by

Sejarah Dan Asal Usul “Songkok Recca” Di Bone

WARTASULSEL. NET, – Songkok atau peci merupakan identitas bagi kaum lelaki  sebagai mahkota kehormatan. Selain mencerminkan kegagahan seorang, songkok juga kerap dijadikan sebagai simbol identitas adat dan kultur suatu daerah.

Di Kabupaten Bone sendiri, ada sebuah songkok yang menjadi identitas sekaligus pelengkap saat seseorang sedang menggunakan pakaian adat bugis, dan tidak bisa di pungkiri lagi tentang kharisma pemakai songkok ini, namun yang perlu di ketahui bahwa adanya aturan ketika kita akan memakai songkok peninggalan raja ini.

Membuat songkok ini menjadi amat sangat dihargai. Pada masa pemerintahan Raja Bone Ke-32 Lamappanyukki tahun 1931 songko recca’ menjadi semacam kopiah resmi atau songkok kebesaran bagi raja, bangsawan, dan para ponggawa-pongawa kerajaan.

Untuk membedakan tingkat kederajatan di antara mereka, maka songko’ recca dibuat dengan pinggiran emas (pamiring pulaweng) yang menunjukkan strata pemakainya.

Salah satu sebab terbuatnya songkok ini pada waktu itu raja bone ingin berperang melawan toraja, pada waktu itu raja menginginkan sebuah identitas bagi masyarakatnya sebagai tanda pengenal.

Dari situlah para pengrajin kerajaan mulai membuat songkok recca’  ini.
Perlu diketahui bahwa songkok yang menjadi identitas bugis Bone ini memiliki tiga nama sebutan yang berbeda yakni, Songkok Recca, Songkok Pamiring Ulaweng dan Songkok To Bone.

Hanya saja makna serta arti dari ketiga nama itu umumnya sama.
Mengenai aturan pemakaian, dibagi menjadi beberapa golongan seperti bagi bangsawan tinggi berstatus atau berkedudukan sebagai raja dari kerajaan besar dan bagi anak raja yang berasal dari keturunan Maddara Takku (berdarah biru), anak Mattola, anak Matase’, dapat menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat dari emas murni atau dalam istilah bugis Ulaweng bubbu.

Maka dari itu Songkok To Bone ini banyak memiliki makna dan pesan moral yang tinggi tentang nilai kehidupan sosial. Banyak pelajaran tentang kehidupan dari songkok Recca’ seperti pentingnya menghormati yang tua dan menghargai yang muda.

Hal Ini menunjukkan betapa tinggi dan berharganya nilai dari suatu budaya yang telah diwarisi oleh orang terdahulu.

Di Kabupaten Bone Songkok Recca/Songkok To Bone diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone. Di daerah tersebut terdapat komunitas masyarakat secara turun temurun menafkahi keluarganya dari hasil prosesi mengayam pelepah daun lontar ini yang dinamakan Songkok Recca/Songkok Pamiring/Songko’ To Bone.

Pentingnya mempertahankan budaya yang ada , karena mulai masuknya budaya-budaya asing, dan Kurangnya filterisasi terhadap budaya asing yang masuk ke daerah membuat budaya yang ada di tanah ini mulai luntur.

Membuat mereka buta akan sejarah, malu mengenakan pakaian adat, lebih memilih untuk mengenakan busana budaya luar yang nyatanya hanya akan merusak moral seseorang.

Berpengaruh negatif terhadap generasi muda yang kita harapkan agar tetap dapat mempertahankan budaya.(Yasin)

News Feed