by

Renungan Ramadhan : “Menggapai Prestasi Di Bulan Ramadhan”

WARTASULSEL.NET, – Rasa haus,lapar dan godaan untuk menahan nafsu merupakan hal yang pasti dirasakan bagi orang yang berpuasa tidak dari sedikit dari mereka yang menjadikan puasa Ramadhan sebagai dalih untuk tidak melaksanakan aktivitas seperti biasanya, misalnya, mengurangi jam bekerja,semangat bekerja menurun, bahkan memperbanyak jam tidur.

Namun, bagi umat muslim yang baik,berpuasa di bulan Ramadhan tidak menjadi halangan untuk tidak melakukan aktivitas seperti biasanya.bahkan,mereka justru lebih produktif bekerja dan memperbanyak ibadah.baginya bulan Ramadhan merupakan peluang besar untuk menggapai prestasi dalam ibadah di sisi Allah SWT.

Begitu pula yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya pada peristiwa perang badar. Umat islam dapat meraih kemenangan dalam peperangan itu, padahal kondisi umat islam pada saat itu sedang menjalani puasa Ramadhan. Bahkan jumlah umat islam dibanding kafir Quraisy sangat tidak seimbang. Pasukan islam di bawah pimpinan Rasulullah SAW hanya berjumlah 300 pasukan, sedangkan tentara Musyrikin Makkah sebanyak 1000 pasukan.

Disamping itu,sejarah juga mencatat berbagai prestasi kemenangan umat islam ketika bulan Ramadhan, salah satunya adalah Fathul Makkah yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 H. Saat itu Rasulullah SAW keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dalam keadaan berpuasanya, namun Makkah dapat jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa pertumpahan  darah, penaklukan itu menjadi sejarah yang tidak pernah dilupakan dalam perjuangan islam.

Banyak orang yang berfikir bahwa puasa dapat  melemehkan fisik dan menguras tenaga, namun tidak untuk semangat beribadah dan berjihad yang dimiliki umat islam terdahulu. Puasa yang dilakukan menjadi motivasi yang kuat dalam berperang untuk mencapai kemenangan. Pada dasarnya perang bukanlah pekerjaan yang ringan,karena perlu adanya mental dan fisik yang kuat, namun bila berkaca dari peristiwa tersebut, Nabi dan Para Sahabat tidak pernah mengajarkan bahwa puasa merupakan asalan untuk bermalas –malasan dan mengurangi aktivitasnya.

Bercermin dari sejarah di atas, maka sebuah kekeliruan bila terdapat persepsi bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang sering kali digunakan untuk beristirahat. Justru sebaliknya, bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh semangat bagi kaum muslimin untuk berjihad, beribadah dan mengukir prestasi. Ada baiknya kita semua kembali merenung Sabda Rasulullah Saw  “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa – apa kecuali rasa dahaga dan lapar belaka “.

PUASA MENINGKATKAN PRESTASI

Bila membicarakan soal kinerja, justru puasa bisa meningkatkan kinerja untuk semakin berprestasi. Hal tersebut disebabkan waktu kita tidak terbuang untuk hal- hal lain seperti sarapan, makan dan minum disiang hari. Dengan kata lain, akan lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang produktif sehingga peluang untuk mencapai apa yang diharapkan semakin tinggi, misalnya sehabis sahur dan setelah shalat shubuh merupakan waktu yang ideal untuk menuntut ilmu, perencanaan, menulis, merapikan pekerjaan, mempersiapkan diri dan lain sebagainya.

Tidak hanya prestasi di dunia saja yang digapai, melainkan prestasi diakhirat juga penting untuk dicapai. sungguh, sangat disayangkan bila waktu hanya dihabiskan untuk memperpanjang tidur. Sebab, Bulan Ramadhan adalah bulan yang hanya ada setahun sekali, di mana pada bulan tersebut terdapat limpahan rahmat dari Allah SWT, sehingga waktu yang sangat tepat untuk untuk meningkatkan berbagai kegiatan dan beribadah.

Ada baiknya waktu tersebut di isi dengan mempelajari ilmu agama, membaca Al Qur’an,menghadiri majelis, bersedekah, shalat tarwih berjamaah dan ibadah lainnya. Dengan demikian, prestasi dunia dan akhirat pun dapat dicapai.

MELAWAN HAWA NAFSU DAN RASA MALAS

Kehadiran bulan Ramadhan yang hanya ada setahun sekali bukanlah bulan untuk bermalas – malasan.sayangnya,tidak sedikit orang yang menilai demikian.bulan yang penuh rahmat ini,seringkali dianggap sebagai kendala untuk melakukan aktivitas.padahal,meskipun tubuh kita tidak mengkonsumsi makan dan minum bukan berarti semangat dalam menjalankan ibadah dan bekerja menjadi turun.

Dalam sejarah indonsia, Presiden Soekarno memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia dari Penjajahan,saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan,bulan dimana bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim harus menjalankan ibadah puasa.tentu untuk mendapatkan kemerdekaan bukanlah hal yang mudah,melainkan butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar.perang Ain Jalut yang terjadi pada bulan Ramadhan 658 H.saat tentara Tartar memasuki Bagdad,banyak kaum Muslimin yang menjadi korbannya.

Musibah ini di sambut oleh Saifuddin Qutz,pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semua kekuatan kaum muslim untuk menghancurkan tentara Tartar dan bertemu dengan mereka di Ainun Jalut.peperangan ini turut disertai oleh istri Saifuddin Qutuz,Jullanar yang akhirnya syahid di medan pertempuran.perang ini kemudian dimenangkan oleh pasukan Islam dengan gemilang.berdasarkan sejarah di atas,perlu dipahami bahwa meskipun saat itu adalah bulan Ramadhan,namun umat islam tetap berjuang melawan tentara musuh.

Jadi, pada dasarnya puasa sama sekali tidak menghalangi pekerjaan dan produktivitas seseorang.begitu pula pada zaman sekarang,meskipun tidak melawan penjajah,namun kita harus tetap melawan rasa malas dan nafsu diri sendiri agar dapat meraih kemenangan dan prestasi dunia- akhirat.oleh sebab itu,umat islam harus menyadari bahwa puasa di bulan Ramadhan sebagai kesempatan untuk menggapai prestasi yang telah duberikan Allah SWt.sehingga kita dapat menjadi pemenang saat Ramadhan dan tetap mempertahankan kemenangan itu di luar Ramadhan.
Syarifuddin Liwang
(Bendahara Imas Makassar dan Founder “Posko Yatim”)

(red-ws)