by

Skenario AHY Dalam Pilpres 2019

Oleh Stanislaus Riyanta

Nasional,  Wartasulsel. Net – Agus Harimurti Yudhoyono menjadi salah satu politisi muda yang cukup aktif dan agresif saat ini. Momentum tahun politik, Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019, dimanfaatkan oleh AHY dan Partai Demokrat untuk unjuk gigi, setelah pada Pilkada DKI 2017 yang lalu, AHY mengenalkan diri untuk masuk dalam dunia politik. AHY sebagai putra dari SBY yang pernah menjadi Presiden Indonesia selama dua periode (10 tahun), tentu mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk mengikuti jejak Ayahnya.

AHY mempunyai peran strategis di Partai Demokrat yang didirikan oleh SBY. Peran ini menunjukkan bahwa AHY akan menjadi kader partai yang akan menjadi andalan, dan kemungkinan besar, akan diusung oleh Demokrat dalam kontestasi Pilpres 2019. Jumlah kursi yang hanya 61 dari 560 atau sekitar 10%, belum cukup untuk menjadikan AHY sebagai Capres pada 2019 nanti. Koalisi dengan partai lain tentu juga akan berhadapan dengan dinamika politik yang belum tentu menguntungkan AHY yang tergolong masih muda dan baru dalam dunia politik, yang akan sulit untuk melangkahi para tokoh politik senior dan kawakan menjadi nomor 1.

Dari situasi politik yang ada saat ini diperkirakan ada tiga skenario yang terjadi terkait posisi AHY dalam Pilpres 2019. Skenario pertama adalah AHY berkoalisi dengan PDIP atau Joko Widodo. Sinyal skenario pertama ini terjadi semakin menguat akhir-akhir ini. Hubungan yang nampak lebih mesra antara Joko Widodo dengan Demokrat pada Rapimnas Demokrat pada bulan Maret 2018 menunjukkan koalisi AHY dengan Joko Widodo sangat besar. Joko Widodo yang merupakan orang sipil tentu dianggap lebih diuntungkan jika wakilnya mempunyai latar belakang militer, meskipun AHY terakhir hanya berpangkat Mayor. Namun menggandeng AHY maka sama saja akan mendapatkan SBY dan jaringannya yang cukup kuat, yang tentu sudah terbangun pada 10 tahun masa kekuasaan sebagai presiden.

Skenario Pertama ini sangat mungkin terjadi mengingat Joko Widodo memerlukan basis kekuatan latar belakang militer untuk menghadapi calon rival terkuatnya saat ini yaitu Prabowo Subianto. Kemungkinan AHY berkoalisi dengan Joko Widodo, namun tidak menjadi wakil, bisa saja terjadi. AHY yang masih muda bisa terlebih dulu disiapkan untuk menjadi pemimpin selanjutnya, dan 2019 nanti ditugaskan menjadi menteri  terlebih dulu. Skenario ini, menjadi cawapres atau calon menteri Joko Widodo, sangat realistis dan menguntungkan bagi AHY yang masih muda dan punya masa depan yang sangat panjang.

Skenario Kedua bagi AHY adalah membangun poros tengah. Artinya AHY tidak bergabung dengan koalisi yang mengusung Joko Widodo maupun Prabowo Subianto. Potensi AHY dengan Partai Demokrat untuk membentuk poros tengah sangat memungkinkan dengan PAN, PKS dan PBB. Poros tengah ini bisa terjadi dengan pertimbangan tertentu dan menjadi kuda hitam dalam Pilpres 2019 nanti.

Poros tengah ini kemungkinan besar Anies Baswedan sebagai Capres dan AHY sebagai Cawapresnya. Isu poros tengah yang sudah mulai gencar terjadi saat ini, bukan tidak mungkin kemudian menarik AHY untuk menjadi senjata andalan dalam pertarungan Pilpres/Cawapres 2019. Hal ini sudah diuji coba dalam Pilkada DKI. Bagaimanapun sebagai pendatang baru dan cukup muda, hasil di Pilkada DKI 2017 cukup bermanfaat bagi karir politik AHY berikutnya.

Resiko yang diambil apabila membentuk mengikuti poros tengah dan kalah, maka AHY akan kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari pemerintah. Kecuali bisa langsung membangun koalisi dengan pemenang dan mendapatkan peran sesuai dengan kesepakatan.

Skenario ketiga, dan paling sulit serta kurang menguntungkan adalah AHY berkoalisi dengan Prabowo Subianto. Saat ini Gerindra sebagai pengusung utama Prabowo Subianto sudah dipastikan akan berkoalisi dengan PKS. Dalam koalisi ini banyak tokoh yang berlatar belakang militer, tentu akan menjadi kurang nyaman bagi AHY berada di koalisi yang isinya para senior. Selain itu sangat kecil kemungkinan Prabowo Subianto mengusung cawapresnya dari orang dengan latar belakang militer, mengingat Prabowo sendiri adalah militer.

Pertimbangan lain adalah mitra koalisi yang cukup kuat dari Gerindra adalah PKS, yang tentu saja kemungkinan besar cawapres dari Prabowo adalah dari kalangan tokoh muslim yang diusung oleh PKS. Sinyal mengarah pada skenario ketiga ini juga paling lemah, atau bahkan belum muncul. Namun kemungkinannya tetap ada.

Tiga skenario di atas diperkirakan yang akan terjadi pada Pilpres 2019. Tentu saja apa yang akan terjadi diharapkan hasil dari Pilpres 2019 adalah yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Pilpres 2019 juga diharapkan semakin membawa Indonesia menjadi lebih sejahtera, aman, damai, dan berkualitas serta mempunyai peran penting di tingkat regional maupun global. Apapun skenarionya, paling utama bagi kegiatan politik adalah dilakukan dengan cara yang baik, dan untuk tujuan baik, sehingga sesuai dengan tujuan politik yaitu membawa masyarakat hidup lebih baik. (*)

*) Stanislaus Riyanta, mahasiswa Doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia.

News Feed