by

Aliansi Mapala Se-UNHAS Hari Ini Rencana Aksi Damai Minta Kembalikan Fungsi “Gunung Bawakaraeng”

Wartasulsel.net, Makassar – Gunung Bulu’ Bawakaraeng terancam hilang. Laju kerusakannya terus meningkat. Tak ada lagi udara segar, bau busuk dari tumpukan sampah memaksa kita harus menutup hidung rapat-rapat. Rill erosion (erosi alur) dan gully erosion (erosi parit) menjadi pemandangan hampir di sepanjang jalur/rute pendakian yang umumnya digunakan pengunjung.

Perilaku yang tak pantas terhadap tanah bersejarah telah menjadi tontonan yang justru malah didiamkan. Begitu juga kebakaran dalam 1 dekade terakhir yang terkesan dibiarkan hingga area sebaran api meluas hampir di sepanjang jalur pendakian. Sumber air untuk tujuh wilayah kabupaten provinsi Sulawesi Selatan pun terancam.

Dari beberapa hasil penelitian terhitung sejak 2017 lalu, disebutkan bahwa menyebarnya rill erosion dan gully erosion oleh karena aktifitas dan kunjungan para pengunjung yang bersifat massif-sporadis menyebabkan sejumlah titik (permukaan), telah membentuk kemiringan lereng tidak lebih dari 70 derajat. Kondisi ini diperparah dengan kebakaran hutan yang terjadi dalam kurun 3 tahun terakhir ditambah jumlah dengan intensitas kunjungan yang tidak terkendali sehingga menyebabkan hilangnya sebagian besar vegetasi di permukaan.

Hal ini tentu berbahaya jika tidak ada langkah mitigasi. Program wisata yang diusung pihak otoritas sangatlah tidak tepat, terlebih lagi kebijakan tersebut tidaklah melalui kajian akademis sebagaimana mestinya.

Maka dari itu terkait dengan permasalahan genting seperti yang digambarkan di atas, sekaligus dalam rangka “Peringatan Hari Gunung Bulu’ Bawakaraeng 26 Maret”, kami dari “Gabungan Mahasiswa Pencinta Alam Se-Universitas Hasanuddin” akan menyenggarakan aksi unjuk rasa untuk menyampaikan perihal kerusakan gunung bulu’ bawakaraeng kepada setiap elemen masyarakat, seluruh mahasiswa, media dan otoritas pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini dengan memberikan perlakuan yang seharusnya berupa perlindungan hukum demi keberlanjutan fungsi dan kedudukan gunung bulu’ bawakaraeng.

Lembaga yang terlibat: UKM PA KOMPAS FISIP UNHAS, UKM PA EQUILIBRIUM FE-UH, UKM PA EDELWEIS FIB-UH, ANOA PENCINTA ALAM Fak.Kedokteran Hewan UH, dan OMEGA Jurusan Fisika F-MIPA UNHAS.(berita rilis).