menjadi poros dunia seperti Cina, Rusia, Amerika dan Eropa menghadapi situasi yang sulit. Untuk menghadapi krisis tersebut dibutuhkan pemimpin yang kuat.

Cina misalnya, sejak 2010 GDP nya turun 13% dan tahun 2017 GDP-nya tinggal 6,9%. Untuk negara sebesar Cina kondisi ini merupakan ancaman terhadap stabilitas negara karena mengakibatkan, diantaranya menurunnya daya serap tenaga kerja Cina yang begitu besar.

Akibat situasi krisis ini, Xi Jinping mengambil 2 kebijakan utama, pertama, memperkuat militer Cina sebagai alat pemersatu bangsa, kedua, mengkonsolidasi elit-elit Cina dengan cara membersihkan elit-elit yang dianggap sebagai komprador asing.

Kongres Cina pada 11 Maret 2018 menghapus konstitusi tentang masa jabatan presiden sehingga presiden Xi Jinping dapat menjabat seumur hidup.

Sementara itu Rusia yang menyelenggarakan pemilu presiden pada 18 Maret 2018, memilih kembali Putin sebagai presiden Rusia sampai tahun 2024 dengan kemenangan telak (70%).

Turki juga dengan sekuat tenaga berjuang mengubah kostitusinya menjadi presidensial agar posisi kepemimpinan presiden di negaranya menjadi lebih kuat.

Jadi, dalam situasi krisis global ini, dunia membutuhkan model baru, arah baru, dan kepemimpinan yang kuat dalam menghadapi krisis global.

Sayangnya diinternal masih ada ketidaksadaran terhadap tantangan global ini yang juga menjadi tantangan terhadap eksistensi dakwah.

Dalam sejarah Islam, pada masa Daulah Abbasiyah terjadi krisis internal dan eksternal yang kuat. Di internal terjadi krisis kepemimpinan dan pemberontakan Bani Fatimiyah, sementara di eksternal terjadi invasi tentara salib dan mongol.

Dalam situasi krisis seperti ini muncullah sosok- sosok dari kalangan dinasti-dinasti kecil yang memimpin rakyat menghadapi krisis tersebut seperti Bani Saljuk, Salahuddin Al-Aiyyubi, dsb.

Situasi krisis yang kita hadapi sekarang ini adalah panggilan sejarah untuk kita. Sepertinya Allah telah menyiapkan kita untuk menghadapi krisis ini ketika kita dihadapkan pada badai yang menerpa gerakan dakwah menjelang pemilu 2014 dan berkat pertolongan Allah kita bisa melalui badai yang mengancam eksistensi dakwah tersebut.

Dan dalam skala negara, mental kita siap untuk itu, insya Allah. Siap memenuhi panggilan sejarah, yaitu panggilan penyelamatan.

Penyelematan gerakan dakwah dan negara. Jika kita dapat menyelamatkan negara yang lebih besar maka kita juga akan menyelamatkan gerakan dakwah.

Jadi, misi kita adalah misi penyelamatan. Untuk tujuan ini, yang pertama sekali harus kita perbaiki adalah niat kita. Jika niat kita untuk hal yang besar, kita yakin Allah juga akan menurunkan pertolongan yang besar.

Langkah kita ini bukan karena kepentingan personal saya (AM), tetapi saya adalah bagian dari kerja besar kita semua. Kita mengambil peran sesuai posisi kita masing-masing. Saya tekankan bahwa tidak ada kepentingan personal dalam misi ini.

Kesiapan ini harus kita tunjukkan bukan hanya dengan kerja cerdas, tapi juga kerja yang sangat agresif. Orang di luar harus menyaksikan betapa agresif dan radikalnya kita bekerja, karena hal tersebut adalah ukuran keseriusan kita.

Jika orang luar melihat agresifitas dan radikal dalam kita bekerja, ini akan membuat orang yakin. Kita tunjukkan kepada mereka, kalau kita punya keinginan, kita akan capai apa yang kita inginkan. Agresifitas dan radikal adalah bahasa orang lapangan.

Misi penyelamatan ini juga bermakna kita bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Dengan do’a kita yang tulus dan khusyuk, Allah akan membantu.

Bayangkan antum semua adalah Salahuddin al-Ayyubi yang menjadi penyelamat bagi gerakan dan negara.

Kalau kita ingin tunjukkan agresifitas maka kita harus tunjukkan akurasi yang tinggi yang menuntut kita untuk menghitung agar energi yang kita keluarkan berbanding lurus dengan impact yang kita dapatkan.

Perlu diperhatikan kerja-kerja yang hight impact dan efektif. Efektifitas adalah ukuran kinerja seseorang. Jika agresifitas dan efektifitas berpadu maka akan menjadi modal yang besar untuk kemenangan.

Kerja keras ini adalah pertanda baik bagi kita dalam menuntaskan misi. Perlu diperhatikan 3 kunci dalam jihad politik; kuasai lapangan, lakukan lobi yang efektif, dan do’a yang khusyuk.

Saat ini dunia Islam membutuhkan negara-negara yang menjadi penopang gerakan dakwah. Untuk menjadi negara pilar di kawasan setidaknya memenuhi 3 syarat: punya sumberdaya yang cuku, militernya kuat, dan aktifisnya punya pengalaman terjun di dunia politik.

Dalam hal ini yang berpotensi menjadi negara pilar penopang dakwah di Afrika adalah Aljazair, dan di Asia adalah Indonesia.

Apakah antum semua siap tempur!!!

(Fauzi, ditulis ulang dari taujih AM, 18/03/2018)