by

Isu SARA Diprediksi Warnai Pilpres 2019

Jakarta, Pemilu untuk memilih Presiden akan dilaksanakan 2 tahun lagi. Berbagai ancaman diprediksi akan merwarnai Pilpres 2019. Hal ini sudah terbukti sebelumnya pada Pilkada DKI yang menyebabkan polarisasi masyarakat berbasiskan SARA. Jika isu SARA terjadi lagi pada Pilpres 2019 maka situasi menjadi panas dan tidak kondusif.

Saat ini sudah mulai bermunculan konten-konten yang mengandung SARA di media sosial dan media massa. Konten SARA tersebut jika diamati bertujuan untuk menyudutkan pihak tertentu. Salah satu konten yang sekarang sedang marak adalah isu komunisme dan isu anti Islam.

Penggunaan isu SARA dalam berpolitik akan berakibat perpecahan dan kegaduhan. Kasus ucapan Arief Puyuono dan Victor adalah bentuk politik yang tidak sehat karena menggunakan isu komunisme dan SARA. Masing-masing korban dari ucapan kedua tokoh tersebut sudah melakukan laporan ke kepolisian.

Dalam dua tahun ke depan diperkirakan peristiwa seperti yang dilakukan oleh Arief (Gerindra) dan Victor (Nasdem) akan sering terjadi. Selain membuat keresahan dan kegaduhan, hal ini juga akan merepotkan pihak kepolisian, mengingat peristiwa itu akan masuk dalam ranah hukum.

“Penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU perlu membuat rambu-rambu yang tegas. Jika ada tokoh politik yang menggunakan isu komunisme dan SARA harus ditindak dan diberi hukuman. Jika perlu hak untuk dipilih dari pelaku tersebut dicabut” ujar analis intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta, di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia ini menyatakan bahwa “Tanpa sangksi yang tegas dari KPU, maka politik kotor yang menggunakan isu SARA dan komunisme akan terus terjadi dan hal ini adalah titik awal perpecahan dari bangsa Indonesia”. (*mo)