by

Santo’ Dan Dunia Yang Dibenturkan

oleh : KAMARUDDIN AZIS*)

 

WARTASULSEL.NET, – Dari santo’ ke baguli, Dalam bahasa Makassar (sebagai Suku), ketika seorang anak naik ke punggung kawannya, lalu dia memegang pundak yang dinaiki, yang dinaiki memegang paha yang naik, maka itu disebut nidenge’. Saya sukar menemukan kata dalam bahasa Indonesia, bukan dibopong, bukan dipapah apalagi dipangku.

 

Denge’ adalah ungkapan dalam permainan santo’. Permainan yang saya sukai antara tahun 70-80an di Kampung Jempang, Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan. 20an kilometer ke selatan Kota Makassar sekarang.

 

Seseorang yang di-denge’ akan diminta melempar dan menyesar lempengan batu dengan lempengan batu yang serupa. Biasanya pecahan periuk tanah. Persegi, ukuran antara 7-10 cm. tak beraturan sebab dia dibentuk dengan membenturkan satu sama lain.

 

Permainan melempar lempengan pecahan periuk tanah itu, kemudian yang melempar di-denge’ adalah permainan yang mengasikkan. Kadang ada tiga pasangan dan saling berlomba menuntaskan perlombaan dengan berusaha memukul lempengan lainnya yang dipasang di permukaan tanah dengan posisi vertikal.

 

Keceriaan dan rasa puas nampak ketika yang kalah harus men-denge’ yang lain, berputar dan dirubung canda tawa. Saya tak pernah melihat atau memboyong memori buruk dari permainan ini, misalnya perkelahian atau dendam.

***

 

Selain permainan benturan lempeng pecahan periuk ada pula permainan bermodal benturan kayu seperti yang juga tak kalah mengasikkannya, kami sebut ‘accangke’. Cangke’ dicirikan oleh bentukan lubang di tanah berbentuk lurus ke depan, tempat mengalang potongan kayu seukuran 10 cm.

 

Permainan bermula ketika pemukul pertama mencungkil dorong sejauh mungkin. Lawan akan mengambil potongan kayu yang terlempas ini untuk dilempar ke pencungkil yang dipasang membentang di atas lubang tadi.

 

Jika tak kena, maka yang mencungkil akan memukul potongan kayu tersebut. Semakin jauh semakin bagus sebab dari titik itulah, dia akan menikmati keceriaan permainan, sebagai hukuman bagi yang tidak bisa mengenai kayu, akan didenge’ oleh si pencungkil.

 

Permainan benturan di atas, bukan hanya di santo’ dan cangke’ tetapi juga kelereng, meski yang ini merupakan transformasi modernitas dan industrialisasi (cieee!). Disebut demikian sebab permainan mulai menggunakan bahan kaca, kelereng adalah produksi industri pembuat kaca. Bentuknya seperti peluru kaca. Lumayan berat dan bisa bikin benjol kepala kalau kena.

 

Dalam bahasa Makassar disebut baguli’. Ada banyak variannya. Baguli’ dipasang berbasis. Biasanya antara 4 hingga 10. Kadang, para pemain yang punya banyak kelereng akan memasang sesuai hasrat dan keyakinan menang.

 

Semakin banyak barisan, biasanya semakin banyak pemain, semakin jauh pula mereka mengambil ancang-ancang untuk menyasar kepala atau ulu. Jika ada pemain 5 orang misalnya. Maka mereka bergiliran memilih tempat menembak.

 

Ada yang memilih katakanlah 5 meter dari barisan kelereng, ada juga 6 meter, bahkan 10 meter jika tidak ingin didahului dalam memulai lemparan. Yang ini biasanya sangat yakin bisa menyasar kelereng, bisa kepala, badan atau mungkin ekor barisan.

 

Bagi yang tak berani, biasanya akan mengatakan berhenti, resteng atau mantang. Yang berhasil mengenai kepala akan mengambil semua pengikut barisan, dari leher (kallong) hingga ujung (cappa’na). Jika pemukul pertama dapat kallong maka pemukul berikutnya harus mengeluarkan jurus terbaik untuk merontokkan satu kepala tersisa.

***

 

Kawan saya yang tinggal di Depok, menemukan betapa ‘abbaguli’ sebagai permainan yang mengasikkan di Pulau Kondongbali sekira lima tahun lalu ketika kami bertandang di pulau lepas pantai Kota Pangkaje’ne, Sulawesi Selatan.

 

Mengasikkan sebab ada unsur gambling dan berpuas diri di dalamnya. Karenanya kami tak kaget ketika ada dua orang anak yang baku hajar karena permainan itu. Tapi poinnya bukan di situ, sebab yang namanya permainan pasti akan melahirkan perasaan ‘tak beruntung’, merasa dirugikan, merasa dipecundangi atau bahkan didominasi secara pikiran dan fisik.

 

Poin yang lebih penting adalah betapa kini, permainan santo’, cangke’ atau abbaguli nyaris tiada lagi di kota-kota besar. Hal yang tidak lagi ditemukan oleh kawan kita ini, termasuk di Kota kelahiran sahabat kita itu, di Makassar.

 

Halaman-halaman rumah dan ruang publik untuk bermain pasrah di’reklamasi’ (ditutupi semen) dan dibetoni untuk tempat parkir dan ruang-ruang komersil. Dengan melempar batu jauh dan addenge’ kemudian tentu membutuhkan space yang luas. Belum lagi kerumunan penonton yang kadang ikut mengantri untuk masuk barisan.

 

Dilema generasi

Generasi kita, saat ini adalah generasi yang menemukan ruang bermain tanpa tanah, tanpa kayu, tanpa lempengan pecahan periuk tetapi dunia maya. Tanpa cangke’, baguli atau santo’. Mereka memilih main game online dan kawan-kawan dunia maya yang palsu melalui perwajahan dan simbol-simbol. Dengan avatar dan istilah-istilah asing.

 

Mereka kini menyasar lempengan periuk atau potongan kayu dengan rentetan senapan, dengan hantaman jab atau hook kiri virtual, mereka melumpuhkan lawannya dengan tendangan dan kibasan pedang.

 

Mereka menyeringai dan tertawa dengan menghabiskan uang jajan, uang pemberian orang tua, tabungan, atau sedang sakaw, mereka tidak sungkan-sungkan melukai orang lain agar uang berpindah ke sakunya.

 

Generasi seperti itu rupanya sebangun dengan yang menentukan boleh tidaknya punya lahan publik, bisa tidaknya membuat wahana sosial atau wahana ekonomi belaka.

 

Generasi virtual atau dunia maya tersebut mentalnya sebangun dengan para pengambil kebijakan yang tak lagi sukarela membuka mulut untuk tertawa lepas, memperlihatkan gusi untuk tertawa dan bersenang-senang tanpa harus bicara proyek.

 

Generasi muda harapan bangsa kita sebegitu nelangsa dari sisi kemanusiaan karena para pengambil kebijakan tak lagi bijak menyiapkan sumber daya, dana, dukungan untuk mereka bisa kembali ke ‘kampung’, menengok asal usul melalui kreativitas program dan kegiatan.

 

Para perencana pembangunan yang diharapkan peduli pada aspek kohesi sosial dan solidaritas tak lagi ‘sarjana’, mereka mengabaikan nilai-nilai dan pentingnya kerjasama. Yang ada dipikirannya adalah membenturkan antara si kaya dan si miskin.

 

Membenturkan antara yang bersih dan jorok, membenturkan antara yang bermotor dan jalan kaki, membenturkan antara yang punya gedung dan bangunan kumuh, membenturkan antara pantai-pantai yang ditimbun dan kampung-kampung yang airnya menghitam.

 

Membenturkan antara motif pembangunan dan menerima apa adanya, membenturkan antara yang buang air besar di pantai dan buang air besar di kloset-kloset mahal dan mawah, membenturkan antara yang sekolah tinggi dan yang hanya jadi petani atau nelayan.

 

Membenturkan antara yang sekolah tinggi dan hanya ‘tamat’ di penggembalaan sapi, di tepi laut, di kolong jembatan. Membenturkan… Ah, sudahlah. (zoel)