by

Sosok Di Balik Slogan “NKRI Harga Mati”

WARTASULSEL.NET, – Di usia 91 tahun meninggal seorang ulama asal Klaten, KH Moeslim Rifa’i Imampuro atau yang biasa dikenal dengan nama Mbah Liem. Terhitung dari bulan mei kemarin, 5 tahun 3 bulan yang lalu ia meninggalkan 9 anak dan 18 cucu. Mbah Liem juga telah mendirikan Pesanteran Al Muttaqien Pancasila Sakti dan Kampus Kader Bangsa.

 

Dia juga peduli terhadap kerukunan antarumat beragama. Dia merintis Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia di kompleks pesantren. Mbah Liem selalu mewajibkan menyanyikan Indonesia Raya sebagai lagu pembuka setiap kegiatan kepada para santrinya, di masjid pondok pesantrennya Mbah Liem, setiap setelah iqomat sebelum shalat berjama’ah dilaksanakan, para santrinya diwajibkan membaca do’a untuk umat Islam, bangsa dan negara Indonesia, semua itu adalah bentuk kecintaannya dan konsistensi kepada NKRI Pancasila.

 

Mbah Liem beberapa kali menyambut tamunya dengan sarung dan lengan panjang murahan. Terkadang juga mengenakan topi kebanggaannya yang telah usang. Pernah pula dia dengan sepeda motor tuanya membonceng Iwan Fals musisi legendaris. Mbah Liem berbaju koko, bersarung dan bersepatu boot Saat bersama Iwan Fals di panggung, semua itu hanya sebagaian perilaku nyentrik Mbah Liem yang ditunjukkannya.

 

Kenyentrikan Mbah Liem itu juga diimbangi dengan pribadi yang sederhana, ia senang memakai topi saja atau topi dikalung sorban macam petani, jangan salah di dalam kesederhanaannya itu, Mbah Liem merupakan tokoh yang disegani. Banyak pejabat yang menemui Mbah Liem untuk minta pencerahan, setiap dalam menghadapi keruwetan politik.

 

Mbah Liem dikenal sangat dekat dengan Gus Dur. Bahkan jauh sebelum Gus Dur menjadi presiden, karena keakraban antara keduanya, banyak orang mengatakan Mbah Liem merupakan guru spiritual Gus Dur.

 

“Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati”, itulah kalimat beliau dalam tiap pidatonya, yang selalu berhubungan dengan bangsa dan negara adalah judul utama pidato Mbah Liem. Sejak itulah dan seiring berjalannya waktu. “NKRI Harga Mati menjadi” slogan, di kalangan NU serta beberapa pihak seperti TNI mengenal slogan tersebut. Sampai saat dan detik ini seringkali kita dengarkan, ucapkan, maupun membacanya frasa “NKRI Harga Mati”.

 

(Red ws/M.Agus)