by

ISMEI KORWIL Jatim Gelar Dialog Di Universitas PGRI Kediri

WARTASULSEL.NET – Berbicara mengenai ekonomi tentu saja sudah menjadi perihal umum yang hari ini dijadikan banyak wacana oleh pemimpin negeri ini. Mengentaskan kemiskinan, berhitung pajak konglomerat dan melibatkan variabel politik untuk melakukan pembangunan infrastruktur guna menopang ekonomi wilayah merupakan kajian kajian umum ekonomi yang sering sekali dilakukan oleh kaum intelektual mahasiswa dan menjadi bacaan para pemimpin di negeri ini.

Jawa Timur sebagai poros peradaban ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap roda perputaran uang di indonesia, tentu saja mengalami berbagai macam dinamika yang kemudian mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang berujung kepada tingkatan kesejahteraan republik indonesia.

Namun pada kenyataanya kini, Jawa timur berada pada fase inkredibilitas ekonomi yang disebabkan oleh banyak faktor yang kemudian menjadi pembahasan renyah oleh kawan-kawan ISMEI jatim dalam dialog yang diselenggarakan di UNP kediri dan dihadiri 20 kampus se-jawa timur.

Beberapa masalah ditemukan dalam pembahasan tersebut. Pemerataan ekonomi yang berantakan hampir di semua kabupaten adalah masalah pertama yang ditemukan oleh kawan kawan ismei. Begitu juga pasar modern (mart) yang mulai mengikis pasar tradisional yang notabene menjadi lumbung padi masyarakat desa dan membuat perekonomian di desa kembali lagi ditindas oleh kaum kapitalis.

UMKM tak luput menjadi pembahasan kawan-kawan dengan melihat banyak sekali UMKM yang gulung tikar dan juga UMKM di banyak wilayah yang seakan hanya menjadi formalitas program kerja namun tidak ada upaya untuk optimalisasi UMKM berjalan maksimal atau bersaing di kancah daerah maupun nasional.

Pun yang menjadi menarik adalah pemberdayaan BUMDES hari ini yang tidak diupayakan dengan maksimal, yang seharusnya potensi desa harus diupayakan secara maksimal melalui BUMDES yang didanai oleh ADD (Anggaran Dana Desa).

Impor beras juga menjadi keresahan kawan-kawan ISMEI, mengingat Jawa timur adalah salah satu lumbung padi negara namun pemerintah pusat tetap saja ingin menerapkan impor beras yang kemudian lagi lagi mencekik para petani.

Pembangunan kualitas pemuda juga menjadi fokus kawan-kawan ISMEI. Menjelang isu demografi yang akan segera menerpa indonesia, tentu pemuda jatim hari ini harus meningkatkan kualitas untuk keberlanjutan peradaban jawa timur lebih baik dan sejahtera.

Dari temuan masalah tersebut, kami ISMEI Wilayah Jawa timur menegaskan ;

  1. Pemerintah jawa timur harus mengevaluasi dan memperkuat pemerataan ekonomi jawa timur yang tidak lagi bersemangat dan menyebabkan kesenjangan daerah.
  2. Membuat aturan baru untuk mempertegas batasan pembangunan pasar modern yang kian mengikis pasar tradisional
  3. Evaluasi besar besaran terhadap seluruh penanggung jawab UMKM yang tidak berkembang dan tidak optimal untuk maksimalisasi upaya ekonomi kerakyatan
  4. Penegasan terhadap pengelolaan BUMDES yang lebih massif untuk pemberdayaan potensi desa
  5. Menolak impor beras di wilayah jatim dan mengembangkan grand design untuk optimalisasi pengelolaan stok beras di wilayah jawa timur.

Demikian hasil dari pembahasan ekonomi di Jatim berdialog 2018 yang harus kita kawal bersama untuk terwujudnya masyarakat adil makmur di wilayah jawa timur dan menjadi ikhtiar sederhana kita semua sebagai mahasiswa dalam membangun negeri yang lebih baik. (fandy/ws)

News Feed