Eksplorasi Pulau Paling Luar di Ujung Selatan Indonesia

Opini410 views

WARTASULSEL.NET, – “Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote”

Masih lekat dalam ingatan sepenggal lirik dari lagu iklan mie instan yang populer di era 90-an. Lagu tersebut mengingatkan kita betapa luasnya Indonesia dengan ribuan pulau beserta keindahan alamnya.

Daeng Manye

Begitu juga dengan Pulau Rote, pulau paling selatan di Indonesia yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) serta berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan Australia.

Terkenal di lagu iklan mie instan, tapi nama Pulau Rote tak sepopuler Bali, Yogyakarta atau Raja Ampat bagi turis lokal. Lucunya, lebih banyak turis mancanegara yang mengenal pulau seluas 1.200 kilometer persegi ini.

Saya berkesempatan untuk mendatangi pulau gersang yang cantik ini untuk urusan pekerjaan pada saat ini.

Untuk bisa sampai ke Pulau Rote, saya menumpang pesawat dari Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar sampai ke Bandara El-Tari di Kupang, NTT. Durasi penerbangan sekitar lima jam, sudah termasuk transit di Surabaya.

Dari Bandara El-Tari, saya harus kembali menjalani penerbangan singkat menggunakan pesawat kecil, selama sekitar 15 menit, untuk mencapai Bandara David Constantine Saudale di Pulau Rote.

Dari Kupang ke Pulau Rote, hanya tersedia dua penerbangan setiap harinya, yakni pukul 6.30 dan pukul 15.00. Jadi, tinggalkan kebiasaan ngaret sebelum berencana liburan ke sana.

Kebetulan saya mendapatkan jadwal penerbangan terakhir untuk bisa sampai Pulau Rote dan singgah selama dua hari di sana. Dari atas pesawat, matahari sore menyinari lahan gersang Pulau Rote yang sekilas mirip Afrika. Jangan harap melihat sawah menghijau seperti dalam lukisan krayon anak SD.

Sebelum datang, saya sudah lebih dulu memesan hotel dan mobil sewa untuk menginap di Pulau Rote.

Belum ada jaringan hotel mewah yang beroperasi di sini. Jadi turis bisa menginap di rumah penduduk yang disulap jadi penginapan. Tarifnya sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Harga yang masih terhitung murah untuk di wilayah Timur.

Sesampainya di Bandara David Constantine Saudale, saya sudah dijemput oleh mobil sewa. Tarifnya sekitar Rp700 ribu per hari, sudah termasuk supir dan bensin.

Di dalam mobil saya merasakan kalau aspal jalanan di pusat kota Pulau Rote sudah sangat halus, tak heran kalau banyak kendaraan yang memacu kecepatannya. Tapi, sang supir mengatakan kalau dirinya cenderung tak ingin ngebut, karena banyak anjing dan babi peliharaan masyarakat yang berkeliaran.

Sang supir lanjut bercerita kalau nama ‘rote’ berasal dari seorang pelaut Portugis yang sempat datang ke sini pada zaman penjajahan lampau.

Ketika itu sang pelaut sambil berbahasa Portugis mengenalkan dirinya sebagai ‘Rote’ kepada warga yang ditemuinya.

Kedatangan pelaut Portugis ke Pulau Rote menunjukkan kalau pulau ini sangat strategis. Hasil lautnya kaya, begitu juga dengan potensi wisata perairannya.

Bupati Pulau Rote Leonard Haning mengatakan kalau pulaunya memiliki ombak paling tinggi di dunia setelah Hawaii. Pantas saja di bandara banyak turis mancanegara yang hilir mudik membawa papan selancar.

Setiap tahunnya, peselancar dunia mendatangi Pulau Rote, tepatnya Pantai Namberala di Kabupaten Rote Ndao, untuk menaklukan ombak.

Usai menaruh barang bawaan di tempat menginap yang tak jauh dari pusat kota, saya langsung minta supir untuk diantar ke Pantai Nembrala, yang berjarak perjalanan sekitar satu jam.

Hamparan padang tandus menghibur mata sepanjang perjalanan ke sana. Dalam hati saya bergurau, pemandangan ini kurang dihiasi jerapah dan macan, sehingga mirip dalam tayangan National Geographic.

Di setengah perjalanan, aspal mulai terasa bergelombang. Di sinilah tantangannya berwisata di Timur Indonesia, karena kondisi aspalnya sulit ditebak.

Sampai di Pantai Nembrala, saya melihat banyak bangunan penginapan sederhana yang berjejer. Rupanya itu milik warga negara asing yang juga dikelola masyarakat setempat. Sang supir mengatakan kalau banyak turis mancanegara yang datang berwisata, pulang, lalu kembali untuk tinggal di Pulau Rote.

Pantai Nambrela memang benar ada di depan Indonesia. Dari bibir pantai, saya melihat samar gedung-gedung di kota Perth, Australia.

Di dekat Pantai Nembarala, ada Pantai Bo’a. Namun, “kaum receh” tak bisa masuk ke sana, karena katanya pantai itu dimiliki keluarga mantan presiden paling berkuasa di Indonesia. Hanya kenalan, tetangga, atau yang berdompet tebal yang bisa merasakan kecantikan di sana.

Menghabiskan hari di Pulau Rote terbilang menyenangkan. Banyak hal baru yang bisa dieksplorasi, terutama soal kuliner dan wisata.

Sampai saat ini saya masih berada di Nusa Tenggara Timur tepatnya di Alor Islands untuk meneruskan pekerjaan. (*red/ginzoel)